Dominasi Dolar Luntur, Bank Sentral Dunia Borong Emas Terbesar dalam 55 Tahun

Share :

Portalkripto.com — Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya mulai mengendur setelah sejumlah bank sentral di dunia melakukan diversifikasi cadangan aset. Emas yang telah menjadi mata uang selama berabad-abad, dipilih sebagai pengganti cadangan aset.

Data statistik World Gold Council (WGC) menunjukkan permintaan emas oleh bank sentral meningkat tajam pada kuartal tiga (Q3) 2022. Bank-bank sentral secara global memborong cadangan emas 339 ton. Angka itu menjadi yang terbesar dalam 55 tahun terakhir atau sejak 1967 ketika dolar AS masih didukung oleh emas. Total pembelian emas oleh bank sentral sepanjang 2022 mencapai 673 ton.

Tren grafik pembelian emas oleh bank sentral sejak 2010 (Sumber: World Gold Council).

WGC mencatat pembelian emas senilai sekitar $20 miliar ini paling banyak dilakukan Turki. Bank sentral Turki menambahkan 31 ton di Q3 sehingga total cadangan emasnya menjadi 489 ton. Selanjutnya ada bank sentral Uzbekistan, Qatar, dan India yang masing-masing menambah cadangan emas 26 ton, 15 ton, dan 17 ton.

Deretan daftar tersebut belum termasuk pembelian sejumlah bank sentral lain yang tidak melaporkan transaksi emas mereka secara terbuka. Rusia dan China, dua kompetitor AS, juga mungkin melakukan pembelian emas dalam jumlah besar.

Di sisi lain data International Monetary Fund (IMF) menunjukkan volume cadangan devisa dolar AS di bank sentral dan lembaga keuangan internasional telah turun empat kuartal berturut-turut dari $7.092 triliun pada Q3 2021 menjadi $6.441 triliun pada Q3 2022.

Grafik volume cadangan devisa dolar AS (Sumber: IMF).

Walau turun dari segi volume, dari segi porsi, penggunaan dolar sebagai mata uang cadangan naik menjadi 59,8% pada Q3 2022. Kenaikan kuartalan ini menjadi yang ketiga kalinya berturut-turut.

Dolar sebagai mata uang cadangan berarti bahwa bank sentral asing dan lembaga resmi lainnya memegang aset berdenominasi dolar AS, seperti sekuritas Treasury, obligasi korporasi AS, sekuritas berbasis hipotek AS, dan sejenisnya.

Kenaikan porsi devisa dolar ini dipicu kebijakan kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS. Sepanjang 2022, suku bunga bank sentral AS telah naik 425 basis poin dari semula 0%-0,25% pada Januari menjadi 4,25%-4,50% per Desember.

Sebelum kenaikan suku bunga agresif, cadangan devisa dolar AS tercatat sebesar 58,81% pada kuartal akhir 2021. Persentase cadangan ini menjadi yang terkecil dalam 26 tahun terakhir, berdasarkan data IMF.

Sebagai perbandingan, jumlah dolar yang jadi cadangan devisa pada kuartal pembuka 2002 atau dua dekade lalu adalah 71,62%. Jumlah itu kemudian susut menjadi 61,68% pada awal 2012, sebelum terus menurun hingga 2021.

Dedolarisasi China dan Rusia

Gelombang pemborongan emas oleh bank sentral tersebut terakhir kali terjadi pada 1976. Saat itu bank sentral Eropa membeli emas dalam jumlah besar dari AS yang menyebabkan penurunan harga dan runtuhnya cadangan London Gold Pool. Kondisi ini mempercepat kematian sistem valuasi mata uang fiat yang terikat dengan emas atau Bretton Woods.

China dan Rusia, dua kompetitor hegemoni AS, nampaknya semakin bersemangat menyodok dominasi dolar AS dalam perdagangan global, termasuk dengan memperkuat cadangan devisa emas.

Dilaporkan Financial Times, People’s Bank of China (PBoC) menyatakan telah melakukan pembelian emas 32 ton senilai sekitar $1,8 miliar pada November 2021. Pembelian ini jadi yang pertama sejak 2019.

Tapi angka pembelian resmi ini dinilai lebih kecil dari jumlah riil. Mark Bristow, kepala eksekutif Barrick Gold, penambang emas terbesar kedua di dunia, mengatakan China telah membeli sekitar 200 ton emas.

Sedangkan Bank Sentral Rusia (CBR) berhenti melaporkan angka cadangan emas bulanan mereka setelah perang dengan Ukraina meletus pada Februari 2022. Petinggi CBR sendiri sudah menyangkal dugaan pembelian emas oleh Rusia.

“Cadangan emas dan devisa kita cukup. Kami tidak punya tugas khusus mengumpulkan emas dan cadangan devisa,” kata Gubernur CBR Elvira Nabiullina pada pertengahan Desember.

Tapi CBR punya rekam jejak yang mesra dengan emas. Julius Baer, sebuah bank swasta Swis, melaporkan CBR memiliki cadangan devisa dalam bentuk emas sebesar 20,9% saat bank tersebut menerbitkan data statistik terakhirnya pada Februari 2022.

CBR juga dilaporkan telah menambah koleksi cadangan emas mereka hingga mencapai lebih dari 1.350 ton. Di sisi lain, mereka mengurangi kepemilikan Treasury AS secara signifikan dari $150 miliar pada 2012 menjadi hanya $2 miliar.

Presiden China, Xi Jinping, belum lama ini turut menabuh genderang perang terhadap kuasa petrodolar. Dalam pertemuan dengan para pemimpin negara Arab pada Desember lalu, Xi menyerukan agar impor minyak dan gas ke negaranya dibayar dengan Yuan, bukan dolar AS. Langkah ini dapat melemahkan dominasi global dolar AS dalam jangka panjang.