Perusahaan Kripto yang Bangkrut di Tahun 2022

Share :

Portalkripto.com — Tahun 2022 menjadi periode yang penuh liku dan lara bagi para investor dan pemain besar di industri kripto. Industri yang baru tumbuh seumur jagung ini harus menghadapi gejolak bertubi-tubi setelah memperlihatkan tren yang menjanjikan pada tahun sebelumnya.

Tren bear market yang terjadi nyaris sepanjang tahun, ditambah parade keruntuhan di pertengahan dan menjelang akhir tahun yang diorkestrasi Terra Luna serta FTX, membuat wajah industri tampak babak belur.

Beberapa pemain besar, harus rela tersingkir dari arena pertempuran. Parade kebangkrutan tak bisa dihindari dan mengekor sirkus keruntuhan Terra Luna dan FTX.

Potret muram wajah industri ini dapat dilongok dari sejumlah indikator. Data CoinMarketCap misalnya, menunjukkan kapitalisasi pasar kripto yang merosot lebih dari 60% per 16 Desember bila dibandingkan dengan nilai pasar per 1 Januari.

Harga Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH), dua koin terbesar yang kerap menjadi patokan, nasibnya tak lebih baik. Angka penurunan lebih dari 60% terlihat untuk kedua koin.

Indikator lainnya, sejumlah pemain besar di industri kripto bertumbangan. Parade kebangkrutan ini telah menimbulkan kerugian hingga ratusan triliun bagi investor institusional dan eceran.

Terdapat setidaknya enam perusahaan yang telah mengajukan kebangkrutan sejak awal Juli hingga akhir November, dimulai dengan Three Arrows Capital (3AC) hingga BlockFi. Ada juga yang terkatung-katung mencoba bertahan.

1. Three Arrows Capital (3AC)

Three Arrows Capital merupakan perusahaan hedge fund kripto yang mengajukan kebangkrutan pada 1 Juli. Penyebab utama kehancuran 3AC adalah kepemilikan token LUNA yang runtuh bersama dengan UST akibat aksi jual besar-besaran pada Mei.

3AC mengajukan kebangkrutan Bab 15 yang disediakan pengadilan Amerika Serikat (AS) untuk perusahaan yang dijalankan di luar negeri. Perusahaan ini memiliki utang $3,5 miliar kepada 27 perusahaan berbeda, termasuk Blockchain.com, Voyager Digital, dan Genesis Global Trading.

2. Voyager Digital

Voyager Digital jadi perusahaan kripto terbesar kedua yang jatuh ke dalam kubangan kebangkrutan. Perusahaan broker kripto ini mengajukan kebangkrutan Bab 11 di pengadilan New York beberapa hari setelah 3AC, tepatnya pada 5 Juli.

Beberapa hari sebelum ajuan kebangkrutan, Voyager sempat menghentikan penarikan dana klien. Mereka dilanda kesulitan keuangan lantaran kehilangan dana $650 juta di 3AC yang keburu bangkrut.

Voyager sempat diwacanakan akan dibeli seharga $1,4 miliar oleh FTX, namun FTX belakangan juga bangkrut. Belakangan aset Voyager diakuisisi Binance dengan tebusan $1,22 miliar atau setara Rp15,9 triliun.

3. Celcius

Perusahaan lending, staking, dan trading Celcius Network mengajukan kebangkrutan pada 13 Juli. Tanda-tanda kebangkrutan Celsius sudah nampak sekitar sebulan sebelumnya. Saat itu, mereka sempat membekukan penarikan dana, transfer, dan aktivitas trading klien.

Kondisi bear market berkepanjangan dan kesulitan keuangan membuat Celsius terpaksa gulung tikar. Celsius juga terkena dampak dari kebangkrutan 3AC lantaran duit mereka sebanyak $75 juta dipinjam 3AC.

Wall Street Journal mencatat perusahaan ini memiliki total utang $5,5 miliar di mana $4,7 miliar di antaranya adalah milik kreditur pengguna platform.

4. Compute North

Compute North merupakan perusahaan penambangan Bitcoin yang berbasis di Minnesota, AS. Compute North mengajukan kebangkrutan Bab 11 pada 22 September.

Perusahaan ini terpaksa tutup buku lantaran dihadapkan dengan keadaan ekonomi sulit. Kesulitan itu salah satunya dipicu kenaikan biaya energi untuk penambangan yang memperparah kerugian akibat tren bear market dan kehancuran Terra Luna. Bear market kripto yang membuat harga Bitcoin jatuh membuat keuntungan penambangan Bitcoin ikut menyusut tajam.

Compute North telah menjual sejumlah asetnya termasuk dua fasilitas penambangan senilai $5 juta kepada mantan krediturnya untuk menutup sebagian kerugian.

