Bitcoin, Emas, dan Saham, Mana yang Berkinerja Terbaik di 2022?

Share :

Portalkripto.com — Hampir semua instrumen keuangan global mengalami tekanan besar tahun ini. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, terus menunjukkan taringnya dengan tujuh kali menaikkan suku bunga acuan dari 0,25%-0,50% pada Maret menjadi 4,25%-4,50% pada Desember 2022.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS yang negatif dalam dua kuartal berturut-turut juga membayangi negara adidaya itu dengan resesi. Terlebih, pada Juni lalu, tingkat inflasi AS sudah menyentuh titik tertingginya sejak 40 tahun lalu di 9,1%.

Investor saham, emas, dan aset digital seperti Bitcoin harus banyak-banyak mengelus dada menghadapi situasi. Namun di antara ketiga aset tersebut, mana yang sebenarnya memiliki kinerja terbaik?

Bitcoin Turun 70%

Pergerakan harga Bitcoin di sepanjang tahun ini dipenuhi dengan warna merah. 2022 telah dinobatkan menjadi tahun terburuk setelah bear market 2018.

Nilai kripto tertua di dunia itu tercatat anjlok hingga 70% year-to-date. Crash terbesar terjadi pada Juni saat kerugian bulanan investor Bitcoin mencapai 37,28%.

Sementara keuntungan bulanan terbesar yang berhasil diraup investor hanya sebesar 16,8% pada Juli. Dari total 12 bulan, Bitcoin hanya menguntungkan empat kali.

Return bulanan Bitcoin. (sumber: CoinGlass).

Ekonomi makro bukan satu-satunya faktor yang mengguncang Bitcoin. Buruknya sistem yang membuat beberapa proyek kripto ambruk dan bangkrut, seperti Terra, Celsius, Three Arrow Capital, dan FTX, ikut memberikan pengaruh besar.

Saham Turun 20%-72%

S&P mengalami indeks penurunan terbesar sejak krisis ekonomi 2008. Kinerjanya telah melorot hampir 20% year-to-date menjadi 3.783 poin per 29 Desember. Saham teknologi di Nasdaq Composite juga mengalami kelesuan yang sama dengan penurunan 35% year-to-date.

Amazon, Meta, dan Tesla menjadi perusahaan yang paling babak belur. Saham masing-masing entitas itu turun 50%, 65%, dan 72,75% per lembar, year-to-date.

Pergerakan harga Bitcoin, IXIC, TSLA, dan META year-to-date. (sumber: TradingView/CoinTelegraph).

Buruknya kinerja saham membuat banyak investor beralih ke dolar AS untuk mengamankan uang mereka. Sepanjang 2022, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat hingga 8,5%.

Pergerakan indeks dolar AS. (sumber: TradingView)

Emas Naik 0,14%

Sebagai aset yang ramai dianggap sebagai lindung nilai, kenaikan harga emas cukup mengecewakan. Meski berkinerja lebih baik daripada Bitcoin, emas hanya melonjak 0,14% year-to-date.

Emas mengalami ‘penyimpangan’ karakteristik karena kalah kuat dari dolar AS. Logam mulia ini bahkan kehilangan momentum di paruh kedua 2022 dan anjlok 22% dari titik tertingginya tahun ini.

Bitcoin Tetap Unggul

Meski turun paling dalam, Bitcoin ternyata masih menjadi aset terunggul. Sejak Maret 2020 saat masih di bawah level $4.000, nilai Bitcoin telah melonjak hingga 1.650%.

Cointelegraph melaporkan, per 28 Desember 2022, investor yang membeli Bitcoin pada Maret 2020 masih meraup untung hingga 332%. Kondisi yang sama tidak dialami oleh investor saham dan emas.

Nasdaq Composite hanya tumbuh 143% sejak berada di level rendah 6.631 poin pada Maret 2020. Investor yang berinvestasi pada periode itu, akan memperoleh keuntungan maksimal 56% pada 28 Desember 2022.

Sementara emas yang naik tajam selama pandemi lalu, tercatat hanya tumbuh 26,50% sejak Maret 2020.

DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.