Masyarakat Sri Lanka Sudah Bersiap dengan Kripto Sebelum Negaranya Bangkrut

Share :

Portalkripto.com — Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuknya dan mendekati kondisi kebangkrutan. Dengan cadangan devisa pada rekor terendah, negara berpenduduk 22 juta jiwa itu berjuang untuk membayar impor penting makanan, obat-obatan, dan yang paling kritis, bahan bakar.

Industri seperti garmen yang merupakan pendulang dolar terbesar bagi Sri Lanka hanya memiliki bahan bakar untuk seminggu hingga 10 hari ke depan.

Pada hari Sabtu (9/7), dua orang penting pemerintahan Sri Lanka yaitu Perdana Menteri (PM) Wickremesinghe dan Presiden Gotabaya Rajapaksa setuju untuk mengundurkan diri di tengah meningkatnya tekanan dari pengunjuk rasa yang menyerbu tempat tinggal mereka dan membakar salah satunya.

PM Wickremesinghe yang mulai menjabat pada Mei silam, mengatakan akhir bulan lalu bahwa ekonomi negaranya sarat utang itu telah runtuh ​​dan menuju titik terendah.

Akibat kekurangan uang tunai untuk membayar impor dan kegagalan membayar utangnya, Sri Lanka sudah mencari bantuan dari negara tetangga India dan China dan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Sementara itu nilai mata uang mereka, Sri Lankan Rupee terus terdepresiasi. Sejak Maret 2022, nilai mata uang tersebut terdepresiasi lebih dari 75% terhadap dollar AS. Alhasil, nilai transaksi ruppe Srilanka kian melemah ke level 356 per dollar AS, pada perdagangan hari ini, 11 Juli 2022.

 

Sinyal kebangkrutan negara di Asia Selatan ini telah terasa sejak awal tahun 2022. Sebagian kecil masyarakat yang melek keuangan sudah mengantisipasi kebangkrutan negaranya sejak jauh-jauh hari.

Berdasarkan laporan Quartz India, sebelum mata uang mereka hampir tak bernilai di hadapan dollar AS, sebagian dari mereka telah melakukan pengamanan aset di sejumlah komoditas investasi seperti properti, pangan dan juga aset kripto.

“Orang-orang melihat bank sentral berjuang untuk mempertahankan pasak mata. Banyak yang tahu itu akan macet dan mulai mengubah tabungan tunai mereka ke stablecoin seperti USD-T,” ujar Prashan Loganathan, trader cryptocurrency aktif yang berbasis di Negombo, kepada Quartz India, bulan Mei 2022. 

Perdagangan aset kripto di Si Lanka memang tidak terlalu menonjol dibandingkan negara Asia lainnya seperti Vietnam, India dan China. Namun, berdasarkan data Chainalysis, pertumbuhan adopsi kripto di Asia Selatan dan Tengah secara keseluruhan telah melonjak 706% antara Juli 2020 dan Juni 2021. Lonjakan pertumbuhan ini menghasilkan nilai transaksi 14% ($572,5 miliar), dengan India mewakili nilai transaksi global tertinggi.

Namun, pemerintah Sri Lanka sangat concern pada aset kripto sebelum negaranya bangkrut. Sejumlah regulasi telah dirancang untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan aset digital di negaranya, diantaranya masalah penambangan, dan anti pencucian uang.

Seberapa serius krisis ini?

Pemerintah Sri Lanka berutang $51 miliar dan tidak dapat melakukan pembayaran bunga atas pinjamannya, apalagi mengurangi jumlah yang dipinjam.

Pertumbuhan sektor pariwisata yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi jalan di tempat akibat pandemi dan kekhawatiran tentang keamanan setelah serangan teror pada 2019.

Rupee Sri Lanka anjlok hingga 80 persen, membuat impor lebih mahal dan memperburuk inflasi yang sudah tidak terkendali, dengan biaya makanan naik hingga 57%.

Hasilnya Sri Lanka menuju kebangkrutan. Mereka hampir tidak mempunyai uang untuk mengimpor bensin, susu, gas untuk memasak, dan hingga kertas toilet.

Para ekonom mengatakan krisis berasal dari faktor domestik seperti korupsi dan salah urus selama bertahun-tahun.

