Konsumsi Listrik Penambangan Bitcoin Lebih Besar dari Swedia, Tapi di Bawah AS dan China

Share :

Portalkripto.com — Daya listrik yang dihabiskan dalam aktivitas penambangan Bitcoin (BTC) selama tahun 2022 dilaporkan lebih besar ketimbang konsumsi listrik Swedia. Laporan Digiconomist mencatat penambangan Bitcoin global menghabiskan total 161 terawatt hour (TWh) listrik sepanjang tahun.

Laporan tersebut juga mencatat terjadi penurunan volume transaksi Bitcoin secara global ketimbang tahun sebelumnya. Angka yang tercatat adalah 93 juta transaksi. Meskipun turun, sumbangan porsi konsumsi listrik Bitcoin naik menjadi 0,64%.

Rapor merah konsumsi energi Bitcoin lain yang disorot Digiconomist adalah bahwa rata-rata konsumsi energi listrik untuk setiap transaksi yang diproses di blockchain Bitcoin sebesar 1.738 kWh. Jumlah konsumsi listrik tersebut diklaim setara dengan konsumsi setrum rata-rata rumah tangga Amerika Serikat (AS) selama dua bulan.

Selanjutnya, jejak karbon dari sekali transaksi Bitcoin disebut sebesar 969 kilogram CO2. Jumlah itu diklaim setara dengan jejak karbon yang dihabiskan seorang penumpang pesawat dari New York ke Sydney atau setara dengan daya yang dihabiskan dua juta transaksi kartu kredit.

Di atas semua itu, Digiconomist memaparkan, penambang Bitcoin juga terus bertanggung jawab atas rata-rata 411 gram limbah elektronik per transaksi. Jumlah residu elektronik setiap transaksi Bitcoin tersebut dinilai setara dengan limbah sebuah iPad.

AS dan China Jauh Lebih Boros?

Perbandingan konsumsi listrik Bitcoin dengan berbagai negara ini bukanlah hal baru. Sebelumnya Bitcoin Mining Council (BMC) telah mengeluarkan laporan konsumsi energi penambangan serupa.

Dalam laporan kuartal tiga 2022 tersebut, BMC mengumpulkan data dari 51 perusahaan penambangan Bitcoin terbesar di dunia. Ditemukan bahwa penambangan Bitcoin menghabiskan listrik 266 TWh dibandingkan dengan 165.317 TWh energi yang dihabiskan di seluruh dunia. Jumlah konsumsi listrik itu, jauh lebih kecil ketimbang beberapa negara seperti China, AS, Uni Eropa, Rusia, India, Jepang, Jerman, dll.

Grafik konsumsi energi penambangan Bitcoin dibandingkan dengan sejumlah negara (Sumber: Bitcoin Mining Council)

Laporan itu mencatat adanya peningkatan 41% dalam konsumsi energi Bitcoin secara year-on-year (YoY). Meskipun ada peningkatan signifikan, BMC mengklaim Bitcoin menyumbang 59,4% bauran energi berkelanjutan dan disebut sebagai “pemimpin industri dalam keberlanjutan”.

Laporan tersebut menemukan penambangan Bitcoin mengkonsumsi 0,16% dari produksi energi global, lebih sedikit dari energi yang dikonsumsi oleh game komputer.