Portalkripto.com — Krisis perbankan yang terjadi di seluruh dunia telah mendorong para investor Amerika Serikat (AS) untuk menggelontorkan duitnya memasuki pasar keuangan. Larinya duit investor ke pasar keuangan ini bertepatan dengan kondisi pergerakan Bitcoin dan pasar kripto yang mengalami kelesuan di tengah arus keluar duit dari perbankan yang masif.
Berdasarkan data Emerging Portfolio Fund Research (EPFR) yang dilaporkan Financial Times ada sekitar $286 miliar duit investor Negeri Abang Sam yang mengalir ke dana pasar keuangan dalam dua pekan terakhir. Dalam kurs saat ini, jumlah itu setara dengan Rp4,325 kuadriliun.
Kondisi ini merupakan indikasi bahwa para investor sedang mencari tempat yang lebih aman untuk menyimpan dananya di tengah gejolak ketidakpastian ekonomi yang ikut dipicu krisis perbankan saat ini.
Money market funds swell by over $273bn as investors pull deposits from banks https://t.co/qfCZnHtviq
— Financial Times (@FT) March 26, 2023
Laju arus masuk ke duit ribuan triliun investor ini membanjiri beberapa pemain besar di pasar keuangan, seperti Goldman Sachs, JPMorgan dan Fidelity. Goldman Sachs menerima $52 miliar selama periode tersebut. Sementara JPMorgan dan Fidelity masing-masing ketiban duit hampir $46 miliar dan $37 miliar. Volume arus masuk tersebut merupakan yang terbesar selama sebulan sejak munculnya wabah Covid-19.
Produk reksadana ini nampaknya menjadi favorit para investor yang menjadikannya sebagai hedge fund di tengah karut-marut perekonomian. Terlebih saat ini produk investasi reksadana keuangan sedang menikmati masa-masa emasnya setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, terus-menerus menaikkan suku bunga.
Reksadana pasar uang adalah jenis produk yang berinvestasi pada instrumen pasar uang, seperti deposito berjangka, surat berharga pasar uang, dan obligasi jangka pendek dengan waktu jatuh tempo kurang dari satu tahun. Tujuan dari investasi ini adalah untuk menjaga nilai investasi dan beroleh pendapatan stabil dengan risiko relatif rendah.
Reksadana pasar uang sendiri dikenal memiliki likuiditas yang tinggi. Kondisi ini memungkinkan investor untuk menarik investasinya secara cepat dan mudah jika terjadi krisis keuangan atau kepanikan di pasar, meski tidak selalu demikian.
Bitcoin sendiri selama dua pekan terakhir sempat mengalami kenaikan 40% lebih, dari $20.000-an pada 10 Maret 2023 hingga ke titik puncak $28.400-an pada 19 Maret. Namun setelahnya pergerakan harga Bitcoin cenderung sideways. Pada 27 Maret malam WIB, Bitcoin turun tajam 4% dalam hitungan menit hingga sempat menyentuh angka $26.700 per keping setelah
Commodity Futures Trading Commission (CFTC) mengajukan gugatan terhadap Binance di pengadilan Chicago lantaran dugaan pelanggaran hukum.
Kenaikan Bitcoin di pekan awal terjadi setelah keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank di AS, yang disusul kejatuhan Credit Suisse beberapa hari kemudian. Data firma aset digital Matrixport mencatat reli bullish Bitcoin yang terjadi setelah 10 Maret mayoritas terjadi selama jam trading AS. Kondisi ini mengindikasikan adanya aliran duit dari investor AS yang memicu penguatan harga koin Satoshi.

Laporan dari CoinShares yang terbit pada 27 Maret juga mengungkapkan bahwa produk investasi aset digital mengalami arus masuk sebesar $160 juta pada pekan lalu. Arus masuk duit ratusan juta dolar ini menjadi yang terbesar sejak Juli 2022.
Kekisruhan perbankan ini sempat menjadi angin segar buat Bitcoin lantaran memicu menguatnya narasi krisis kepercayaan terhadap bank dan ancaman susutnya nilai mata uang. Namun kondisi ini berbalik arah setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga 25 basis poin (bps) dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 23 Maret WIB yang diikuti oleh statement hawkish dari bos The Fed, Jerome Powell


