Menerawang Nasib NFT di 2023, Bangkit atau Terus Redup?

Share :

Portalkripto.com — Nonfungible token (NFT) mencapai masa kejayaannya pada 2021 saat ekosistem kripto sedang bullish. Di sepanjang 2021, tercatat ada 1,5 juta NFT yang terjual di pasar sekunder.

Tren positif berlanjut pada Q2 2022, saat volume penjualan mingguan NFT mencapai $6,2 miliar pada akhir Januari. Volumenya bahkan naik menjadi $146,3 miliar di awal April 2022, yang langsung menjadi titik tertinggi sepanjang masa.

Aset digital yang digunakan sebagai bukti kepemilikan suatu barang ini melonjak terlalu tinggi dan akhirnya tergelincir pada Mei, saat crypto crash dimulai. Q3 dan Q4 2022 dengan cepat mengubah musim semi menjadi musim dingin bagi NFT.

Melorotnya harga Ether (ETH) dan banyaknya insiden fraud di industri kripto menurunkan kepercayaan kolektor dan memaksa mereka untuk berpaling dari NFT. Namun, bagi orang-orang yang berpendirian teguh, inilah waktu yang tepat untuk membuka mata, melihat NFT bukan dari hype, melainkan dari utilitasnya.

Proyek-proyek NFT di 2023 dinilai akan memberikan manfaat yang dapat dirasakan kolektor secara nyata, bukan hanya untuk dipamerkan dan dijual kembali demi keuntungan semata.

Gelombang Adopsi NFT di 2023

Coinbase Institusional dalam laporan berjudul ‘2023 Crypto Market Outlook’ menyatakan, adopsi NFT saat ini sebenarnya masih dalam tahap awal. Tren penurunan di sepanjang 2022 merupakan bagian dari siklus ekosistem yang sehat demi adopsi yang lebih besar di masa depan.

NFT tak hanya berfokus pada bentuk image atau JPG seperti yang dikenal luas dalam hype-nya di 2021. Tren NFT image mulai pudar, begitu pula dengan koleksi populernya, seperti CryptoPunks dan Bored Ape Yacht Club (BAYC), yang mengalami penurunan price floor secara signifikan.

NFT memiliki power yang lebih dari itu. Power ini yang kemudian dimanfaatkan oleh brand-brand ternama untuk melakukan branding, menggaet pelanggan, dan memberikan rewards.

Pada September 2022, Starbucks meluncurkan program loyalitas yang didukung NFT. Adidas meluncurkan NFT yang bisa ditukar dengan merchandise.

Klub basket New York Knicks memberikan penawaran akses ekslusif ke pertandingan kandang bagi pemegang NFT-nya. Perusahaan perhiasan Tiffany & Co. bahkan berkolaborasi dengan CryptoPunks untuk membuat NFT yang bisa ditukar dengan perhiasan edisi terbatas bertema punk.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan NFT sebagai media pemasaran yang efektif sekaligus memperkenalkan orang-orang non-kripto ke ranah ini.

Satu lagi koleksi NFT yang berhasil mencuri perhatian karena terus tumbuh meski pasar bergejolak, yaitu Ethereum Name Service (ENS). ENS merupakan contoh kegunaan NFT di luar karya seni berbentuk image.

ENS merupakan layanan pembuatan dan pembaruan nama domain .eth yang dibangun di atas jaringan Ethereum dan bisa dijual sebagai NFT. Alih-alih memberikan alamat wallet Ethereum yang panjang kepada orang lain untuk menerima transaksi, pengguna hanya perlu memberikan nama domain .eth mereka.

Registrasi domain ENS bulanan. (sumber: Dune Analytics)

Di masa depan, gelombang adopsi NFT dapat didorong oleh bentuk utilitas yang berkaitan dengan hak milik virtual (digital property right). Utilitas seperti ini dinilai bisa menghilangkan citra NFT sebagai aset spekulatif yang hanya fokus pada keuntungan.

GameFi dan NFT

Lalu bagaimana dengan perkembangan NFT bagi video game? Ekosistem GameFi dibangun di atas teknologi blockchain dan jenis play-to-earn akan memberikan rewards kepada pemain dalam bentuk NFT.

NFT yang diberikan biasanya berbentuk lahan virtual, kostum, dan senjata. NFT-NFT tersebut dapat diperjualbelikan dan bahkan disewakan sehingga bisa memberikan pendapatan pasif bagi pemain.

GameFi sangat bergantung pada NFT terkait aset di dalam game sehingga ikut berkontribusi besar terhadap kebangkitan industri NFT pada 2021. Saat GameFi kehilangan momentum pada 2022, NFT semakin terpuruk.

Jika pada 2023, pengembang GameFi mampu meningkatkan grafik permainan dan profitabilitas, bukan tak mungkin NFT ikut terdorong ke masa keemasannya kembali.