Keuntungan Penambang Bitcoin Turun ke Titik Terendah dalam 2 Tahun

Share :

Portalkripto.com — Tingkat keuntungan atau profitabilitas penambang Bitcoin (BTC) masih menunjukkan tren penurunan. Baru-baru ini, data on chain mencatat keuntungan para miners merosot ke level terendah dalam dua tahun terakhir atau sejak awal November 2020.

Tercatat total pendapatan penambangan Bitcoin turun menjadi $11,67 juta per 26 November 2022. Kisaran pendapatan ini terakhir kali terlihat pada awal November 2020. Saat itu satu keping Bitcoin diperdagangkan di harga sekitar $13,500.

Tingkat keuntungan ini juga turun 75% dalam setahun terakhir (year to date) dari $46,59 juta pada November tahun lalu.

Grafik pendapatan penambang Bitcoin 3 tahun terakhir (Sumber: YCharts)

Turunnya keuntungan penambang ini dikonstitusikan beberapa faktor, termasuk salah satunya harga jual Bitcoin yang loyo. Sudah lebih dari sepekan terakhir ini harga Bitcoin ada di angka $16,500. Krisis FTX dan kondisi bear market yang telah terjadi lebih dari setengah tahun membuat daya tawar Bitcoin meluntur.

Hashrate Turun, Difficulty Semakin Tinggi

Selama tiga bulan terakhir, hashrate jaringan Bitcoin mengalami penurunan yang cukup konsisten. Hashrate BTC terkini mencapai 225,9 exahash per detik (EH/s), yang turun 28,6% dari sebelumnya 316,7 EH/s pada 31 Oktober 2022.

Secara sederhana hashrate adalah tingkat kompetisi dalam penamabagan Bitcoin. Semakin banyak dan canggih komputer yang melakukan penambangan, hashrate akan semakin tinggi. Keuntungan pun akan semakin kecil karena dibagi kepada lebih banyak peserta.

Jika hashrate naik, mining difficulty juga diperkirakan naik. Secara umum, mining difficulty adalah salah satu komponen yang menentukan biaya produksi penambangan Bitcoin. Jika mining difficulty tinggi, maka biaya produksi per unit BTC akan meningkat.

Di sisi lain, mining difficulty penambangan blok Bitcoin telah meroket ke level tertinggi sepanjang masa dengan tingkat kesulitan menyentuh angka hampir 37 triliun. Biasanya, bila hashrate turun, mining difficulty akan ikut turun. Namun pola ini nampak belum terlihat.

Kondisi mining difficulty yang meningkat ini memaksa para penambang menghabiskan lebih banyak energi dan daya komputasi agar tetap kompetitif dan menguntungkan.

Tekanan Biaya Listrik

Tekanan biaya listrik yang mahal, ikut menambah-nambah beban para penambang. Harga listrik di AS misalnya, telah melonjak sekitar 13% hingga saat ini.

Berdasarkan data Statista di awal 2022, AS menjadi negara yang menjadi tuan rumah terbesar bagi penambangan Bitcoin dengan total populasi penambang 37,84%, disusul Tiongkok (21,11%), dan Kazakhstan (13,22%).

Kalkulator penambangan Bitcoin, Braiins, mencatat biaya produksi 1 BTC dengan salah satu alat penambangan paling canggih, Bitmain Antminer S19j, saat ini adalah $25,392 atau 35℅ lebih tinggi dari harga BTC.

Biaya aktual penambangan BTC di AS bisa jauh lebih tinggi. Pasalnya, Braiins menghitung ongkos produksi berdasarkan harga listrik $0,038 per kWh. Sedangkan Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan rata-rata biaya listrik nasional mencapai $0,166 per kWh atau dua kali lipat dari tetapan Braiins pada bulan Oktober 2022.

Portal data kalkulasi penambangan BTC lain, MacroMicro, menunjukkan biaya rata-rata penambangan secara global dengan angka lebih rendah, yakni sekitar $23,290, namun angka tersebut masih 30% di atas harga Bitcoin saat ini.

Grafik rata-rata biaya produksi penambangan Bitcoin 6 bulan terakhir (Sumber: MacroMicro)

Penambang Cetak Rekor Penjualan Bitcoin

Data firma investasi Bitcoin, Capriole Investments pekan lalu menunjukkan para penambang mulai melakukan aksi jual BTC secara agresif dengan tingkat penjualan yang melonjak lebih dari 400% dalam tiga pekan terakhir. Meroketnya tingkat penjualan BTC dari penambang ini merupakan rekor yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Grafik aksi jual BTC dari penambang Bitcoin sejak pertengahan 2015 (Sumber: Capriole Investments)