Bos INDODAX Bagikan 5 Tips Keamanan Kripto, Investor Wajib Tahu

tips keamanan crypto
Share :

Di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber terhadap industri aset digital, CEO sekaligus Co-Founder INDODAX, William Sutanto, mengingatkan para pengguna kripto untuk memperkuat keamanan aset dan akun mereka.

Melalui unggahan di akun X pribadinya, @WilliamSutanto, William membagikan lima langkah sederhana yang dapat diterapkan investor maupun pengguna kripto untuk mengurangi risiko pencurian aset digital.

Menurutnya, keamanan kripto tidak hanya bergantung pada sistem yang digunakan oleh exchange atau penyedia layanan wallet. Pengguna juga perlu memahami cara melindungi akun, perangkat, dan akses terhadap aset digital miliknya.

Berikut lima tips keamanan kripto yang dibagikan William Sutanto.

1. Aktifkan 2FA dan Jangan Bagikan Informasi Rahasia

Langkah pertama adalah mengaktifkan fitur autentikasi dua faktor atau Two-Factor Authentication (2FA). Fitur ini memberikan lapisan perlindungan tambahan ketika pengguna masuk ke akun atau melakukan aktivitas tertentu.

William juga mengingatkan agar pengguna tidak membagikan password, kode OTP, maupun seed phrase kepada siapa pun.

Seed phrase merupakan rangkaian kata yang berfungsi sebagai kunci pemulihan wallet kripto. Jika informasi tersebut jatuh ke tangan orang lain, mereka berpotensi memperoleh kendali atas aset yang tersimpan di dalam wallet.

BACA JUGA: Kerugian Akibat Peretasan Kripto Tembus $768 Juta pada September 2026

Karena itu, informasi autentikasi harus disimpan secara pribadi dan tidak diberikan kepada pihak yang mengaku sebagai customer service, admin komunitas, ataupun perwakilan platform kripto.

2. Gunakan Password Berbeda untuk Setiap Akun

Penggunaan password yang sama untuk berbagai layanan digital dapat meningkatkan risiko keamanan.

Jika salah satu layanan mengalami kebocoran data, pelaku kejahatan siber dapat mencoba menggunakan kombinasi email dan password yang sama untuk mengakses akun lainnya, termasuk akun exchange kripto.

William menyarankan pengguna memakai password berbeda untuk setiap akun. Pengguna juga perlu segera mengganti password apabila menerima pemberitahuan mengenai kebocoran data atau menemukan aktivitas login yang mencurigakan.

Menggunakan password manager dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola kata sandi yang kuat dan unik tanpa harus mengingat semuanya secara manual.

3. Pisahkan Hot Wallet dan Cold Wallet

Tips berikutnya adalah memisahkan wallet berdasarkan fungsinya.

William menyarankan penggunaan hot wallet untuk aktivitas harian, sementara aset yang disimpan untuk jangka panjang sebaiknya ditempatkan pada cold wallet atau exchange berizin.

Hot wallet merupakan wallet yang terhubung dengan internet sehingga lebih praktis untuk transaksi dan interaksi dengan aplikasi terdesentralisasi (dApp). Namun, konektivitas tersebut juga membuatnya memiliki risiko paparan ancaman siber.

Sementara itu, cold wallet menyimpan kunci privat secara offline sehingga dapat mengurangi risiko serangan yang berasal dari internet.

Pemisahan wallet membantu pengguna membatasi jumlah aset yang terpapar risiko ketika melakukan transaksi sehari-hari. Dengan demikian, tidak seluruh kepemilikan kripto harus berada dalam wallet yang aktif digunakan.

4. Rutin Cabut Izin Akses Token dan Koneksi Wallet

Pengguna kripto yang sering berinteraksi dengan aplikasi terdesentralisasi perlu memperhatikan izin akses atau token approval yang pernah diberikan.

Ketika menghubungkan wallet ke dApp, pengguna terkadang memberikan izin kepada aplikasi untuk mengakses atau memindahkan token tertentu.

Masalah dapat muncul apabila izin tersebut tetap aktif meskipun aplikasi sudah tidak digunakan, atau ternyata aplikasi yang terhubung memiliki aktivitas mencurigakan.

William mengingatkan pengguna untuk rutin melakukan revoke atau mencabut izin akses token serta memutuskan koneksi wallet dari dApp yang tidak lagi digunakan.

Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan izin yang sebelumnya diberikan kepada aplikasi pihak ketiga.

5. Periksa Alamat dApp dan Baca Transaksi Sebelum Sign

Tips terakhir adalah tidak terburu-buru menyetujui transaksi atau memberikan tanda tangan digital (sign) pada wallet.

Pengguna perlu membaca detail transaksi dan memahami izin yang diminta sebelum melakukan konfirmasi. Pastikan juga alamat situs atau aplikasi terdesentralisasi yang diakses merupakan alamat resmi.

Penipu dapat membuat situs tiruan yang menyerupai platform asli untuk mengelabui pengguna agar menghubungkan wallet dan menyetujui transaksi berbahaya.

Karena itu, pengguna sebaiknya memeriksa alamat dApp, tujuan transaksi, jumlah aset, serta jenis izin yang diminta sebelum menekan tombol konfirmasi.

Keamanan Aset Kripto Membutuhkan Kewaspadaan Pengguna

Lima langkah yang dibagikan William Sutanto menunjukkan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya menjadi tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan pengguna.

Aktivasi 2FA, penggunaan password unik, pemisahan wallet, pencabutan izin akses yang tidak diperlukan, hingga pemeriksaan transaksi merupakan kebiasaan dasar yang dapat membantu mengurangi risiko kehilangan aset digital.

Di tengah perkembangan ekosistem Web3 dan semakin beragamnya metode penipuan, pengguna perlu membangun kebiasaan untuk selalu memeriksa setiap akses dan transaksi sebelum memberikan persetujuan.

Pesan utama William sederhana: keamanan aset digital harus menjadi perhatian semua pengguna, tanpa terkecuali.