Firdosh Sheikh, Goliath Penantang Uber dari Bengaluru

Share :

Portalkripto.com — Pada suatu malam di tahun 2018, Firdosh Sheikh memesan sebuah taksi online untuk mengantarnya ke bandara di Bengaluru, India. Taksi itu tiba dalam hitungan menit. Firdosh yang mengejar keberangkatan pesawat, langsung mencoba masuk ke dalam taksi. Namun sebelum tubuhnya masuk, dia keburu tercekat. Si sopir memintanya membatalkan orderan.

Firdosh semula kaget, namun sejurus kemudian dia memahami kejadian aneh itu. Si sopir tak keberatan mengantar Firdosh ke bandara. Bahkan dia menawarkan tarif yang lebih murah kepada Firdosh. Si sopir rela membanting harga asalkan ongkos yang dibayarkan Firdosh 100% jadi miliknya. Dia tak rela bila sebagian dari hasil jerih payahnya itu, hingga puluhan persen, dipotong sebagai biaya komisi aplikasi.

Setelah peristiwa itu, Firdosh lebih sering mengobrol dengan para supir taksi online yang dia gunakan. Mereka rata-rata berkeluh kesah dengan nada yang sama, merasa menjadi sapi perah penghasilan cuan penyedia aplikasi.

“Dari situlah saya mengetahui tentang perjuangan komunitas driver, di mana mereka membayar 20% hingga 40% dari setiap ongkos penumpang yang dibayarkan sebagai sebagai komisi,” kata Firdosh Sheikh.

Curhatan-curhatan nestapa para koboi aspal ini kemudian diramu dengan ambisi Firdosh yang ingin mengubah wajah dunia. Dia kemudian kepikiran mendirikan Drife, yang disebut sebagai platform ridesharing terdesentralisasi pertama di dunia.

Gagasan utama bisnis yang dikembangkan Drife sebetulnya cukup sederhana, yakni memberikan solusi bagi driver online yang sering dirugikan potongan bagi hasil dengan platform yang kelewat besar.

Penyedia platform yang punya kuasa lebih, gemar membuat kebijakan menjengkelkan dan sering berubah-ubah. Di sisi lain, para driver tak punya pilihan alternatif untuk keluar dari ekosistem online. Walaupun tersedia banyak platform ridesharing, semua model bisnisnya rata-rata sama: memotong pendapatan driver dengan dalih komisi.

Firdosh Sheikh melihat ujung pangkal dari ekosistem yang mencekik driver ini adalah karena kekuasaan yang terlalu terpusat. Walau tidak terjadi monopoli ekstrem di mana hanya ada satu platform yang berkuasa, namun perusahaan-perusahaan tersebut seolah berkompromi untuk mengeksploitasi kerentanan driver, dan penumpang dalam titik tertentu. Intinya, driver dibikin sengsara karena ekosistem yang tidak sehat.

“Seluruh kemampuan platform ridesharing untuk mengontrol segala sesuatu dalam ekosistem membuat mereka [driver] terlihat seperti ini,” ujarnya.

Dia juga mempertanyakan janji manis dari seluruh gagasan disrupsi teknologi dalam industri mobilitas, yang semula dipoles sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan para pengemudi. Namun, fakta yang terjadi di lapangan menurutnya malah membuktikan bahwa janji tersebut semu belaka

“Sekarang jika Anda melihat salah satu perusahaan ridesharing, mereka adalah perusahaan bernilai miliaran dolar. Namun jika Anda melongok ke belakang dan melihat komunitas pengemudi, mereka masih berjuang untuk membuat hidup mereka sejahtera.”

Hasrat untuk merampas kembali janji manis disrupsi ini dia membagikan dalam tubuh Drife. Perusahaan yang digadang-gadang sebagai calon penantang Uber ini ‘didirikan’ pada 2018. Saat pertama kali berdiri, Drife tak punya siapa-siapa kecuali dirinya. Firdosh yang punya latar belakang sebagai orang keuangan, langsung kepikiran mendaftarkan lisensi Drife saat itu juga.

Walau sudah punya nama, Drife belum sepenuhnya lahir kala itu. Proyek ini baru benar-benar efektif berjalan pada 2020. Namun baru saja merangkak, Difre langsung kena hantam. Pagebluk mengamuk dan sampai membuat seisi dunia sempat mati suri. Mimpi Firdosh mendirikan usaha taksi terpaksa harus diparkir lagi. Setelah masa suram dilewati, perlahan tapi pasti, mimpi Firdosh untuk mengaspalkan Drife di jalanan Bengaluru akhirnya terwujud juga.

