Keuntungan Bitcoin Masih Jauh di Atas Emas dalam 10 Tahun Terakhir

Bitcoin vs emas
Share :

Ringkasan

  • Bitcoin ungguli emas dan perak sejak 2015 dengan kenaikan 27.701%, jauh di atas emas (283%) dan perak (405%).
  • Perdebatan penyimpan nilai kembali memanas, dengan kritik dari pendukung emas Peter Schiff terhadap performa Bitcoin.
  • Analis menyoroti keterbatasan pasokan Bitcoin sebagai pembeda utama dibandingkan komoditas yang produksinya bisa meningkat.
  • Pelemahan dolar AS hampir 10% di 2025 dan kebijakan pelonggaran The Fed dinilai positif bagi aset langka seperti emas, perak, dan BTC.

 

Dalam 10 tahun terakhir, performa Bitcoin masih di atas emas dan perak. Meski, dalam 4 tahun terakhir Bitcoin tertinggal dari kenaikan harga emas.

Berdasarkan data, BTC mencatatkan kenaikan sekitar 27.701% dalam periode tersebut, jauh melampaui kinerja perak yang naik 405% dan emas yang menguat 283%.

“Bahkan jika enam tahun pertama keberadaan Bitcoin diabaikan—untuk mereka yang sering mempersoalkan perbandingan jangka waktu—emas dan perak tetap tertinggal jauh dibandingkan aset puncak ini,” tulis Livingston dalam unggahannya di X.

Emas vs Bitcoin dalam 10 tahun terakhir. Sumber: @AdamBLiv/X

Namun, pandangan ini langsung mendapat tanggapan dari Peter Schiff, pendukung emas sekaligus salah satu pengkritik paling vokal Bitcoin. Schiff menilai perbandingan seharusnya difokuskan pada empat tahun terakhir, bukan satu dekade.

“Zaman sudah berubah. Masa kejayaan Bitcoin telah berlalu,” ujar Schiff.

Perdebatan tersebut turut ditanggapi Matt Golliher, salah satu pendiri perusahaan manajemen kekayaan Bitcoin, Orange Horizon Wealth. Menurutnya, harga komoditas seperti emas dan perak cenderung bergerak mendekati biaya produksi dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Bitcoin Terancam Tutup Tahun di Zona Merah, Bagaimana Analisisnya?

“Ketika harga naik, produksi ikut meningkat, pasokan membengkak, dan pada akhirnya harga kembali turun—kecuali aset tersebut memiliki pasokan tetap,” jelas Golliher.

Ia menambahkan bahwa pada harga saat ini, banyak sumber emas dan perak yang sebelumnya tidak ekonomis kini justru menguntungkan untuk ditambang, sehingga berpotensi menambah suplai.

Perdebatan antara pendukung logam mulia dan komunitas Bitcoin terkait aset mana yang paling efektif sebagai penyimpan nilai jangka panjang kembali memanas. Hal ini terjadi di tengah lonjakan harga emas dan perak ke rekor tertinggi, sementara pergerakan Bitcoin cenderung stagnan dan nilai dolar AS melemah sekitar 10% terhadap mata uang utama dunia.

2025 Emas Cetak ATH

Pada 2025, harga emas mencetak rekor tertinggi baru di kisaran $4.533 per ons, sementara perak juga menembus level tertinggi sepanjang masa mendekati $80 per ons, menurut data TradingView.

Di sisi lain, dolar AS diperkirakan menutup 2025 sebagai salah satu tahun terburuknya dalam satu dekade. Pembawa acara media Ethan Ralph mencatat bahwa Indeks Dolar AS (DXY) telah turun hampir 10% sepanjang tahun ini.

Indeks tersebut mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk euro, yen Jepang, pound sterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.

Pelemahan dolar serta kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve dinilai dapat menjadi katalis positif bagi aset-aset langka seperti emas, perak, dan Bitcoin. Analis Arthur Hayes menilai bahwa tekanan inflasi dan penurunan nilai mata uang fiat justru berpotensi mendorong kenaikan harga aset dengan pasokan terbatas dalam jangka panjang.