Solana: Rp. 2.210.513 | 24h: -0.34%Bitcoin: Rp. 1.506.763.122 | 24h: -0.21%Ethereum: Rp. 51.985.288 | 24h: 0.71%XRP: Rp. 33.627 | 24h: -1.07%Tensor: Rp. 1.699 | 24h: 7.6%Terra: Rp. 2.843 | 24h: -13.3%Hifi Finance: Rp. 1.984 | 24h: 0%Hyperliquid: Rp. 482.635 | 24h: 2.99%
Lihat Market

Pergerakan Bitcoin Makin Stabil, Tapi Risiko Koreksi Masih Mengintai

Bitcoin Tunjukkan Tanda Stabilisasi, Tapi Risiko Koreksi Masih Mengintai
Share :

Ringkasan Berita

  • Stabilisasi harga Bitcoin mulai terlihat berdasarkan data on-chain, seiring menurunnya aktivitas ambil untung dan meningkatnya permintaan dari pembeli oportunistik.
  • Volume keuntungan direalisasikan turun dari $2 miliar di akhir 2024 menjadi $1 miliar pada pertengahan 2025. Rasio pengambilan untung holder jangka pendek juga turun ke 45%.
  • Zona support penting berada di kisaran $105.000–$107.000. Jika harga tidak bertahan, potensi koreksi lebih dalam dapat terjadi, meskipun masih dalam tren naik jangka panjang.
  • Pasar global masih gelisah, meskipun aset risiko termasuk kripto sempat rebound setelah revisi data tenaga kerja AS. Skew opsi Bitcoin negatif menandakan investor mulai lindungi risiko penurunan.

 

Beberapa metrik on-chain menunjukkan potensi stabilisasi harga Bitcoin seiring menurunnya aktivitas ambil untung di tengah ketidakpastian pasar global.

Berdasarkan laporan Glassnode pada Rabu, 6 Agustus 2025, lonjakan cepat Bitcoin menuju rekor tertingginya di $123.000 pada Juli lalu menciptakan celah pasokan (air gap) tipis antara level $110.000 hingga $117.000.

Meskipun demikian, permintaan dari investor oportunistik masih terlihat, yang membantu menahan laju penurunan lebih lanjut.

Sumber: Glassnode

Aktivitas Ambil Untung Menurun

Volume keuntungan yang direalisasikan juga menunjukkan tren penurunan, dari $2 miliar pada Desember 2024 menjadi $1 miliar pada tahun 2025.

Tingkat pengambilan keuntungan dari pemegang jangka pendek turun menjadi 45%, di bawah ambang netral historis sebesar 50%. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar berada dalam posisi relatif seimbang.

“Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa pasar berada dalam posisi yang relatif seimbang, dengan 70% pasokan investor jangka pendek (STH) masih berada dalam kondisi untung, serta terjadi pembagian yang hampir merata antara koin yang dijual dalam kondisi untung dan rugi.” tulis laporan tersebut.

risk indicator spent volume-in-profit by sth, Sumber: Glassnode

Jika Bitcoin mampu menembus level $116.000 — yang merupakan harga rata-rata pembelian investor dalam sebulan terakhir — maka hal ini bisa menjadi sinyal bahwa sisi permintaan kembali mendominasi dan membuka peluang kenaikan selanjutnya.

Risiko Koreksi Masih Ada

Meski akhir pekan lalu sempat pulih 1,5% dari level terendah $112.692, para analis tetap berhati-hati. Pemulihan ini dinilai bisa saja bersifat sementara, terutama karena tekanan makroekonomi yang masih besar.

Salah satu faktor risiko terbesar datang dari pasar saham AS yang dianggap terlalu terekspos. Data dari Nomura menunjukkan bahwa posisi long dari Commodity Trading Advisors (CTA) telah mencapai 110%, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Bitcoin Tertahan di Zona Konsolidasi, Berikut Proyeksi Harga ke Depan

Pasokan Bitcoin dari pemegang jangka pendek yang masih untung juga turun dari 100% menjadi 70% selama koreksi terakhir. Jika permintaan tidak cepat pulih, kepercayaan pasar bisa melemah, mendorong aksi jual lanjutan ke level $106.000, yang menjadi harga dasar bagi kelompok pemegang jangka pendek.

Menurut Daniel Liu, CEO Republic Technologies, koreksi ke kisaran $105.000–$107.000 masih tergolong sehat dalam tren naik jangka panjang Bitcoin.

Aset Risiko Ikut Bangkit, Tapi Pasar Masih Gelisah

Aset kripto juga ikut naik bersama pasar saham AS setelah data ketenagakerjaan Mei dan Juni direvisi turun sebanyak 258.000 pekerjaan. Hal ini memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya (pivot), yang mendongkrak sentimen risiko.

Indeks Nasdaq dan Russell 2000 melonjak masing-masing 1,84% dan 2,35%, sementara Bitcoin naik tipis 0,74%, menurut data CoinGecko.

Namun, para analis tetap mewaspadai tanda-tanda kelebihan eksposur di berbagai pasar. Skew 30-hari Bitcoin pun turun ke wilayah negatif, yang menunjukkan bahwa permintaan opsi jual (put options) meningkat, tanda bahwa investor mulai melakukan lindung nilai terhadap risiko penurunan harga.

“Meski ada ketidakpastian jangka pendek, kita harus melihat gambaran besarnya,” kata Liu. Ia menekankan bahwa imbal hasil Bitcoin sejak awal tahun ini hampir tiga kali lipat dari indeks S&P 500, menunjukkan performa kuat meski volatilitas tetap tinggi.