Binance Disebut Perusahaan Cina, CZ Meradang

Share :

Portalkripto.com — CEO Binance Changpeng Zhao meradang usai mendengar konspirasi yang menyebut perusahaannya merupakan entitas kriminal yang berbasis di Cina dan diatur oleh Pemerintah Cina.

Dalam sebuah unggahan blog yang dirilis Binance pada Kamis (1/9), pria yang akrab disapa CZ itu menjelaskan mengenai sosok Guangying Chen. Sebelumnya, seorang mantan jurnalis The Washington Post juga pernah bertanya soal sosok ini.

CZ menjelaskan, konspirasi ini muncul setelah ada isu yang menyebutkan ia memiliki seorang teman dekat berkebangsaan Cina bernama Guangying Chen. Chen disebut sebagai pemilik rahasia Bijie Tech (perusahaan yang didirikan CZ pada 2015) dan pendiri Binance.

Namun, CZ menjelaskan, Chen adalah rekan kerja yang dikenalnya dari seorang teman. Chen awalnya direkrut CZ untuk mengelola back office di Bijie Tech sebelum kemudian direkrut Binance.


Anda Juga Bisa Baca Artikel Lain

Pendapatan Penambangan Bitcoin Agustus Meningkat 10%

Dolar Sentuh Titik Tertinggi dalam 20 Tahun, Kapitalisasi Pasar Kripto Anjlok


Sebuah situs bahkan menuding Chen memiliki 93% saham di Bijie Tech dan Binance. Atas tuduhan ini, CZ menduga ada pesaing yang sengaja melakukannya untuk menjatuhkan Binance.

“Imbasnya, dia (Chen) dan keluarganya menjadi target perundungan di media massa dan media online. Seandainya saya tahu begitu besar dampak negatif konspirasi ini terhadap hidupnya, saya tidak akan pernah memintanya melakukan langkah yang berbahaya ini,” ungkapnya, dikutip Cointelegraph.

CZ juga dengan keras membantah perusahaannya memiliki hubungan erat dengan Cina dan pemerintahannya. Ia bahkan mengaku banyak memiliki pengalaman pribadi dan pengalaman bisnis yang tidak mengenakkan dengan otoritas Cina.

“Tantangan besar yang dihadapi Binance (dan exchange luar negeri lainnya) saat ini adalah, kami telah ditetapkan sebagai entitas ilegal di Cina. Pada saat yang sama, pesaing kami justru tengah menuduh kami adalah perusahaan asal Cina,” ujar CZ.

Menurutnya, konspirasi ini diperkuat dengan fakta bahwa ia dan beberapa karyawan Binance berasal dari etnis Cina. Dengan demikian, katanya, Binance bisa menjadi sasaran empuk bagi siapapun yang ingin menjegal, termasuk media.

Salah satu media yang memberitakan tentang masalah ini adalah Fortune India. Pada Selasa (30/8), media online ini menerbitkan artikel yang menyebut Binance adalah exchange kripto asli Cina yang telah menginvasi India secara ilegal.

CZ mengaku merasa heran dengan narasi tersebut mengingat Binance sendiri tidak pernah secara hukum didirikan di Cina. Bahkan Binance tidak pernah beroperasi seperti perusahaan Cina.

“Selama dua tahun terakhir, kami berekspansi ke Eropa dan Timur Tengah, dan merekrut tim yang lebih senior. Tim eksekutif Binance sekarang lebih didominasi oleh orang Eropa dan Amerika,” ungkap CZ.

Latar Belakang CZ dan Binance

CZ mengaku telah melarikan diri dari Cina ke Kanada sejak usianya 12 tahun. Pada 2015, ia sempat kembali ke Cina untuk mendirikan sebuah perusahaan, tetapi perusahaannya ditutup oleh Pemerintah Cina.

“Dua tahun sebelum ada Binance, saya mendirikan perusahaan yang bernama Bijie Tech, yang menyediakan platform pertukaran. Kami memiliki 30 klien dan bisnisnya bagus. Sayangnya pada Maret 2017, Pemerintah Cina menutup semua layanan pertukaran,” jelasnya.

Bersama beberapa karyawan Bijie Tech yang tersisa, CZ meluncurkan Binance pada Juli 2017. Namun, Pemerintah China kembali menutupnya enam minggu setelah peluncuran dengan mengeluarkan memorandum yang menyatakan exchange kripto tidak diizinkan untuk beroperasi di Cina

“Mereka kemudian memblokir platform kami di bawah aturan Great Firewall. Pada titik ini, sebagian besar karyawan kami meninggalkan Cina. Hanya sejumlah kecil agen layanan pelanggan yang tersisa hingga akhir 2018,” katanya.

Binance kemudian secara resmi didirikan di Kepulauan Cayman pada 2017, tetapi saat ini tidak memiliki kantor pusat resmi. Perusahaan ini mengukuhkan diri sebagai exchange kripto terbesar di dunia dengan jumlah pelanggan 28,6 juta dan nilai perusahaan $300 juta per akhir 2021.