Manfaat Teknologi Blockchain dalam Industri Pelayanan Kesehatan

Share :

Portalkripto.com — Industri pelayanan kesehatan adalah salah satu sektor usaha global yang mengalami kemajuan pesat yang selalu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Menurut data laporan The Business Research Company, industri pelayanan kesehatan global tumbuh dari $6,872 miliar pada tahun 2021 menjadi $7,451 miliar pada tahun 2022 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 8,4%.

Pertumbuhan ini sebenarnya terganggu oleh perang Rusia-Ukraina yang menghambat pemulihan ekonomi global pasca pandemi Covid-19. Perang yang sudah berlangsung hampir 11 bulan ini menyebabkan sanksi ekonomi di banyak negara, lonjakan harga komoditas, dan gangguan rantai pasokan, yang memengaruhi banyak pasar dunia.

Meski terganggu, namun industri pelayanan kesehatan menemukan berbagai cara baru untuk mengatasi berbagai permasalahannya, salah satu yang utama adalah teknologi blockchain. Teknologi yang mulai berkembang di tahun 2008 ini memberikan manfaat yang besar bagi sektor pelayanan kesehatan, karena memiliki kemampuan untuk menyimpan dan mengelola data dengan aman, transparan, dan tidak dapat diubah. Ini dapat membantu meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem kesehatan, serta mengurangi risiko kecurangan dan kesalahan.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana teknologi blockchain dapat digunakan untuk meningkatkan sektor pelayanana kesehatan:

1. Mengelola data kesehatan
Blockchain membantu mengelola data kesehatan dengan aman dan transparan, seperti rekam medis, hasil tes, dan informasi obat. Ini membantu menghindari kehilangan atau kecurangan data, serta memudahkan bagi pasien untuk mengakses dan membagikan data kesehatannya dengan dokter atau layanan kesehatan lainnya yang terpercaya.

Beberapa rumah sakit telah menggunakan teknologi blockchain untuk menyimpan rekam medis elektronik (EHR) pasien. Ini memungkinkan dokter dan layanan kesehatan lainnya untuk dengan mudah mengakses dan membagikan data kesehatan pasien, serta membantu mencegah kehilangan atau kecurangan data.

2. Mencegah kecurangan dalam sistem kesehatan
Blockchain membantu mencegah kecurangan dalam sistem kesehatan, seperti penyalahgunaan obat atau penipuan asuransi kesehatan. Dengan menyimpan data dalam blockchain, setiap transaksi dapat dipertanggungjawabkan dan diakses oleh semua pihak yang terlibat, sehingga membuatnya sulit bagi seseorang untuk melakukan kecurangan.

3. Menyediakan akses ke layanan kesehatan
Blockchain membantu meningkatkan akses ke layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil atau yang memiliki keterbatasan akses. Dengan menyimpan data kesehatan dalam blockchain, pasien dengan mudah mengakses dan membagikan data kesehatannya dengan dokter atau layanan kesehatan lainnya yang terpercaya, tanpa harus tergantung pada sistem kesehatan lokal yang mungkin tidak dapat dipercaya.

4. Meningkatkan efisiensi sistem kesehatan
Blockchain membantu mengurangi kebutuhan akan tahap verifikasi yang rumit dan memakan waktu dalam sistem kesehatan, seperti proses pembayaran atau pengajuan asuransi. Dengan demikian membantu meningkatkan efisiensi sistem kesehatan dan mempercepat proses layanan kesehatan bagi pasien.

5. Membantu penelitian kesehatan
Blockchain juga membantu menyimpan dan mengelola data penelitian kesehatan, seperti hasil tes dan analisis. Dengan penyimpanan yang baik menjamin integritas dan transparansi data, serta memudahkan bagi peneliti untuk mengakses dan membagikan data dengan rekan-rekannya.

6. Asuransi kesehatan
Beberapa perusahaan asuransi kesehatan telah menggunakan teknologi blockchain untuk mengelola data klaim asuransi dan pembayaran. Ini membantu meningkatkan efisiensi dan transparansi sistem, serta membantu mencegah kecurangan dalam proses pembayaran.

7. Supply chain obat
Selain itu, Blockchain digunakan untuk mengelola rantai pasokan obat, termasuk mencatat informasi tentang asal obat, tanggal kadaluarsa, dan lokasi penyimpanan. Ini  membantu mencegah penyalahgunaan obat dan memastikan bahwa pasien menerima obat berkualitas yang aman.

8. Layanan telemedis
Beberapa layanan telemedis telah menggunakan teknologi blockchain untuk mengelola data konsultasi dan rekam medis pasien secara online. Ini membantu meningkatkan akses ke layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil atau yang memiliki keterbatasan akses.

Sekadar Tren?

Dalam praktiknya, adopasi teknologi blockchain ke dalam industri pelayanan kesehatan masih dipandang hanya sebagai tren saja.

“Ketika Anda berbicara dengan orang-orang di bidang kesehatan tentang blockchain, reaksi pertama yang sering Anda dapatkan adalah, ‘Saya tidak ingin Bitcoin atau crypto-crap lainnya,’” kata Pradeep Goel, CEO Solve.Care, sebuah perusahaan yang menciptakan platform manajemen hubungan pelanggan menggunakan blockchain.

“Tetapi begitu orang memahami nilai blockchain dan bagaimana mereka dapat menggunakannya, mereka cenderung akan datang kembali,” kata Goel.

