Bisakah Komputer Kuantum Pecahkan Algoritma Enkripsi Blockchain?

Share :

Portalkripto.com — Ilmuwan Cina mengklaim telah berhasil mendapatkan metode untuk memecahkan algoritma enkripsi Rivest-Shamir-Adleman 2048 bit (RSA-2048) yang biasa digunakan dalam sejumlah protokol keamanan. RSA adalah teknik kriptografi yang menggunakan public key untuk mengenkripsi informasi dan private key untuk mendekripsinya.

Dalam memecahkan enkripsi RSA, pakar komputer perlu mencari faktor prima dari angka yang terdiri atas 617 digit desimal dan 2048 digit biner. Diperkirakan komputer biasa membutuhkan waktu hingga 300 triliun tahun untuk bisa memecahkan kode enkripsi semacam itu.

Namun, dalam paper yang dirilis Desember 2022, ilmuwan Cina mengatakan hal tersebut mungkin dilakukan dengan menggunakan komputer kuantum dengan kekuatan 372 qubit (quantum bit/unit dasar komputasi kuantum). Jika klaim ini benar, maka enkripsi online di protokol seperti HTTPS, email, two-factor authentication bisa dibobol.

Kekuatan komputer kuantum para ilmuwan Cina tersebut bahkan lebih rendah dari komputer kuantum keluarkan IBM, Osprey, yang memiliki daya 433 qubit. Osprey menjadi komputer kuantum paling kuat yang diluncurkan ke publik.

“Artinya satu pemerintah bisa membobol rahasia pemerintah lainnya,” ujar pakar keamanan komputer AS, Roger Grimes, dikutip Financial Times.

Algoritma kuantum ditemukan oleh ilmuwan Massachusetts Institute of Technology, Peter Shor, pada 1994, yang diklaim dapat memecahkan kode enkripsi di masa depan. Namun, Shor menyebut, untuk bisa memecahkan algoritma enkripsi RSA-2048, dibutuhkan komputer kuantum berdaya sangat besar, yakni 13.436 qubit.

Ia juga meragukan metode yang dilakukan oleh para ilmuwan Cina karena tidak mengungkapkan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Menurutnya, bisa saja prosesnya memakan waktu jutaan tahun.

Klaim ilmuwan Cina ini merupakan yang kedua dalam waktu kurang dari setahun terkait pemecahan algoritma enkripsi RSA. Tahun lalu, matematikawan Jerman, Claus-Peter Schnorr, juga menerbitkan sebuah algoritma yang diklaim jauh lebih efisien untuk memfaktorkan bilangan prima yang besar untuk memecahkan kode RSA.

Namun ternyata metode Schnorr tidak dapat dikembangkan untuk benar-benar membobol RSA. Metode gagal ini yang kemudian dikembangkan oleh para ilmuwan Cina.

Karena Cina menggunakan teknik Schnorr, banyak yang meragukan klaimnya. Terlebih komputer kuantum dibatasi oleh faktor operasional seperti kebutuhan infrastruktur pendinginan yang kompleks di -273°C (-459,4°F).

Bagaimana dengan Enkripsi Blockchain?

Dengan ditemukannya metode pemecahan algoritma enkripsi RSA itu tentu membuat komunitas waspada karena bisa saja algoritma blockchain menjadi sasaran selanjutnya.

Akan tetapi, komputer kuantum yang ada saat ini dinilai masih terlalu kecil untuk bisa memecah kode enkripsi blockchain yang melindungi Bitcoin. Jaringan Bitcoin dijaga oleh komputer para penambang yang menggunakan algoritma kriptografi SHA-256 buatan Badan Keamanan Nasional AS.

Memecahkan kode SHA-256 akan sangat sulit dilakukan oleh komputer biasa. Tetapi komputer kuantum, yang dapat mengeksploitasi fisika kuantum untuk mempercepat kalkulasi, secara teoritis dapat melakukannya.

Pada awal 2022, Mark Webber dari University of Sussex, Inggris, mencoba menghitung berapa besar kekuatan mesin kuantum yang diperlukan untuk memecahkan enkripsi Bitcoin. Menurutnya, untuk bisa membobol enkripsi Bitcoin dalam waktu 10 menit dibutuhkan komputer kuantum dengan daya 1,9 miliar qubit.

Untuk membobolnya dalam satu jam, membutuhkan mesin dengan 317 juta qubit. Sedangkan dalam waktu 24 jam perlu 13 juta qubit. Daya yang dibutuhkan jutaan kali lipat lebih besar bahkan dari komputer kuantum terkuat di dunia dari IBM dengan 433 qubit.

Mesin kuantum yang telah menjadi ancaman nyata bagi blockchain juga telah disadari pendiri Ethereum Vitalik Buterin sejak beberapa tahun lalu.

Menurutnya, sama dengan tenaga nuklir, kekuatan kuantum juga perlu dimanfaatkan dengan hati-hati agar tidak membawa kehancuran. Ia juga meyakini komunitas kripto bisa mengembangkan algoritma baru untuk blockchain yang lebih resistan terhadap kuantum.