Portalkripto.com — Mining difficulty Bitcoin turun tajam hingga 7,32% menjadi 34 triliun pada Senin, 5 November 2022. Menurut data mining pool BTC.com, penyesuaian yang terjadi di ketinggian blok 766.080 ini merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2021, saat Cina melarang penambangan Bitcoin.

Mining difficulty adalah tingkat kesulitan yang dihitung dari berapa hash yang dibutuhkan penambang untuk memproduksi string kriptografi agar bisa menambahkan blok baru ke rantai. Mining difficulty secara otomatis menyesuaikan diri tergantung pada hashrate atau daya komputasi yang digunakan.
Angka mining difficulty akan berubah setiap dua pekan, atau setiap 2.016 blok. Jika setiap blok dapat diselesaikan kurang dari target 10 menit, mining difficulty akan meningkat.
Biasanya, mining difficulty akan berbanding lurus dengan banyaknya penambang yang beroperasi sehingga penurunannya bisa menjadi sinyal bahwa para penambang telah ‘menyerah’.
Dalam beberapa bulan terakhir, penambang Bitcoin telah terjebak dalam dua tekanan berat. Penurunan harga Bitcoin yang memangkas pendapatan mereka dan kenaikan tarif listrik yang membebani biaya produksi.
Beberapa perusahaan penambangan kripto seperti Core Scientific dan Argo Blockchain harus menghadapi krisis likuidasi. Sementara Compute North telah resmi mengajukan kebangkrutan.
Hashrate yang sempat naik pada 21 November lalu, kini mulai turun karena profitabilitas penambang yang anjlok. Menurut platform indikator hashprice, Luxor, profitabilitas penambang telah turun 20% dalam sebulan terakhir.
“Pada tingkat profitabilitas yang rendah ini, penambang yang menggunakan mesin hemat energi seperti Antminer S19j Pro saja masih memerlukan akses listrik dengan harga kurang dari $0,08 per kWh,” ujar analis di Luxor, Jaran Mellerud.
Menurutnya, meskipun biaya pemakaian listrik rata-rata sekitar $0,05 per kilowatt hour (kWh), banyak penambang yang harus membayar sampai $0,07-$0,08 per kWh. Daya komputasi Bitcoin tersebar di lima mining pool besar dan 12 mining pool lainnya yang lebih kecil.
Pada 10 Oktober lalu, mining difficulty Bitcoin sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masanya di 35,6 triliun. Namun, kenaikannya memberikan dampak signifikan bagi pendapatan penambang.
Sementara penurunan terbesarnya terjadi setelah ada larangan penambangan Bitcoin dari Cina pada Juni 2021. Saat itu, pada ketinggian blok 689.472, mining difficulty Bitcoin anjlok 27,94%.
Outflow Penambang Bitcoin Tinggi
Kejadian tidak biasa juga terlihat pada arus keluar (outflow) Bitcoin dari wallet terafiliasi penambang. Terpantau Bitcoin dalam jumlah besar telah berpindah dari wallet-wallet itu pada 5 Desember 2022.
Perpindahan Bitcoin yang dilakukan penambang bisa menjadi sentimen negatif untuk pasar kripto karena adanya indikasi aksi jual yang masif.
Berdasarkan data platform data on-chain Cryptoquant, tercatat sebanyak 10.993 Bitcoin dipindahkan dari wallet terafiliasi sebagai penambang. Jumlah tersebut terbilang tinggi dan jika ada aksi jual terhadap perpindahan tersebut, maka akan terjadi guncangan terhadap pergerakan harga Bitcoin.