Dia memberikan contoh kasus ketika Aetna, Humana, MultiPlan, Quest Diagnostics, dan UnitedHealth Group membuat Synaptic Health Alliance di tahun 2018.

Aliansi ini menggunakan teknologi blockchain untuk memperbarui informasi penyedia di direktori rencana kesehatan. Synaptic menyediakan infrastruktur yang aman untuk menyinkronkan informasi direktori di berbagai perusahaan asuransi.

Empat tahun pertama, pilot project yang semula dijalankan di Texas itu berkembang ke negara bagian lainnya seperti Colorado, Florida, Michigan, dan New York. Pada akhir tahun ini, platform kesehatan ini akan diluncurkan untuk kepentingan nasional.

Blockchain memungkinkan kami untuk mendesentralisasi kumpulan data. Kita dapat menjadikan ini sebagai aset milik masyarakat dan kemudian mengeksplorasi model insentif yang berkelanjutan yang adil untuk semua orang,” jelas Co-founder Syanptic Health Alliance, Kyle Culver.

Contoh Nyata dari Estonia

Estonia adalah negara pertama yang menggunakan teknologi blockchain dalam industri pelayanan kesehatan sejak 2011. Di tahun tersebut, sejumlah pakar kesehatan di Estonia bekerja sama dengan ahli cyber security menggunakan ilmu blockchain Keyless Signature Infrastructure (KSI) untuk membuat catatan kesehatan pasien yang tidak dapat diretas.

Lima tahun kemudian, yayasan e-health Estonia meluncurkan teknologi blockchain untuk mengamankan catatan kesehatan pasien.

Estonia menggunakan teknologi blockchain untuk mengintegrasikan data penduduknya ke dalam sistem pemerintahan. Dengan intergasi tersebut, dokter memiliki akses tak terbatas ke informasi pasien dan mengalokasikan waktu yang diperlukan untuk setiap pasien mereka. Data kesehatan pasien pun tidak dapat diubah dan peretas tidak dapat mengubah informasi apapun karena informasi pasien tersimpan di sejumlah node.

Apa yang dilakukan pemerintah Estonia dengan mengadopsi teknologi blockchain sangat terasa manfaatnya ketika menghadapi pandemi Covid-19.

Awal Maret 2020, Estonia mengumumkan keadaan darurat, menutup perbatasannya, dan melakukan lockdown penuh untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Sementara negara-negara lain berjuang untuk menangani penutupan sekolah dan gangguan pada layanan vital, 99% layanan pemerintahan tetap berjalan secara online. Opsi online ini sudah tersedia jauh sebelum pandemi seperti untuk mendaftarkan bisnis dan properti, mengajukan tunjangan sosial, dan mengecek rekam medis. Dalam pandemi virus corona, kemajuan teknologi di Estonia ini menyelamatkan banyak nyawa.

Blockchain untuk Melacak Penyebaran Covid-19

Contoh lain penggunaan teknologi blockchain dalam memitigasi pandemi Covid-19 dilakukan oleh sekelompok peneliti di Wuhan University.

Mereka menggunakan teknologi blockchain untuk membantu mengelola rantai pasokan makanan selama pandemi Covid-19. Dengan mencatat informasi tentang asal dan jalur distribusi makanan, pemerintah dapat memastikan bahwa makanan yang dikirim ke pasien benar-benar segar dan aman untuk dikonsumsi.

Beberapa negara juga telah menggunakan aplikasi yang menggunakan teknologi blockchain untuk membantu melacak orang yang telah bertemu dengan individu yang terinfeksi Covid-19. Aplikasi ini mencatat interaksi sosial yang terjadi dengan menggunakan Bluetooth, dan membantu mengidentifikasi individu yang mungkin perlu diuji atau diisolasi.

Salah satunya dilakukan oleh Emerge, sebuah startup blockchain yang berbasis di Toronto. Mereka meluncurkan aplikasi sistem keamanan publik bernama Civitas untuk membantu otoritas lokal di sejumlah negara melacak pergerakan warganya.

Perangkat lunak ini mengaitkan nomor induk seseorang dengan catatan blockchain unik yang memungkinkan pihak berwenang untuk menentukan apakah warganya memenuhi syarat untuk izin meninggalkan rumah mereka. Jika warga melaporkan bahwa mereka mengalami gejala mirip virus corona, aplikasi tersebut dapat membantu menentukan hari mana yang paling aman bagi mereka untuk pergi keluar untuk hal-hal penting seperti mencari makanan dan obat-obatan.

Civitas juga membantu para dokter di Honduras untuk melacak gejala pasiennya dan menyertakan catatan terkait dengan perawatan pasien. Data tersebut akan tersedia secara eksklusif untuk pasein dan penyedia layanan kesehatan dengan mengutamakan privasi.

Namun, teknologi blockchain juga memiliki beberapa keterbatasan dalam industri pelayanan kesehatan, seperti biaya yang relatif tinggi untuk mengimplementasikannya, serta masih terdapat beberapa hambatan regulasi yang harus diatasi. Oleh karena itu, penggunaan teknologi blockchain dalam industri pelayanan kesehatan masih tergolong dalam tahap awal dan membutuhkan evaluasi yang lebih lanjut untuk menentukan apakah teknologi ini dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi industri tersebut.