5. Grup FTX Group dan Alameda Research

FTX, exchange kripto terbesar kedua berdasarkan volume trading setelah Binance, mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 pada 11 November kepada pengadilan Delaware, AS. Pengajuan kebangkrutan diajukan untuk lebih dari 100 entitas termasuk Alameda Research yang merupakan sister company FTX.

FTX hancur lebur setelah aksi likuidasi besar-besaran yang dilakukan para pelanggan sejak 6 November. Salah satu pemantiknya adalah pengumuman bos Binance yang menyatakan akan menjual seluruh token native FTX, FTT, lantaran token tersebut dijadikan kolateral atau jaminan utang untuk meminjam uang oleh Alameda Research.

Commodity Futures Trading Commission (CTFT) menyatakan kebangkrutan FTX ini menimbulkan kerugian lebih dari $8 miliar bagi seluruh pengguna yang mendepositkan dananya di FTX.

6. BlockFi

Perusahaan pemberi pinjaman kripto, BlockFi, menjadi pemain besar industri kripto terakhir yang sejauh ini mengajukan kebangkrutan. Pengajuan kebangkrutan Bab 11 BlockFi terjadi pada 28 November.

Sebelum bangkrut, BlockFi sudah memperlihatkan kondisi tidak baik-baik saja. Pada 13 Juni, perusahaan tersebut harus memecat 20% karyawannya dengan alasan efisiensi.

Perusahaan ini juga menangguhkan penarikan dana pada 10 November setelah keruntuhan awal FTX sambil mencari kejelasan lebih lanjut tentang apa yang telah terjadi.

Dalam pengajuan kebangkrutan Bab 11 BlockFi pada 28 November, FTX US terdaftar sebagai kreditur dengan klaim tanpa jaminan sebesar $275 juta, tampaknya dari batas kredit yang ditutup beberapa bulan lalu.

BlockFi kemudian diselamatkan oleh dana bailout FTX US sebesar $250 juta yang diberikan pada 21 Juni. Nilai tersebut kemudian bertambah menjadi $400 juta.

Dalam pengajuan kebangkrutannya, BlockFi memperkirakan mereka memiliki aset $1 miliar, sedangkan total liabilitas alias utang yang mesti dilunasi perusahaan mencapai $10 miliar.

Terra Luna, Genesis dan Core Scientific

Terra Luna dan Genesis merupakan dua pemain besar kripto lainnya yang sulit dikecualikan. Yang pertama merupakan ekosistem koin cryptocurrency, sedangkan Genesis adalah perusahaan peminjaman kripto.

Terra adalah jaringan blockchain yang menerbitkan koin LUNA dan stablecoin algoritmik Terra USD (UST). Ekosistem Terra Luna hancur lebur dalam kurun sepekan pada akhir Mei.

Pemicunya adalah aksi jual besar-besaran UST sehingga stablecoin tersebut gagal mempertahankan harga patoknya terhadap dolar AS sebesar $1 per keping. UST kehilangan hampir semua nilainya setelah sebelumnya memiliki kapitalisasi pasar setinggi $40 miliar. Harga koin LUNA juga sama hancurnya dari $86 pada 5 Mei, menjadi nyaris nol pada 13 Mei.

Secara teknis, Terra Luna tidak bangkrut namun kehancuran harga yang monumental ini membuat para pemilik LUNA dan UST kehilangan uang mereka dengan perkiraan kerugian sebesar $60 miliar.

Sedangkan Genesis, sempat mewanti-wanti para investor bahwa mereka mungkin saja harus mengajukan kebangkrutan, menurut laporan Bloomberg pada 21 November. Namun Genesis kemudian membantah dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengajukan kebangkrutan.

Sebelumnya, pada 10 November, Genesis mengungkapkan bahwa dana mereka sekitar $175 tertahan di FTX yang saat itu tengah dibekap krisis.

Pada 16 November, Genesis mengumumkan telah menghentikan sementara penarikan dana pengguna dengan alasan “gejolak pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya” setelah keruntuhan FTX.

Pada akhir November, dilaporkan bahwa sejumlah kreditur Genesis tengah bekerja sama dengan pengacara keuangan untuk membantu mengeluarkan perusahaan kripto itu dari krisis kebangkrutan.

Sementara itu, perusahaan penambang Bitcoin raksasa, Core Scientific, dilaporkan hampir mengalami kebangkrutan. Perusahaan itu disebut-sebut sedang bersiap mengajukan perlindungan kepailitan Bab 11 ke pengadilan AS.

Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki cukup uang tunai untuk bertahan hingga tahun 2023. Core Scientific juga memperkirakan sumber daya kas yang ada akan habis pada akhir tahun 2022 atau lebih cepat.

Perusahaan ragu dapat mengumpulkan dana melalui pasar modal atau pembiayaan lainnya. Saham Core Scientific telah turun 98% sepanjang tahun 2022. Harga saham perusahaan merosot 30% lebih lanjut dalam perdagangan pra-pasar pada 21 Desember menyusul berita pengajuan kebangkrutan yang akan datang.