Korupsi merupakan masalah utama di Sri Lanka dan perlindungan terhadap whistle blower yang lemah berdampak negatif pada kemauan warga negara untuk melawan korupsi.

Korupsi telah merajalela di semua lapisan masyarakat dari eselon atas, kekuasaan politik, hingga tingkat pegawai staf. Mereka menilai korupsi dianggap ukan suatu kesalahan. Meskipun ada seruan untuk reformasi dan upaya untuk memperbaiki situasi, hanya ada sedikit bukti kemajuan.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Analisis Harga BTC, ETH, dan Pasar Kripto Selama Sepekan

Nilai Transkasi Aset Kripto Indonesia Sentuh Rp 192 Triliun di Q1 2022


Sebagian besar orang Sri Lanka menganggap suap hanyalah fakta kehidupan, terutama menyuap pejabat publik untuk menyelesaikan pekerjaan.

Kondisi ini juga diperparah oleh para pejabat dan politisi yang terlibat korupsi yang telah diberikan pengampunan presiden atau melarikan diri ke luar negeri karena takut akan sanksi. Banyak insiden dalam sejarah Sri Lanka di mana individu yang terlibat dalam korupsi akhirnya dibebaskan karena koneksi politik.

Pemerintahan Sri Lanka sering berjanji untuk memberantas korupsi tetapi secara praktis hasilnya nol.

Korupsi inilah yang memprovokasi protes nasional 2022 dengan demonstrasi besar-besaran menentang pemerintahan Gotabaya Rajapaksa. Sebagian besar kemarahan publik terfokus pada Presiden Rajapaksa dan saudaranya, mantan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa.

Korupsi secara langsung mempengaruhi kesejahteraan warga dengan menurunkan investasi publik di bidang kesehatan, pendidikan, infrastruktur, keamanan, perumahan dan perkebunan.

Menurut Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi 2021 menempatkan Sri Lanka di posisi 102 dari 180 negara.

Setelah korupsi, faktor penting penyebab runtuhnya ekonomi Sri Lanka adalah akibat salah urus.

Pemerintah perlu meningkatkan pendapatannya karena utang luar negeri untuk proyek infrastruktur besar melonjak, tetapi Rajapaksa malah mendorong pemotongan pajak terbesar dalam sejarah Sri Lanka.

Pemotongan pajak baru-baru itu akhirnya direvisi, namun di mata kreditur peringkat Sri Lanka telah merosot dan menghalanginya untuk meminjam lebih banyak dana karena cadangan devisanya merosot. Kondisi ini diperparah oleh pariwisata yang stagnan selama pandemi.

Pada April 2021, Rajapaksa tiba-tiba melarang impor pupuk kimia. Dorongan untuk pertanian organik mengejutkan para petani dan menghancurkan tanaman padi pokok, mendorong harganya menjadi lebih tinggi.

Untuk menghemat devisa, impor barang lain yang dianggap mewah juga dilarang. Sementara itu, perang Ukraina telah mendorong harga makanan dan minyak lebih tinggi. Inflasi mendekati 40% dan harga pangan naik hampir 60% di bulan Mei.

Kementerian Keuangan mengatakan Sri Lanka hanya memiliki cadangan devisa yang dapat digunakan sebesar $25 juta. Hal itu membuat negara itu tidak memiliki kemampuan untuk membayar impor, apalagi membayar miliaran utang.

Sementara itu, nilai rupee Sri Lanka melemah hingga sekitar 360 terhadap dolar AS. Itu membuat biaya impor menjadi lebih mahal. Sri Lanka telah menangguhkan pembayaran sekitar $7 miliar pinjaman luar negeri yang jatuh tempo tahun ini dari $25 miliar yang akan dilunasi pada tahun 2026.

Andalkan Bantuan Negara Asing

Untuk mengatasi kondisi pelik tersebut, sejauh ini Sri Lanka mengandalkan bantuan dari luar negeri. Salah satunya mendapatkan bantuan lewat jalur kredit senilai $4 miliar dari India.

Sri Lanka juga telah meminta yang lebih banyak dari China, AS, Jepang, dan Australia yang berkomitmen memberikan dukungan beberapa ratus juta dolar.

Bantuan utama yang diharapkan Sri Lanka adalah dari IMF.