Ruja Ignatova, Cryptoqueen yang Jadi Buronan FBI

Share :

Portalkripto.com — Pada Juni 2016, Ruja Ignatova berhasil menghipnotis ratusan investor di Wembley Arena, London, Inggris. Dengan percaya diri ia mempromosikan OneCoin sebagai Bitcoin killer di pasar kripto.

“Dalam dua tahun, tidak ada yang akan membicarakan Bitcoin lagi,” ujar perempuan yang menyebut dirinya sendiri sebagai ‘cryptoqueen’ itu, dikutip CNN.

Sayangnya, pada Oktober 2017, Ignatova yang telah mengantongi dana investor, menghilang. Otoritas AS mengatakan Ignatova berhasil membawa kabur uang investor sebesar $4 miliar dan menyebut OneCoin sebagai skema penipuan terbesar abad ini.

Ia telah masuk dalam daftar 10 orang paling dicari oleh FBI bersama penjahat-penjahat kelas kakap lainnya. Dan ia satu-satunya perempuan. Sejak 1950, dari 529 buron yang ada dalam daftar FBI, diketahui hanya ada 11 perempuan.

Ruja Ignatova masuk daftar buronan FBI. (dok. FBI)

Terobsesi Jadi Kaya Sejak Kecil

Ignatova merupakan warga negara Jerman yang lahir di Bulgaria. Ayahnya bekerja sebagai insinyur, sementara ibunya guru.

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Missing Crypto Queen’, penulis Jamie Bartlett mengatakan, Ignatova pindah ke Jerman dengan keluarganya saat ia masih kecil. Perempuan yang senang belajar dan bermain catur itu dikenal pintar tertapi sering menyendiri.

Ignatova berhasil mendapatkan beasiswa di Universitas Konstanz di Jerman. Ia menikah dengan sesama mahasiswa hukum, tetapi menyatakan tidak ingin memiliki anak.

Menurut Bartlett, Ignatova terobsesi untuk menjadi miliarder di usia 30. “Dia sangat ingin menjadi kaya, bahkan setiap pagi membaca buku tentang cara menghasilkan uang,” tulis Bartlett.

Setelah lulus dan melanjutkan studi hukum Eropa di Universitas Oxford, Ignatova mendapat pekerjaan di Kota Sofia sebagai konsultan untuk McKinsey & Company, perusahaan konsultan manajemen internasional.

Dari sinilah ia berhasil menjerat banyak mangsa, terlebih ia menguasai banyak bahasa mulai dari Rusia, Jerman, Inggris, hingga Bulgaria. Ignatova juga dikenal suka menggunakan gaun dan perhiasan mewah untuk menarik kepercayaan calon investor.

OneCoin Janjikan 10 Kali Lipat Keuntungan

Ignatova dan pendiri OneCoin lainnya, Karl Sebastian Greenwood, mulai memperkenalkan OneCoin ke investor-investor di Eropa, Amerika Serikat, dan belahan dunia lain pada 2014. Mereka melakukan banyak webinar dan konferensi.

OneCoin memiliki cara kerja yang sama dengan multilevel marketing (MLM), yakni investor akan mendapatkan komisi jika berhasil merekrut investor lain untuk membeli OneCoin. Ada beberapa paket pembelian yang tersedia bagi investor, mulai dari level ‘starter’ hingga level ‘tycoon trader’.

Hal yang paling mencengangkan adalah, Ignatova menjanjikan investor lima hingga sepuluh kali lipat keuntungan dari investasi mereka di OneCoin. Investor yang termakan janji mulai merogoh kocek dalam-dalam. Dari 2014 hingga 2016, uang yang terkumpul mencapai $4 miliar. Sebanyak $50 juta di antaranya berasal dari investor di AS.

Meski diklaim sebagai ‘Bitcoin killer’, OneCoin tidak ditambang seperti yang diumbar Ignatova. Tokennya dibuat oleh software biasa. Harga OneCoin juga tidak bergantung pada permintaan dan penawaran pasar selayaknya kripto lain, melainkan dimanipulasi oleh para pendirinya sendiri.

Ignatova dan Greenwood, diduga sengaja membuat OneCoin dengan tujuan untuk menipu investor melalui skema Ponzi. Hal ini diketahui dari dokumen pengadilan.

Keduanya bertukar email terkait konsep OneCoin dengan subjek ‘trashy coin’ yang artinya koin sampah. Greenwood bahkan menyebut para investor dengan kata ‘idiot’ dan ‘gila’ dalam email yang ditujukan kepada adik Ignatova, Konstantin Ignatov, yang juga terseret kasus penipuan ini.

Ignatova ternyata telah menyiapkan strategi untuk melarikan diri sejak 2014. Kepada Greenwood ia mengatakan, mereka harus mengambil uang investor, kabur, dan melimpahkan kesalahan ke pihak lain.

Kabur dan Diduga Operasi Plastik

Kekacauan dimulai pada akhir 2016, saat para investor mengaku tidak bisa menjual token OneCoin mereka. Sejak saat itu, dunia baru menyadari bahwa token kripto bodong tersebut adalah scam dan pendirinya telah melakukan rug pull.

Ignatova diduga kabur setelah mengetahui bahwa pasangan hidupnya bekerja sama dengan otoritas AS untuk menyelidiki OneCoin. Ia melarikan diri pada 25 Oktober 2017 dengan melakukan penerbangan komersial dari Sofia, Bulgaria, ke Athena, Yunani.

FBI menduga ia telah menggunakan paspor Jerman untuk berpindah-pindah dari Athena ke Uni Emirat Arab, Jerman, Rusia, Eropa Timur, dan kembali ke Bulgaria. Lembaga hukum AS itu telah menyiapkan uang $100.000 bagi siapapun yang memberikan informasi terkait Ignatova.

Sang cryptoqueen dijerat pidana wire fraud, konspirasi untuk melakukan wire fraud, penipuan sekuritas, dan konspirasi untuk melakukan pencucian uang. Masing-masing tuntutan pidana itu bisa menjeratnya dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Sementara jalan kabur Greenwood tak semulus Ignatova. Pria tersebut ditangkap pada Juli 2018 di rumahnya di Koh Samui, Thailand, dan langsung diekstradisi ke AS.

Sedangkan adik Ignatova, Konstantin Ignatov, ditangkap pada Maret 2019 di Los Angeles International Airport. Greenwood akan divonis pada April dan Ignatov akan divonis pada Februari tahun ini.

Setelah menghilang sampai saat ini, Ignatova belum kunjung ditemukan. Ia bahkan dilaporkan telah meninggal dan atau melakukan operasi plastik. FBI membuka kemungkinan perempuan tersebut mengubah penampilannya menjadi pria.

Nama Ignatova Muncul di Inggris

Nama Ruja Ignatova kembali muncul untuk pertama kalinya dalam lima tahun menjadi buronan. Pada Minggu, 29 Januari 2023, sebuah properti mewah di Kensington, Inggris, terdaftar untuk dijual seharga $15,5 juta, yang kemudian turun menjadi $13,6 juta.

Di bawah undang-undang Companies House, nama pemilik properti harus dicantumkan secara lengkap jika properti tersebut akan dijual. Ternyata pemiliknya adalah Ignatova, dalam pengelolaan Abbots House Penthouse Limited sejak Mei 2016.

Laporan ini menunjukkan bahwa Ignatova masih hidup. Penemuan sang cryptoqueen ini juga membuka jalan bagi penyidik untuk terus melakukan pemburuan.