Bitcoin Sentuh $23.000, Lebih dari 97,5% Investor Baru Tuai Untung

Share :

Portalkripto.com — Harga Bitcoin (BTC) yang melonjak hingga 10% dalam sepekan terakhir berhasil memberikan keuntungan bagi investor anyar yang baru memegang BTC kurang dari 155 hari atau short-term holders (STH). Bitcoin resmi breakout ke titik psikologis $23.000 sejak 21 Januari lalu.

Menurut platform data on-chain Glassnode dalam laporan berjudul ‘An Opportunity, or a Trap?’ yang dirilis pada Senin, 23 Januari 2023, investor baru BTC yang menuai untung pekan ini mencapai 97,5%. Persentase ini merupakan yang tertinggi sejak BTC menyentuh all-time high (ATH) pada November 2021.

Data Glassnode juga menunjukkan, sepanjang 2022, mayoritas investor baru Bitcoin mengalami hingga lima kali kerugian besar. Kondisi bearish tersebut terjadi dalam rentang waktu 14 bulan.

Grafik keuntungan investor baru Bitcoin Januari 2018-Januari 2023. (sumber: Glassnode).

Tak hanya investor baru, investor lama juga dalam data on-chain terlihat ikut meraup cuan dari momen kenaikan harga BTC. Investor jenis ini disebut long-term holders (LTH) Bitcoin karena telah memegang BTC lebih dari 155 hari.

Rasio Market Value to Realized Valued (MVRV) yang membandingkan cost basis LTH dengan harga spot Bitcoin, naik di atas 1,0 untuk pertama kalinya dalam 6,5 bulan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa cost basis LTH saat ini, yakni $22.600, ada di bawah harga spot Bitcoin.

“Rentang waktu LTH MVRV dalam bear market ini sama dengan (bear market) 2018-2019,” tulis Glassnode.

Rasio MVRV LTH Bitcoin. (sumber: Glassnode).

Tren Positif atau Negatif?

Tren keuntungan ini dialami para investor usai Bitcoin mengalami masa bearish dalam waktu yang lama. Pasar tentunya bertanya-tanya apakah 97.5% investor baru yang mendulang untung akan menyimpan kepemilikan Bitcoinnya untuk menjadi long-time holder, atau justru melakukan aksi jual?

Secara historis, pada Januari 2018, April 2021, dan November 2021, setelah mayoritas investor baru mendulang untung, harga Bitcoin langsung merosot tajam. Akankah pasar kripto akan mengalami hal serupa pada awal 2023 ini?

Ada indikator lain yang bisa menjadi bahan penilaian, yakni stablecoin supply ratio (SSR) dan jumlah BTC yang masuk ke exchange (Bitcoin exchange inflow).

SSR akan turun jika investor mengirim lebih banyak stablecoin daripada Bitcoin ke exchange. Penurunan SSR mengindikasikan banyak investor yang memasukkan modal untuk membeli Bitcoin.

Menurut data Glassnode, SSR terus meningkat sejak 9 Januari 2023 yang artinya jumlah stablecoin dalam exchange menurun. Hal ini bisa mengindikasikan sedikitnya investor yang menyuntikkan modal untuk menyerok Bitcoin.

Stablecoin supply ratio (SSR). (sumber: Glassnode).

Selain SSR, Bitcoin outflow juga menjadi perhatian investor. Jika jumlah Bitcoin yang masuk ke exchange meningkat, ada indikasi akan terjadi aksi jual besar-besaran.