Membandingkan Kehancuran FTX dan Mt Gox, Mana Terparah?

Share :

Portalkripto.com — Kejatuhan exchange FTX mengingatkan komunitas kripto pada peretasan besar-besaran yang dialami exchange Mt Gox pada 2014 lalu. Mt Gox adalah exchange berbasis di Tokyo, Jepang, yang didirikan pada 2010 dan resmi ditutup pada 2014.

Banyak pihak yang menganggap kehancuran kedua exchange itu sama-sama disebabkan oleh adanya kesalahan dalam pengelolaan, sistem keamanan yang buruk, dan adanya aktivitas insider trading. Lalu kehancuran siapa yang berdampak paling parah?

Menurut perusahaan analisis blockchain Chainalysis, ternyata keruntuhan FTX berdampak lebih kecil jika dibandingkan dengan keruntuhan Mt Gox. Bahkan platform penyedia data on-chain Glassnode menyatakan, bear market imbas dari ambruknya Mt Gox hampir satu dekade lalu masih lebih parah dari bear market tahun ini.

Dalam sebuah utas di Twitter pada 23 November 2022, Kepala Peneliti Chainalysis, Eric Jardine, mengatakan kejatuhan Mt Gox lebih mematikan karena pada saat itu 46% dari total inflow seluruh exchange berasal dari Mt Gox. Angkanya cukup besar jika dibandingkan dengan inflow FTX yang hanya 13% dari total inflow seluruh exchange.

Jangan lupa, inflow exchange di tahun ini juga terbagi antara centralized exchange (CEX) dan decentralized exchange (DEX), seperti Uniswap dan Curve. Jadi, tidak ada kesempatan bagi CEX untuk menguasai bursa kripto sendirian, seperti yang dilakukan Mt Gox.

Perbandingan inflow exchange di CEX dan DEX dalam periode 2013-2022. (sumber: Chainalysis).

Kenapa Mt Gox Lebih Parah?

Jardine menjelaskan, saat kolaps pada 2014, Mt Gox merupakan exchange terbesar di dunia yang menangani lebih dari 70% volume perdagangan Bitcoin secara global. Posisinya berbeda dengan FTX yang merupakan exchange terbesar kedua di dunia dengan volume perdagangan yang jauh di bawah Binance.

Dengan dominasi yang cukup besar dalam ekosistem kripto, keruntuhan Mt Gox membawa malapetaka yang juga jauh lebih besar jika dibandingkan dengan keruntuhan FTX. Terlebih Bitcoin yang hilang dari Mt Gox mencapai 840.000, terbesar sepanjang sejarah peretasan kripto.

Setelah porak-poranda oleh Mt Gox, industri kripto harus menjalani masa pemulihan dengan volume transaksi on-chain yang stagnan selama lebih dari setahun sebelum akhirnya kembali menggeliat.

Peretasan Mt Gox saat itu berperan besar menekan nilai BTC hingga 85% dari all time high (ATH) di $1.100 menjadi $211. Setelah mencapai bottom pada Januari 2015, BTC baru kembali mencapai ATH anyar pada Desember 2017.

Sementara itu, meski belum diketahui ada berapa banyak perusahaan yang akan terkena efek domino dari keruntuhan FTX, insiden ambruknya exchange milik Sam Bankman-Fried ini telah menekan harga BTC hingga 25% ke titik terendah dalam siklus bear market kali ini. BTC juga sudah turun hingga 77% dari ATH-nya di $69.000 pada November 2021.

Menurut data CryptoQuant, nilai kerugian FTX dan Mt Gox dalam dolar AS hampir setara. Sebanyak 840.000 BTC yang diretas dari Mt Gox saat itu senilai dengan $460 juta. Sementara 20.000 BTC yang hilang dari FTX saat ini senilai sekitar $400 juta.

Jardina yakin perbandingan ini bisa memberikan rasa optimis bagi investor bahwa sebenarnya industri kripto pernah mengalami kehancuran yang lebih buruk dari FTX. Waktu kemudian membuktikan pasar bisa kembali bangkit dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya.