Mengenal LUNA, Aset Crypto yang Cetak ATH di Tengah Badai

Portalkripto.com– Aset kripto native dari jaringan Terra, LUNA, mencatatkan keuntungan yang fantastis di saat pasar secara umum sedang berantakan. LUNA mencetak all time high (ATH) di pekan ini di level $ 95,14. 

Token ini berhasil meraup keuntungan selama sepekan sebesar 58,45%. LUNA menjadi salah satu token paling menguntungkan di akhir bulan Desember ini setelah AVAX, MATIC, dan HBAR. 

Berdasarkan kapitalisasi pasarnya, LUNA saat ini bertengger di posisi 9 Coinmarketcap dengan perolehan $34,7 miliar. 

Lantas, apa itu LUNA dan apa kegunaannya?

Berdasarkan whitepaper-nya, LUNA merupakan token staking asli protokol Terra. Luna digunakan untuk governance dan pertambangan dalam protokol jaringan Terra. 

Adapun, protokol Terra merupakan  protokol blockchain publik terdesentralisasi dan open-source terkemuka untuk stablecoin algoritmik. Protokol ini menciptakan stablecoin yang secara konsisten melacak harga mata uang fiat apapun. 

LIHAT JUGA: Bitcoin Nyaris Pullback, Harga $ 49 ribu Adalah Kunci Untuk Lanjutkan Tren Positif

Pengguna dapat membelanjakan, menyimpan, memperdagangkan, atau menukar stablecoin Terra secara instan, semuanya di blockchain Terra. Luna memberi pemegangnya imbalan yang dipertaruhkan dan kekuatan governance. 

Ekosistem Terra berkembang pesat di antara pesaingnya yang menggunakan  jaringan aplikasi terdesentralisasi, karena permintaan stablecoin Terra mempengaruhi peningkatan harga Luna.

Hingga saat ini, Terra telah menjalin sejumlah kemitraan dengan platform pembayaran, terutama di kawasan Asia-Pasifik. Pada Juli 2019, Terra mengumumkan kemitraan dengan Chai, aplikasi pembayaran seluler berbasis di Korea Selatan. 

Kemitraan ini menjadikan blockchain Terra menyimpan pencatatan penjualan dan pembelian di aplikasi di platform e-commerce. Setiap transaksi dikenakan (rata-rata) biaya 2%–3% yang dibebankan kepada pedagang.

Selain itu, Terra didukung oleh Terra Alliance, sekelompok bisnis dan platform yang mengadvokasi adopsi Terra. Pada Februari 2019, perusahaan mengumumkan bahwa platform e-niaga dari 10 negara berbeda, yang mewakili basis pengguna 45 juta dan nilai barang dagangan kotor $25 miliar, adalah anggota aliansi.

LIHAT JUGA: Dua Alasan Solana akan Menjadi Aset Paling Diperhitungkan di 2022

Siapa Pendirinya?

Jaringan ini  didirikan pada Januari 2018 oleh Daniel Shin dan Do Kwon. 

Sebelum mengembangkan Terra, Shin ikut mendirikan dan memimpin Ticket Monster, atau dikenal sebagai TMON — platform e-commerce utama Korea Selatan. Dia kemudian mendirikan Fast Track Asia, sebuah inkubator startup yang bekerja dengan para pengusaha untuk membangun perusahaan yang berfungsi penuh.

Kwon sebelumnya mendirikan dan menjabat sebagai CEO Anyfi, sebuah startup yang menyediakan solusi jaringan mesh nirkabel terdesentralisasi. Dia juga bekerja sebagai insinyur perangkat lunak untuk Microsoft dan Apple.

 

PENULIS: IQBAL LAZUARDI/PORTALKRIPTO.COM