Bitcoin Belum Temukan Momentum, Tapi 4 Faktor Makro Ini Perlu Dipantau

Bitcoin Belum Temukan Momentum, Tapi 4 Faktor Makro Ini Perlu Dipantau
Share :

Ringkasan Berita

Bitcoin Terjebak dalam Rentang Sempit:
Harga Bitcoin masih bergerak di kisaran US$85.000–US$94.000 selama hampir 60 hari, dengan level US$85.000 terus bertahan sebagai zona beli utama.

Institusi Dominasi Arah Pasar:
Arus keluar ETF Bitcoin dan Ethereum mencapai rekor tertinggi, sementara harga di Coinbase bergerak ke wilayah diskon, menandakan tekanan jual yang dipimpin investor AS.

Empat Katalis Makro Global:
Wintermute menyoroti AI, kebijakan suku bunga, pelemahan dolar AS, dan geopolitik sebagai faktor utama yang berpotensi memicu pergerakan besar Bitcoin.

Fase Rapuh, Bukan Bearish:
Konsolidasi panjang dengan volatilitas rendah meningkatkan peluang harga menembus support US$85.000 atau resistance di kisaran pertengahan US$90.000.


Pasar kripto masih belum menemukan momentumnya seiring harga Bitcoin yang bergerak datar. Dalam kurun 60 hari, Bitcoin masih terperangkap dalam kisaran harga $85 ribu hingga $94 ribu.

Market maker aset digital Wintermute, dalam laporan pasar yang dibagikan pada 27 Januari 2026 di platform X, menyebut Bitcoin masih terperangkap. Namun, tekanan dari empat faktor makro global yang saling beririsan meningkatkan peluang terjadinya pergerakan besar dalam waktu dekat.

Menurut Wintermute, level US$85.000 sejauh ini terus bertahan sebagai zona beli. Setiap kali harga mendekati area tersebut, permintaan kembali muncul.

“US$85 ribu masih menjadi lantai harga—sampai suatu saat tidak lagi,” tulis Wintermute.

Institusi dinilai masih aktif memperdagangkan Bitcoin dalam rentang ini, sementara investor ritel cenderung menunggu di pinggir pasar.

Konsolidasi Bitcoin selama hampir 60 hari ini dinilai tidak lazim, terutama setelah upaya breakout yang gagal menuju US$97.000 pada Januari lalu. Kekuatan awal tersebut dikaitkan dengan arus masuk yang kuat ke ETF Bitcoin, namun momentum memudar seiring arus dana tersebut berbalik arah.

Arus Keluar ETF Capai Rekor

Seiring melemahnya momentum harga, arus keluar mingguan dari produk ETF Bitcoin dan Ethereum tercatat mencapai rekor tertinggi. Hal ini memperkuat pandangan bahwa arah pasar saat ini sangat ditentukan oleh pergerakan modal institusional.

Wintermute juga menyoroti harga Bitcoin di Coinbase yang kini bergerak dari premium ke diskon, sebagai indikasi tekanan jual yang dipimpin oleh investor Amerika Serikat.

BACA JUGA: Kapitalisasi Pasar Stablecoin Menyusut, Trader Beralih ke Emas dan Perak

“Arus ETF dan premi Coinbase adalah indikator utama yang perlu diperhatikan. Keduanya harus berbalik arah terlebih dahulu sebelum pasar mampu menembus area pertengahan US$90 ribu secara meyakinkan,” ujar Wintermute.

Dalam konteks regional, Eropa disebut hanya sebagai pembeli marginal, sementara Asia relatif netral. Hal ini menegaskan besarnya pengaruh arus dana dari Amerika Serikat terhadap arah pasar kripto secara keseluruhan.

Empat Faktor Makro Pendorong Bitcoin

Ke depan, Wintermute menilai konvergensi faktor makro global menjadi risiko utama yang dapat mengakhiri fase pergerakan datar ini. Mereka mengidentifikasi empat tema besar yang mendominasi pasar dalam beberapa bulan terakhir: kecerdasan buatan (AI), kebijakan suku bunga, pelemahan nilai dolar AS, dan geopolitik.

Keempatnya memiliki katalis penting dalam waktu dekat yang berpotensi mendorong Bitcoin keluar dari rentang 60 hari tersebut.

Faktor pertama adalah AI, di mana laporan keuangan dan proyeksi dari perusahaan teknologi besar akan menguji apakah investasi besar di sektor ini mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan—sebuah faktor penting bagi selera risiko di pasar saham dan kripto.

Faktor kedua adalah kebijakan suku bunga, dengan komunikasi Federal Reserve menjadi sorotan. Sinyal hawkish terkait inflasi berpotensi mendorong imbal hasil obligasi naik, memperkuat dolar, dan menekan aset berisiko.

BACA JUGA: Permintaan Tenaga Kerja yang Memahami Bitcoin Meningkat Sepanjang 2025

Faktor ketiga adalah pelemahan dolar AS, yang tercermin dari emas dan perak yang mencetak rekor harga tertinggi. Namun, Bitcoin sejauh ini belum sepenuhnya menarik arus permintaan sebagai aset lindung nilai.

Sedangkan, faktor keempat adalah geopolitik, termasuk negosiasi tarif yang belum tuntas dan ketidakpastian perdagangan global, yang terus memengaruhi arus dana ke aset aman serta ekspektasi volatilitas pasar.

Wintermute menegaskan bahwa kondisi saat ini lebih bersifat rapuh daripada bearish. “Pergerakan harga terasa stagnan, namun setup-nya bukan bearish—melainkan terjebak,” jelas mereka. Level US$85.000 dinilai telah diuji berkali-kali, sehingga berpotensi menjadi lantai yang sangat kuat atau justru jebakan sebelum pergerakan besar terjadi.

“Fakta bahwa level ini bertahan meski arus dana AS negatif dan volatilitas tertekan menunjukkan masih ada permintaan di pasar, meski belum agresif,” tambah Wintermute. Mereka menyimpulkan bahwa kombinasi konsolidasi berkepanjangan dan tingginya risiko peristiwa global meningkatkan kemungkinan bahwa salah satu batas utama—baik support US$85.000 maupun resistance di kisaran pertengahan US$90.000—akan segera ditembus.