Sekilas Firdosh Sheikh

Firdosh Sheikh berasal dari Bengaluru, India, kota pusat teknologi yang dijuluki sebagai ‘Silicon Valley of India’. Tidak banyak informasi yang tersedia tentang kapan ia lahir, tinggi dan berat badan, agama, status pernikahan, zodiak, atau warna dan makanan favorit. Yang pasti saat ini dia menjabat sebagai CEO Drife.

Sebelum membangun Drife, dia telah beberapa kali bekerja di bagian keuangan. Salah satunya termasuk menjadi analis keuangan Microsoft pada 2017-2015, seperti dilihat dari LinkedIn-nya. Dia juga tercatat pernah menimba ilmu di The Institute of Chartered Accountants of India pada periode 2012-2016.

Selama berkuliah, Firdosh nampaknya adalah mahasiswa yang berprestasi. Beberapa kali dia memperoleh penghargaan kategori best paper dan best speaker. Kelihatan dia pandai merancang risalah ilmiah dan juga berbicara di depan publik.

Walau latar belakangnya dijejali ragam jejak di dunia akuntan dan keuangan, dia juga punya ketertarikan di bidang teknologi. Darahya sebagai orang ‘Silicon Valley India’ nampaknya mendorong Firdosh untuk menjelajahi dunia teknologi. Buktinya, Firdosh pernah memperoleh sertifikat Big Data Foundation yang dikeluarkan oleh IBM.

Kecakapan dan ketertarikan lintas bidang inilah yang sedikit banyak mempengaruhi Firdosh dalam keputusannya untuk menyelami dunia teknologi blockchain lebih dalam, utamanya lewat Drife, yang diproyeksikan jadi penantang Uber.

Bagaimana Drife Bekerja?

Drife adalah aplikasi ride hailing serupa Uber yang dapat diunduh di smartphone Android atau iOS. Aplikasi ini baru bisa digunakan secara terbatas di India, tepatnya di Bengaluru, kota di mana operasional taksi ini dapat ditemukan.

Fitur yang tersedia di Drife ini tak jauh berbeda dengan Uber atau aplikasi taksi online lainnya. Layanan utama Drife adalah mengantar jemput penumpang dari titik satu dan titik lain. Berbeda dengan Uber, tarif taksi Drife bisa dinego, namun memiliki batas standar harga rata-rata, seperti InDrive. Pengguna bisa menawar lebih murah jika sedang cekak, atau menaikan penawaran bila ingin memberi insentif.

Untuk pembayarannya, Drife menggunakan uang cash. Perbedaan paling mendasar dari Drife adalah mereka tidak memungut biaya layanan aplikasi atau cut off bagi driver, seperti platform taksi online pada umumnya. Sebagai gantinya, mereka memungut biaya langganan atau subscription kepada driver yang ingin menggunakan platform.

Lantas, bagaimana bisa Drife mendaku sebagai platform taksi terdesentralisasi?

Dalam whitepaper-nya pengembang menyatakan “Drife adalah aplikasi terdesentralisasi yang dibangun di atas infrastruktur blockchain menggunakan smart contract.” Mereka juga menyatakan banyak logika bisnis Drife diimplementasikan di dalam smart contract “yang berjalan di atas ekosistem blockchain publik Aeternity.”

Platform Drife dibangun dengan arsitektur microservices. Fungsi pokok blockchain buat Drife adalah sebagai backend pencatatan data. Data yang dicatat dalam blockchain adalah segala hal terkait perjalanan dan orderan, mencakup tarif yang disepakati oleh supir dan penumpang. Blockchain sebagai backend juga berguna untuk memverifikasi integritas data platform agar data tersebut tidak dapat diubah atau dimodifikasi oleh entitas tersentral tanpa bukti yang jelas.

Salah satu fitur utama microservices adalah mempermudah penskalaan aplikasi. Di sisi lain, untuk membangun aplikasi di dalam blockchain, biasanya membutuhkan banyak resources yang membuat aplikasi berjalan lambat dan sukar diadopsi pengguna.

Hambatan skalabilitas blockchain untuk menjalankan aplikasi secara efisien ini nampaknya menjadi alasan Drife tidak mengadopsi teknologi ini secara total. Firdosh sendiri mengatakan penggunaan blockchain secara menyeluruh–untuk saat ini–akan membuat produk aplikasi yang dibuat berjalan sangat lambat.

“Banyak hal sekarang ini, seperti yang Anda tahu, harus terpusat namun perlahan tapi pasti, harus menggunakan blockchain. Karena saat Anda membangun semuanya di blockchain, Anda telah membangun sebuah aplikasi paling lambat di dunia ini,” kata Firdosh Sheikh dalam podcast Hash Rate.

