BTC dan ETH Berada di Zona Oversold, Apa Artinya?

Share :

Portalkripto.com– Ketakutan ekstrem di pasar crypto nampaknya tervalidasi melalui pergerakan Bitcoin dan Ethereum yang telah menembus support terkuatnya. BTC harus jauh terlempar dari harga di bawah $ 20 ribu, sedangkan ETH melorot hingga harga $ 896. 

Dalam 24 jam terakhir, kedua mayor coin di pasar crypto tersebut telah mengalami likuidasi yang cukup tinggi. Berdasarkan data Coinglass, kedua aset tersebut menyumbang sekitar 5% dari total likuidasi pasar crypto yang berjumlah $ 611 juta dalam 24 jam terakhir. 

Secara pergerakan harga, pasar kini berada dalam fase terburuknya. Kondisi ini lebih parah dibandingkan crypto winter tahun 2018. Di mana keadaan pasar saat ini berbarengan dengan melemahnya kondisi ekonomi makro. Kenaikan suku bunga dan meingkatnya tingkat inflasi menjadi pembeda crypto winter tahun ini. 

Kondisi pasar menjadi lebih buruk dengan serangkaian kecelakaan di sektor industri kripto. Di mulai dari hancurnya jaringan Terra, kebangkrutan Celsius hingga Three Arrows Capital, membuat kondisi pasar semakin carut marut. 

Lantas, bagaimana prediksi pergerakan pasar di tengah gejolak ini? Mari kita bedah melalui sejumlah indikator pergerakan secara teknikal. 

Bitcoin dan Ethereum Berada di Zona Oversold

Sejak awal Juni 2022, Bitcoin maupun Ethereum sudah melewati masa selloff atau penjualan secara besar. Hal ini terlihat dari indikator relative strength index (RSI), sejak 5 Juni gelombang penjualan kedua aset tersebut cukup besar. 

Puncaknya, adalah pada perdagangan hari ini, Minggu, 19 Juni 2022. Berdasarkan chart mingguan menggunakan RSI, zona oversold BTC berada di level 24,69, pada perdagangan hari ini, Minggu, 19 Juni 2022. 

Level ini menjadi titik oversold BTC paling rendah sejak Desember 2018. 

Begitupun dengan ETH, token native jaringan Ethereum ini berada pada zona oversold yang cukup tinggi di level 25%. 

Indikator RSI ini dapat mengukur tren apakah aset tersebut berada dalam posisi jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold). Jika suatu aset berada di posisi jenuh beli (overbought) ditandai dengan RSI di atas 70%, sedangkan dalam posisi jenuh jual (oversold), ditandai dengan RSI di bawah 30%. 

Indikator ini bisa dijadikan indikator psikologis pasar pada suatu pergerakan tertentu. Jika berada pada level overbought artinya pasar sudah pada titik jenuh membeli, dan biasanya diikuti oleh tren penurunan harga, Begitupun sebaliknya. 

Meski demikian, untuk menghitung pergerakan pasar menggunakan indikator ini diperlukan validasi dari sejulam indikator teknikal dan kondisi fundamental lainnya. 

Sinya oversold ini pun bisa diartikan bahwa aset tertentu sedang menuju pada fase konsolidasi. Di mana pasar masih mencari titik terendah untuk kemudian masuk. 

Level oversold BTC  ini pun menjadi sorotan sejumlah analis. Salah satu yang menyoroti ini adalah PlanB. Analis crypto yang dikenal dengan metode analisis S2F ini mengatakan bahwa peregrakan BTC saat ini berada pada level oversold yang ekstrem. 

Berinvestasi adalah permainan probabilitas dan indikator memberikan kesadaran situasional: BTC sudah oversold,” tulis PlanB di akun Twitternya, 18 Juni 2022.

http://

Kondisi ini pun mendapat perhatian dari analis kawakan Direktur Fidelity Investment, Jurrien Timmer. Ia mengatakan, bawah saat ini adalah fase kapitulasi yang kuat. “tanda-tanda kapitulasi mulai terlihat,” tulisnya melalui akun Twitter, 17 Juni 2022.  

Indikator lainnya pun mendukung fase kapitulasi atau kondolidasi di titik ini. Berdasarkan data on-vhain dari Glassnode, jumlah alamat pemegang Bitcoin di bawah 0,1 BTC menunjukan kenaikan yang signifikan. 

http://

“Jumlah Alamat yang Memegang 0,1+ Koin baru saja mencapai ATH 3.592.497,” tulisnya 19 Juni 2022. 

DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.