Ringkasan Berita
- Harga Bitcoin terkoreksi hampir 3% dari US$95.450 ke kisaran US$92.550 di tengah sentimen global dan eskalasi perang dagang AS–UE.
- Data on-chain Glassnode menunjukkan peningkatan moderat volume spot BTC dan penurunan tekanan jual dari sisi penjual.
- Permintaan spot masih rapuh, namun kondisi internal pasar dinilai mulai membaik dan berada dalam fase konsolidasi sehat.
- Investor institusional mulai akumulasi saat koreksi, memperkuat posisi Bitcoin sebagai lindung nilai portofolio jangka menengah–panjang.
Meski harga Bitcoin kini kembali turun dan tidak bisa mempertahankan harga di level $95 ribu, kondisi pasar spot BTC sebetulnya mulaimenunjukkan tanda-tanda pemulihan awal, ditandai dengan meningkatnya volume perdagangan dan menurunnya tekanan jual.
Menurut analis on-chain dari Glassnode, dalam laporan yang dirilis pada Senin, 19 Januari 2025, terdapat peningkatan “moderat” pada volume perdagangan spot Bitcoin. Selain itu, ketimpangan bersih antara aksi beli dan jual telah menembus batas statistik atasnya, yang mengindikasikan berkurangnya tekanan dari sisi penjual.
Meski demikian, Glassnode menilai permintaan spot Bitcoin masih relatif rapuh dan belum merata. Artinya, pemulihan yang terjadi belum sepenuhnya kuat dan masih rentan terhadap sentimen eksternal.

Pada saat yang sama, harga Bitcoin terkoreksi hampir 3% dari puncak akhir pekan di level US$95.450 dan diperdagangkan di kisaran US$92.550. Penurunan ini terjadi di tengah pasar global yang masih mencerna dampak eskalasi terbaru perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Meski terkoreksi, Bitcoin masih mencatatkan kenaikan sekitar 6% sejak awal tahun. Glassnode menilai secara keseluruhan Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi, namun kondisi internal pasar menunjukkan perbaikan bertahap.
“Bitcoin masih bergerak dalam konsolidasi, tetapi fondasi internalnya semakin membaik,” tulis Glassnode. Menurut mereka, pasar perlahan mulai membangun kembali kepercayaan, didorong oleh penguatan dinamika beli dan kembalinya minat institusional, meskipun sikap defensif investor masih terlihat.
BACA JUGA: Faktor Pendorong Harga Bitcoin Sentuh $97 Ribu
Bitcoin mulai diperlakukan sebagai lindung nilai portofolio
CEO OKX Singapura, Gracie Lin, dikutip dari Cointelegraph menyebutkan bahwa laporan tersebut menunjukkan pasar telah menyerap sebagian besar aksi ambil untung yang terjadi di akhir 2025. Tekanan jual pun mulai mereda.
Ia menambahkan bahwa pemegang jangka panjang kini terlihat tidak lagi agresif menjual setiap kali terjadi reli harga. Di sisi lain, aliran dana ETF Bitcoin menunjukkan bahwa investor institusional cenderung memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi.
“Dengan munculnya kembali isu tarif, sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara Asia Pasifik, serta harga emas yang mencetak rekor, posisi Bitcoin semakin kuat sebagai instrumen lindung nilai portofolio, bukan sekadar aset trading jangka pendek—meskipun volatilitas tetap menjadi ciri utamanya,” ujar Lin.
Penurunan likuiditas dinilai sebagai sinyal awal reli
Sementara itu, analis dari Swissblock menyoroti penurunan pertumbuhan jaringan Bitcoin dan berkurangnya likuiditas di pasar. Menurut mereka, kondisi ini menyerupai situasi yang terakhir kali terjadi pada 2022.
Pada periode tersebut, level pertumbuhan jaringan yang serupa memicu fase konsolidasi Bitcoin, seiring mulai pulihnya aktivitas jaringan meski likuiditas masih lemah dan berada di titik terendah.
“Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan berikutnya pada kedua indikator tersebut menjadi bahan bakar bagi bull run besar,” tulis Swissblock, mengisyaratkan bahwa kondisi pasar saat ini bisa menjadi fase awal sebelum pergerakan naik yang lebih signifikan.


