Faktor Pendorong Harga Bitcoin Sentuh $97 Ribu

Faktor Pendorong Harga Bitcoin Sentuh $97 Ribu
Share :

Ringkasan Berita

  • Bitcoin kembali di atas $97.000 setelah berbulan-bulan bergerak mendatar, didorong arus modal baru ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
  • ETF Bitcoin spot AS mencatat inflow hampir US$1,5 miliar sejak awal tahun, menandai kembalinya minat investor institusional besar.
  • Lonjakan inflow harian mencapai US$843,6 juta pada 14 Januari 2026, memperkuat indikasi bahwa tekanan jual mulai terserap pasar.
  • Analis menilai pasar memasuki fase struktural baru, meski risiko siklus empat tahunan dan lemahnya partisipasi ritel masih membayangi.

 

Harga Bitcoin kembali menembus level $97.000 pada pekan ini, didorong oleh masuknya kembali arus modal ke produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data dan pengamat pasar menilai penguatan ini mencerminkan perubahan struktural pada sisi permintaan, setelah berbulan-bulan harga bergerak mendatar.

Sejak awal tahun, ETF Bitcoin spot AS secara kolektif telah membukukan arus masuk bersih mendekati US$1,5 miliar. Analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas menunjukkan serangkaian hari dengan penciptaan unit ETF yang positif, seiring kembalinya minat dari investor berskala besar setelah aliran dana sempat melemah di penghujung 2025.

Dalam unggahannya di platform X, Balchunas menyebut pola permintaan ETF ini mengindikasikan bahwa pembeli mungkin telah menghabiskan tekanan dari pihak penjual. Pernyataan tersebut merujuk pada keberhasilan Bitcoin keluar dari fase konsolidasi panjang di sekitar level $88.000.

Pada Rabu 14 Januari 2026, ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih sebesar US$843,6 juta, sehingga total inflow sepanjang pekan mencapai $1,07 miliar dan mendorong kenaikan angka year-to-date.

Meski lonjakan harian menjadi sorotan, narasi yang lebih besar adalah kembalinya permintaan yang lebih stabil setelah sebelumnya terjadi rotasi di dalam produk ETF.

Akankah Institusi Mengubah Pola Lama Bitcoin?

Penguatan Bitcoin ini terjadi di awal periode yang secara historis justru kerap menantang bagi aset tersebut. Banyak pelaku pasar masih merujuk pada siklus empat tahunan Bitcoin, yang umumnya selaras dengan peristiwa halving.

Dalam pola ini, harga Bitcoin cenderung mencapai puncak 12 hingga 18 bulan setelah halving—sebuah asumsi yang membuat sebagian analis menilai pasar mungkin telah melewati puncak siklusnya.

Meski bukan aturan baku, pola historis tersebut membuat banyak analis bersikap lebih berhati-hati pada fase ini.

Rebound harga saat ini menyusul kinerja yang campuran sepanjang 2025. Meski Bitcoin sempat mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa, reli tersebut gagal menjalar ke pasar kripto secara lebih luas.

BACA JUGA: Wintermute: Tahun 2026 Pasar Kripto Masih Diselimuti Ketidakpastian

Tidak adanya “musim altcoin” yang berkelanjutan membuat banyak investor merasa kecewa dengan minimnya kelanjutan momentum.

Menurut market maker Wintermute, pemulihan yang lebih luas menjelang 2026 kemungkinan membutuhkan perubahan struktural di pasar Bitcoin. Dalam proyeksi terbarunya, Wintermute menilai kebangkitan pasar secara menyeluruh akan sangat bergantung pada akumulasi berkelanjutan oleh ETF dan perusahaan pengelola kas aset digital, atau pada perluasan mandat investasi mereka ke aset kripto selain Bitcoin.

Wintermute juga menyoroti bahwa sepanjang 2025, Bitcoin gagal menarik arus masuk ritel secara konsisten. Banyak investor justru mengalihkan perhatian ke tema pertumbuhan lain seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan saham sektor antariksa.

Untuk membangun pemulihan yang lebih solid, Wintermute menilai dibutuhkan kinerja yang lebih kuat dan konsisten di aset-aset kripto utama, termasuk Bitcoin, guna menciptakan efek kekayaan (wealth effect) yang dapat mendorong partisipasi pasar secara lebih luas.