Harga Bitcoin melonjak lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir ke level $82.300, memimpin reli pasar aset kripto. Kenaikan ini terjadi seiring meredanya sejumlah tekanan makroekonomi global, sekaligus memperkuat korelasi Bitcoin dengan indeks saham S&P 500 yang kini mencapai 97%.
Kenaikan ini pun mengindikasikan bahwa pergerakan harga aset kripto masih sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga.

Sinyal The Fed dan Redanya Ketegangan Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Reli harga Bitcoin dipicu oleh pertemuan dua faktor makro sekaligus. Pertama, jeda dalam ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan harga minyak dunia yang berisiko memicu inflasi baru.
Kedua, Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, memberikan sinyal dukungan untuk mempertahankan suku bunga apabila data inflasi menunjukkan perbaikan. Pernyataan ini langsung menekan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada bulan September, dari sebelumnya 63% menjadi 50%.
BACA JUGA: Bitcoin Tembus Moving Average 200 Hari untuk Pertama Kalinya sejak November 2025
Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga umumnya menguntungkan aset-aset berisiko seperti Bitcoin, karena investor cenderung mengurangi premi risiko yang mereka tetapkan terhadap aset tersebut.
Pasar kini menanti dua data penting yang akan menguji arah kebijakan The Fed selanjutnya: laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pada 4 September, serta data inflasi (CPI) pada 11 September.
Short Squeeze dan Breakout Teknikal Perkuat Momentum
Selain faktor makro, lonjakan harga turut dipicu oleh gelombang likuidasi posisi short (short squeeze) dalam skala besar. Tercatat lebih dari US$262 juta posisi short Bitcoin terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, melonjak 419% dibandingkan hari sebelumnya. Aksi pembelian paksa akibat likuidasi ini turut memperbesar momentum kenaikan harga.
Dari sisi teknikal, Bitcoin berhasil menembus kembali level rata-rata pergerakan 50 minggu (50-week moving average) di kisaran US$81.041 — level resistensi penting yang sebelumnya berulang kali menahan laju kenaikan harga selama pasar bearish.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa penguatan yang didominasi oleh aksi derivatif dan likuidasi paksa berisiko rentan terhadap pembalikan arah yang cepat, apabila tidak diikuti oleh aliran pembelian di pasar spot secara berkelanjutan.
Proyeksi Jangka Pendek: Level Kunci di US$80.000 dan US$78.000
Arah pergerakan harga dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi serta kemampuan harga bertahan di level-level kunci.
Skenario utama: Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas level support US$80.000, target kenaikan berikutnya berada pada zona resistensi US$82.000–US$83.000.
Skenario risiko: Sebaliknya, jika harga jatuh di bawah US$78.000, hal ini akan membatalkan struktur bullish yang terbentuk dan mengindikasikan bahwa reli yang terjadi murni didorong oleh aksi short covering, bukan minat beli fundamental.
Laporan ketenagakerjaan AS pada 4 September disebut menjadi pemicu jangka pendek paling krusial yang berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Aliran dana pada ETF Bitcoin spot pasca rilis data tersebut juga akan menjadi indikator penting — kembalinya aliran dana masuk secara konsisten akan memperkuat validitas reli saat ini.
Momentum Bullish, Tapi Butuh Konfirmasi
Reli Bitcoin saat ini dipicu oleh kombinasi membaiknya sentimen makro dan short squeeze yang masif. Meski momentum bullish terlihat jelas, penguatan ini masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari aliran dana fundamental dan stabilitas kondisi makroekonomi global.
Hal yang perlu terus dipantau: apakah Bitcoin mampu mempertahankan level US$80.000 setelah rilis data ketenagakerjaan AS, atau justru kembali terkoreksi ke kisaran harga sebelumnya.


