Drama Rumor Dumping Bitcoin Grayscale yang Bikin Investor Resah

Share :

Portalkripto.com — Belakangan ini linimasa investor kripto disusupi oleh rumor kemungkinan aksi dumping oleh investor institusional Bitcoin terbesar, Grayscale Investments, LLC. Investor jangka panjang maupun trader dibikin resah dengan kabar yang terus menggelinding.

Pada 10 Desember 2022, CEO Grayscale Investments, Michael Sonnenshein mempublikasikan surat akhir tahun kepada para investor produk investasi Grayscale Bitcoin Trust (GBTC). Isi surat tersebut salah satunya berisi opsi penawaran tender buyback saham GBTC sebesar 20% oleh perusahaan.

“Kami memperkirakan bahwa penawaran tender semacam itu tidak akan lebih dari 20% dari saham GBTC yang beredar,” kata Sonnenshein dalam surat tersebut.

Opsi buyback saham tersebut disinyalir untuk memangkas selisih harga diskon GBTC di bursa Nasdaq, Amerika Serikat (AS). Saat ini saham GBTC mengalami diskon hampir 50%. Hitungan diskon itu diperoleh dari selisih harga saham yang diperdagangkan di Nasdaq dengan harga aktual GBTC yang diukur dari kepemilikan Bitcoin produk investasi tersebut.

Pertanyaan kemudian muncul berkenaan dengan sumber dana segar yang akan digunakan perusahaan untuk membeli saham investor tersebut. Sonnenshein sendiri tidak memberi petunjuk terang benderang apakah Grayscale akan membeli saham dengan cadangan Bitcoin yang dimiliki atau sumber dana lain.

Dalam publikasi di website resminya, GBTC menyatakan mereka memiliki aset di bawah manajemen senilai $10,6 miliar. Bila dikonversi ke dalam Bitcoin, jumlah total dana tersebut mencapai lebih dari 600 ribu keping Bitcoin berdasarkan harga terkini.

Sejumlah pelaku pasar dibuat khawatir bila ternyata Grayscale memang tak punya dana segar dan bakal menjual Bitcoin untuk membeli saham dalam tender buyback tersebut. Pasalnya, skenario aksi dumping ini sangat mungkin berdampak negatif terhadap harga kripto bila terjadi.

GBTC merupakan salah satu investor institusional terbesar Bitcoin. Portofolio lebih dari 600 ribu BTC yang dipegang mewakili sekitar 3% dari keseluruhan total Bitcoin yang beredar sejauh ini.

Kecemasan tentang kondisi Grayscale ini bukan yang pertama kali muncul. Sebelumnya, saat Genesis dilaporkan akan bangkrut jelang akhir November, kekhawatiran serupa juga muncul. Sebabnya, harga diskon saham GBTC sudah terjadi.

Genesis dan Grayscale sendiri punya hubungan tak langsung. Keduanya merupakan anak perusahaan dari Digital Currency Group (DCG) yang juga merupakan pemilik media kripto CoinDesk.

DCG sendiri baru-baru ini dilaporkan menderita kesulitan likuiditas dan membuka opsi mengajukan perlindungan kebangkrutan kepada pengadilan AS.

Sonnenshein dalam suratnya menyatakan bahwa Grayscale, Genesis, dan DCG, bukan rekanan GBTC dan produk investasi kripto Grayscale lainnya. Dengan demikian, kondisi yang dialami masing-masing institusi diklaim tidak memengaruhi operasi Grayscale.

“Grayscale dan produk kami, termasuk GBTC, adalah badan hukum yang terpisah dan berbeda – yang berarti aset yang mendasari GBTC dimiliki oleh GBTC dan pemegang saham GBTC saja.”

Grayscale Investment sendiri tak cuma mengelola produk investasi Bitcoin alias GBTC. Mereka juga memiliki produk investasi tunggal Ethereum, Solana, Chainlink, zCash, Ethereum Classic, Bitcoin Classic, Decentraland, Filecoin, Litecoin, Horizen, Livepeer, dan Stellar Lummens. Ada juga produk diversifikasi token kripto lainnya yang memsukkan portofolio UniSwap, Maker, Compound, Cardano, Polkadot, Polygon, Cosmos, dll.

Portofolio aset kripto yang menjadi dana kelolaan Grayscale Investments, LLC (Sumber: Coinglass).

Opsi Buyback GBTC Belum Pasti

Langkah Grayscale menawarkan buyback saham ini belum tentu kejadian lantaran mereka harus mendapat persetujuan dari para pemegang saham serta bantuan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS.

Sonnenshein juga menyebut bahwa “SEC mungkin tidak memberikan bantuan” sehingga dalam hal ini “GBTC tidak akan dapat mengejar penawaran tender tersebut.”

Opsi buyback ini diajukan lantaran Grayscale gagal mendapatkan persetujuan untuk mengubah GBTC menjadi exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot dari SEC. ETF spot adalah sebuah instrumen yang mengikuti harga aset yang mendasari ETF tersebut secara langsung. Dengan ETF spot, harga saham Bitcoin Grayscale akan cenderung mengikuti nilai Bitcoin.

Grayscale sendiri telah terlibat dalam pertempuran hukum dengan SEC untuk mengubah GBTC menjadi ETF sejak 2017. SEC menolak proposal tersebut karena ETF dinilai berpotensi manipulatif terhadap pasar.

SEC menolak proposal ETF Bitcoin spot GBTC pada 29 Juni 2022. Grayscale kemudian mengajukan sanggahan pembuka terhadap SEC pada 11 Oktober yang dijawab SEC pada 12 Desember. Grayscale kembali akan mengirimkan tanggapan balasan paling lambat pada 13 Januari 2023, yang diikuti tanggapan pamungkas SEC dengan deadline pada 3 Februari mendatang.

Setelah semua proses litigasi tersebut rampung, pengadilan akan memberikan keputusan baru tentang proposal ETF GBTC yang sebelumnya ditolak SEC.