Ringkasan Berita
- Kerugian Rekor US$17 Miliar: Sepanjang 2025, penipuan kripto makin cepat dan meyakinkan berkat AI dan teknik penyamaran, mendorong kerugian global ke level tertinggi sepanjang sejarah.
- Nilai Penipuan Kian Besar: Rata-rata dana yang dicuri per korban melonjak 253% menjadi US$2.764, menandakan efektivitas scam jauh meningkat, bukan sekadar jumlah kasus.
- Deepfake & AI Jadi Senjata Utama: Operasi yang terhubung dengan penyedia AI menghasilkan pendapatan hingga 4,5 kali lebih besar, termasuk lonjakan 1.400% penipuan berkedok pejabat pemerintah.
- Jaringan Kejahatan Asia & DeFi: Chainalysis menemukan keterkaitan kuat dengan jaringan kriminal di Asia Timur dan Tenggara, termasuk kamp kerja paksa, serta pergeseran dana curian ke DeFi agar sulit dilacak.
Sepanjang 2025, penipuan atau scam kripto berkembang menjadi lebih cepat, lebih meyakinkan, dan jauh lebih menguntungkan. Menurut laporan terbaru perusahaan analitik blockchain Chainalysis, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknik penyamaran identitas mendorong total kerugian global ke rekor tertinggi, diperkirakan mencapai US$17 miliar.
Lonjakan tersebut bukan semata karena jumlah penipuan yang meningkat, melainkan karena efektivitasnya yang semakin tinggi. Dalam laporan yang dirilis Selasa, 13 Januari 2026, Chainalysis mencatat nilai rata-rata pembayaran korban penipuan pada 2025 mencapai US$2.764, melonjak tajam dari US$782 pada tahun sebelumnya—naik sekitar 253% dalam setahun.
“Operasi penipuan berskala besar semakin terindustrialisasi, didukung oleh infrastruktur yang canggih, termasuk layanan phishing-as-a-service, deepfake berbasis kecerdasan buatan, serta jaringan pencucian uang profesional,” tulis laporan tersebut.
Chainalysis menemukan, operasi penipuan yang memiliki keterkaitan on-chain dengan penyedia layanan AI menghasilkan pendapatan rata-rata US$3,2 juta per operasi—sekitar 4,5 kali lebih besar dibanding penipuan tanpa keterkaitan tersebut. Pola ini berkaitan dengan penggunaan perangkat face-swap, deepfake, dan large language model yang banyak dijual oleh vendor asal Tiongkok, umumnya melalui kanal Telegram.

Penipuan dengan modus penyamaran sebagai pejabat pemerintah menjadi salah satu yang paling pesat pertumbuhannya. Sepanjang 2025, kasus penipuan yang menggunakan gambar deepfake pejabat pemerintah melonjak lebih dari 1.400%, seiring pelaku menyamar sebagai pegawai instansi negara, lembaga keuangan, hingga platform kripto.
BACA JUGA: Wintermute: Tahun 2026 Pasar Kripto Masih Diselimuti Ketidakpastian
Keterkaitan dengan Jaringan Kejahatan di Asia
Salah satu operasi phishing terbesar menyasar warga Amerika Serikat melalui pesan palsu bertema tagihan tol E-ZPass. Kampanye ini dilacak Chainalysis ke kelompok asal Tiongkok yang dikenal sebagai “Darcula” atau “Smishing Triad”. Meski berskala sangat besar—hingga mengirim sekitar 330.000 pesan teks dalam satu hari—infrastruktur serangan ini tergolong murah, dengan phishing kit canggih yang diperkirakan hanya menelan biaya di bawah US$500.
“Ditemukan keterkaitan yang kuat dengan jaringan kejahatan di Asia Timur dan Asia Tenggara, terutama melalui kompleks kerja paksa di Kamboja, Myanmar, dan wilayah lain, di mana para korban perdagangan manusia dipaksa menjalankan operasi penipuan,” tulis laporan tersebut.
Skema pig butchering merupakan penipuan jangka panjang, di mana pelaku membangun hubungan emosional atau kepercayaan—sering kali dengan menyamar sebagai pasangan romantis atau mitra investasi—sebelum membujuk korban mentransfer dana dalam jumlah besar secara bertahap. Istilah ini merujuk pada praktik “menggemukkan” korban sebelum akhirnya disikat habis.
Pada Desember lalu, seorang perempuan di San Jose, California, menggunakan ChatGPT untuk mengidentifikasi bahwa pasangan barunya merupakan pelaku pig butchering, setelah ia kehilangan hampir US$1 juta dalam bentuk kripto.
Chainalysis juga mencatat pergeseran taktik, di mana penipuan berbasis penyamaran mulai meninggalkan bursa terpusat dan beralih ke ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi), seperti DEX, bridge, dan protokol on-chain lainnya untuk memindahkan hasil kejahatan. Menurut laporan tersebut, langkah ini mencerminkan tren desentralisasi operasi penipuan, memanfaatkan sifat permissionless DeFi agar dana tetap sulit dilacak.

“Kasus-kasus ini menunjukkan skala operasi penipuan kripto modern dan keterkaitannya yang semakin erat dengan kejahatan terorganisir tradisional,” tulis Chainalysis dalam laporannya. “Lebih dari itu, kasus ini menyingkap biaya kemanusiaan yang besar—baik bagi korban finansial maupun individu yang diperdagangkan dan dipaksa menjalankan penipuan tersebut, sebuah kejahatan yang tak terperi.”