Secara umum, Drife tidak seperti blockchain Bitcoin yang dirancang lalu dilepaskan oleh kreatornya untuk dikelola secara swadaya oleh komunitas. Drife ini masih dikawal oleh ‘kakak pembimbing’. Ia dapat dibayangkan serupa dengan aplikasi kripto popular berbasis Web2 lainnya, seperti Binance atau MetaMask. Mereka bukanlah DApps yang berjalan di atas rel blockchain, namun menjadi jembatan bagi awam teknologi untuk menjelajah dunia blockchain.

Pemilihan uang cash, alih-alih koin kripto, untuk pembayaran tarif dilakukan dengan alasan literasi kripto yang masih rendah. Tidak semua orang, utamanya supir taksi di Bangaluru yang sehari-hari bergelut dengan pekik suara klakson dan terik sinar matahari, mampu dan mau mengenal dunia kripto.

Lagi pula, tujuan mula Firdosh Sheikh mendirikan Drife ialah untuk membantu harkat martabat para supir taksi yang selama ini kerap menjadi sapi perah para korporat yang sehari-hari duduk di ruangan ber-AC.

“Pada akhirnya, ini tentang mata pencaharian pengemudi. Dia membutuhkan uang itu untuk memberi makan keluarganya dan untuk sekarang ini Anda tidak bisa bermain-main dengan hal itu.”

Walau begitu, sebagai proyek yang punya memanfaatkan jasa blockchain, Drife tetap memiliki token kripto. Token native Drife adalah DRF. Serupa dengan token lain, DRF telah diperdagangkan di sejumlah bursa. Token ini juga berfungsi laiknya saham. Kepemilikan DRF menjadi prasyarat hak suara dalam voting kebijakan Drife yang dikelola komunitas.

Untuk penentuan kebijakan platform, termasuk tarif, Drife menyatakan mereka mengusung model decentralized autonomous organization (DAO) di mana setiap pengemudi maupun penumpang dapat berpartisipasi dalam mengajukan proposal maupun pengambilan keputusan
lewat hak suara voting.

Token DRF ini juga berguna untuk franchise. Mereka yang tertarik mendirikan franchise Drife di kota masing-masing harus memiliki sejumlah token DRF dengan jumlah yang ditentukan dan melakukan stalking DRF. Siapapun bisa membuka franchise Drife, termasuk driver, penumpang, perusahaan angkutan, logistik, serikat, atau pemerintah. Aturan main franchise ini merujuk pada ketentuan tata kelola yang telah disepakati.

“Drife dengan demikian memberi pengemudi dan pengendara suara yang telah direnggut oleh tata kelola terpusat menindas oleh perusahaan ride-hailing melalui token staking untuk kepemilikan jaringan, dan juga dengan membuat proposal dan memberikan suara pada mereka,” ujar pengembang dalam whitepaper.

Perkembangan Bisnis Drife

Didirikan tahun 2018, Drife memiliki modal awal sekitar $150.000. Modal pendirian Drife berasal dari kantong para pendirinya. Para co-founder Drife adalah Firdosh, Surya Ranjith yang kini menjabat sebagai chief operating officer (COO), dan Mudah Marda, programer komputer berpengalaman yang memenangkan Tezos Hackathon.

Pada Juli 2021, mereka mendapat suntikan dana tambahan senilai $2,7 juta hasil penjualan token privat dan seed round dari sejumlah venture capital. Saat ini, kapitalisasi pasar Drife diperkirakan mencapai $3 juta.

Walau telah didirikan hampir setengah dekade, operasional bisnis taksi Drife sesungguhnya baru efektif berjalan pada akhir 2021 hingga awal 2022. Aplikasi Drife sendiri baru dirilis pada November 2021.

Hingga kuartal tiga (Q3) 2022, Drife melaporkan aplikasi tersebut telah diunduh lebih dari 100 ribu kali. Adapun jumlah driver yang terdaftar mencapai 18.114, sedangkan penumpangnya mencapai 76.929 orang. Sepanjang Juli-September, mereka juga telah memiliki total 8.326 pengemudi baru dan 33.810 penumpang.

Selama masa perjalanannya yang baru seumur jagung itu, Drife telah menerima lebih dari 50 tawaran membuka franchise. Tawaran tersebut kebanyakan dari India. Beberapa tawaran juga datang dari luar negeri, termasuk Amerika Serikat (AS), Rusia, Kanada, Prancis, dan Brazil. Drife, saat ini baru ada di Bengaluru.