Penyebab Harga Bitcoin Turun Hari Ini: Tekanan Jual Whale Tak Terbendung

Penyebab Harga Bitcoin Turun Hari Ini:
Share :

Ringkasan

  • Whale Tekan Harga: Pemegang besar menjual Bitcoin secara kumulatif senilai $2,78 miliar, membuat BTC jatuh di bawah $86.000.
  • Ritel Masih Akumulasi: Trader ritel dan menengah memborong BTC hingga $474 juta, namun belum mampu menyerap tekanan jual institusional.
  • Sinyal Kapitulasi: Indikator STH-SOPR turun ke 0,99, menandakan pemegang jangka pendek menjual dalam kondisi rugi.
  • Risiko Turun Lanjutan: Struktur teknikal melemah, membuka peluang Bitcoin menguji area likuiditas $83.800 hingga $80.600.

Strategic Opportunity: Portalkripto Is Open for Full Acquisition

Portalkripto.com, an established crypto media platform in Indonesia,
is currently seeking a new owner. The company is offering
100% ownership transfer as part of a full acquisition opportunity.

This opportunity is ideal for media groups, Web3 companies, investors,
or strategic partners looking to expand their presence in the
Indonesian crypto and digital asset ecosystem.

Contact for Acquisition Details

Serious inquiries only. All discussions will be handled confidentially.


 

Tekanan jual Bitcoin kembali terjadi seteleh pemegang besar (whale) melakukan penjualan yang cukup kuat dengan melepas senilai $2,78 miliar BTC secara kumulatif.

Alhasil harga Bitcoin (BTC) tidak bisa mempertahankan level $90 ribu dan kembali runtuh ke bawah level $86.000 pada perdagangan Selasa, 16 Desember 2025.

Whale Menguasai Sisi Jual, Ritel Bertaruh di Area Bawah

Data aliran order dari Hyblock Capital menunjukkan perbedaan perilaku yang tajam antar kelompok pelaku pasar. Trader ritel dengan ukuran dompet $0–$10.000 mencatat akumulasi delta volume sekitar $169 juta, secara konsisten membeli di tengah tren turun.

Harga Bitcoin dan Akumulasi Volume Delta. Sumber: Hyblock

Sementara itu, pelaku pasar menengah ($1.000–$100.000) menambah posisi spot bersih hingga $305 juta, mencoba mengantisipasi potensi pemulihan.

Namun, dominasi tetap berada di tangan whale ($100.000–$10 juta), yang mencatat delta volume kumulatif negatif sebesar $2,78 miliar. Daya beli ritel dan investor menengah belum cukup untuk menyerap distribusi berskala institusional.

Situasi ini menciptakan ketidakseimbangan likuiditas: pelaku kecil melihat harga di bawah $100.000 sebagai peluang diskon, sementara pemegang besar justru menganggap area yang sama sebagai momen ideal untuk mengurangi eksposur.

BACA JUGA: Bitcoin Bisa Turun Hingga 25% Tahun Ini Jika Jepang Menaikan Suku Bunga

Kapitulasi Pemegang Jangka Pendek, Tapi Belum Ada Sinyal Balik Arah

Analis on-chain Axel Adler Jr menyoroti indikator Short-Term Holder SOPR (rata-rata 7 hari) yang turun di bawah angka 1 dan kini berada di sekitar 0,99. Ini menandakan bahwa koin yang dipegang kurang dari 155 hari rata-rata dijual dalam kondisi rugi.

Secara historis, kondisi ini kerap bertepatan dengan fase kapitulasi lokal—saat tekanan jual memuncak. Namun, Adler menegaskan bahwa stres pasar saja belum cukup menjadi sinyal pembalikan.

Pemulihan berkelanjutan biasanya baru dimulai ketika SOPR kembali menembus dan bertahan di atas 1, yang menunjukkan permintaan mulai menyerap suplai.

Bitcoin Berpeluang Uji Area Likuiditas Lebih Rendah

Dari sisi teknikal, struktur harga Bitcoin semakin melemah. BTC telah keluar dari pola rising wedge, menembus monthly VWAP (volume-weighted average price), dan membentuk bearish break of structure (BOS) di bawah level $87.600.

Dengan tren bullish jangka pendek yang telah gugur, Bitcoin kini terbuka untuk menguji target penurunan di sekitar area likuiditas sebelumnya. Target terdekat berada di kisaran $83.800, sementara koreksi lebih dalam menuju $80.600—level terendah kuartalan—tetap terbuka jika tekanan jual berlanjut.

Untuk saat ini, baik data order flow maupun indikator on-chain menunjukkan bahwa pasar masih membutuhkan waktu dan kesabaran sebelum dapat menyimpulkan terbentuknya dasar harga yang solid.

 

❓ FAQ Bitcoin & Analisa On-Chain

📈 Apa itu analisa teknikal dalam kripto?

Analisa teknikal adalah metode untuk memprediksi arah harga kripto berdasarkan data historis seperti harga dan volume perdagangan. Alat-alat populer yang digunakan termasuk MACD, RSI, dan Moving Average.

🔗 Apa itu analisa on-chain Bitcoin?

Analisa on-chain adalah pendekatan yang menggunakan data blockchain seperti transaksi, aktivitas dompet, dan distribusi koin untuk memahami perilaku investor dan mengukur kesehatan jaringan kripto seperti Bitcoin.

📊 Apa itu Puell Multiple?

Puell Multiple membandingkan pendapatan harian para penambang Bitcoin (dalam USD) dengan rata-rata 365 hari sebelumnya. Ini digunakan untuk mengetahui apakah harga Bitcoin sedang berada pada zona undervalued atau overvalued dari perspektif penambang.

💡 Apa itu STH-SOPR?

STH-SOPR (Short-Term Holder Spent Output Profit Ratio) mengukur apakah pemegang Bitcoin jangka pendek menjual aset mereka dalam kondisi untung (>1) atau rugi (<1), membantu mengidentifikasi potensi tekanan jual jangka pendek.

👁️ Apa itu UTXO dalam analisa on-chain?

UTXO (Unspent Transaction Output) adalah unit dari saldo Bitcoin yang belum digunakan dalam transaksi. UTXO digunakan dalam analisa on-chain untuk melihat jumlah koin yang belum dipindahkan atau dijual, memberikan gambaran potensi tekanan jual.