Penambang Jual Hampir Seluruh Bitcoin yang Ditambang Sepanjang 2022

Share :

Portalkripto.com — Sejumlah penambang besar Bitcoin dilaporkan telah menjual hampir seluruh Bitcoin yang mereka tambang di sepanjang 2022. Coinbase Institusional dalam laporan ‘2023 Crypto Market Outlook’, mengungkapkan, ada 40.300 dari 40.700 BTC yang dijual pada periode 1 Januari hingga 30 November.

Untuk Core Scientific, Bitfarms, Cleans Park, Iris Energy, Argo, dan Bit Digital, Bitcoin yang dijual lebih banyak daripada yang ditambang. Hanya dua penambang besar yang sama sekali tidak menjual Bitcoin di 2022, yakni Marathon dan Hut8.

Aksi jual ini dinilai ikut secara signifikan mempengaruhi harga Bitcoin. Saat ini tersisa sekitar 34.200 BTC yang disimpan oleh 10 perusahaan penambang besar tersebut.

Aktivitas 10 perusahaan penambang Bitcoin besar periode 1 Januari hingga 30 November 2022. (sumber: Coinbase Institusional).

Terdampak kebangkrutan FTX, sejak November lalu jumlah total Bitcoin yang disimpan oleh seluruh penambang (miner reserves) juga turun drastis.

Menurut data CryptoQuant, jumlahnya melorot dari kisaran 1,854 juta BTC menjadi 1,842 juta BTC. Pada Desember ini, kenaikan miner reserves hanya sebesar 1%.

Jumlah kepemilikan Bitcoin penambang. (sumber: CryptoQuant).

Para penambang Bitcoin telah menghadapi tahun yang sulit. Biaya pengeluaran listrik naik, pasar kripto lesu, ditambah mining difficulty terus melonjak dan pengeluaran untuk produksi bertambah.

Pada September lalu, Compute North, mengumumkan bangkrut. Sebulan kemudian, Argo Blockchain mengeluarkan pengumuman kemungkinan penghentian operasional sementara jika gagal mendapatkan pendanaan.

Tak lama, Core Scientific juga mengindikasikan potensi bangkrut dan kesulitan membayar utang. Pada November, Iris Energy menghentikan sementara sebagian operasional pertambangan karena tidak bisa membayar utang pinjaman.

Meski para penambang terseok-seok dari paruh pertama 2022, tetapi hashrate atau daya komputasi yang digunakan saat menambang, tetap melesat naik. Fenomena ‘aneh’ ini diduga terjadi karena saat bull market 2021, banyak penambang di Amerika Serikat (AS) yang membangun fasilitas penambangan Bitcoin secara masif demi meraup untung.

Di luar AS, Rusia juga dilaporkan telah banyak membangun fasilitas serupa dengan memanfaatkan sumber energi murah di negaranya. Penambang Cina bahkan banyak yang kembali beroperasi meski ada larangan dari pemerintah pada 2021.

Baru pada awal Desember 2022, mining difficulty Bitcoin mengalami penurunan tajam hingga 7,32% menjadi 34 triliun, yang berarti hashrate juga menjinak. Penyesuaian yang terjadi di ketinggian blok 766.080 ini merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2021, saat Cina melarang penambangan Bitcoin.