AS akan Keluarkan Kebijakan Fiskal Terbesarnya, Apa Dampak Bagi Cryptocurrency?

Portalkripto.com– Harga Bitcoin pada perdagangan Jumat, 28 Mei 2021, mengalami koreksi hingga 3,90% ke level US$ 36 ribu. Padahal, sebelumnya, Bitcoin hampir breakout dengan menyentuh harga US$ 40 ribu. 

Penurunan kembali harga BTC ini berbarengan dengan akan diumumkannya kebijakan fiskal Amerika Serikat yang akan menggelontorkan anggaran sebesar US$ 6 triliun yang akan digunakan untuk perbaikan ekonomi negara tersebut.

Rencananya, Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan mengumumkan hal tersebut pada 28 Mei 2021 (waktu AS). Dikutip dari The New York Times, kebijakan fiskal yang akan diumumkan tersebut merupakan kebijakan pengeluaran anggaran paling besar sejak Perang Dunia Kedua. 

Rencananya, dana sebesar US$ 6 triliun tersebut akan dibelanjakan untuk sejumlah proyek investasi di bidang infrastruktur, pendidikan dan perawatan kesehatan. Anggaran tersebut akan digunakan pada tahun 2022.

“Proposal kebijakan tahun fiskal 2022 dan dekade berikutnya menunjukkan ambisi Joe Biden untuk menggunakan kekuasaan pemerintah guna membantu lebih banyak orang Amerika mencapai kenyamanan kehidupan kelas menengah dan untuk mengangkat industri AS agar dapat bersaing lebih baik secara global,” tulis The New York Times, 27 Mei 2021.

Kebijakan ini tentu sedikitnya akan berpengaruh pada pasar mata uang crypto. Di mana, saat ekonomi AS mulai bangkit, gairah investor pun semakin menguat. Namun, apakah investor akan beralih berinvestasi pada aset lain seperti emas serta obligasi atau sebaliknya ke mata uang crypto?

LIHAT JUGA: Rezim Baru Pasar Bitcoin: Kondisi Keuangan Global Kini Turut Mempengaruhi

Sejarah mencatat, setiap adanya kebijakan stimulus Amerika Serikat, sebagian besar investor malah tertarik menginvestasikan pada aset crypto. Seperti yang terjadi di bulan Maret 2020, saat Pemerintah AS menggelontorkan dana besar-besaran untuk melawan pandemi Covid 19. 

Kebijakan tersebut malah membuat harga BTC semakin menguat hingga awal 2021 dari level terendah $ 3.858 di bulan Maret 2020, meningkat 1.582%.

Sementara itu, analis  dari Pomp Invesment Anthony “Pomp” Pompliano, menilai kebijakan fiskal AS ini sama saja dengan mendorong keterpurukan ekonomi AS. Kebijakan ini dinilai akan menambah beban utang negara sekaligus menghancurkan mata uang dollar. 

Sejarawan akan menulis bahwa pemerintah mempercepat penghancuran mata uang cadangan dunia saat warga menyemangati mereka,” ujarnya dikutip dari Cointelegraph.

LIHAT JUGA: Miliarder Penentang Crypto ini Kini Umumkan Kepemilikan Bitcoin

Hal ini pula yang dicemaskan oleh miliarder Ray Dalio. Kepada Coindesk, ia mengemukakan alasannya yang kini lebih memilih Bitcoin dibandingkan obligasi adalah karena ia menilai dolar AS berada di ambang devaluasi pada tingkat yang terakhir terlihat pada tahun 1971. 

Selain itu menurutnya, saat ini China telah menjadi ancaman bagi mata uang kertas yang dicetak di AS sebagai mata uang cadangan dunia.

Menurutnya, dalam kondisi seperti itu, Bitcoin terlihat semakin menarik sebagai alat investasi untuk menyimpan nilai aset.  “Saya punya bitcoin,”ujarnya.