Mengenal Solana, Blockchain Unik yang Menggabungkan PoH dan PoS

apa itu solana blockchain
Share :

Portalkripto.com — Solana adalah platform kontrak pintar berbasis blockchain yang dirancang untuk memfasilitasi pembuatan aplikasi terdesentralisasi (dapps). Proyek ini didirikan oleh Anatoly Yakovenko pada tahun 2017. Sementara blockchain dan token kripto aslinya, SOL, secara resmi diluncurkan pada Maret 2020.

Solana dibuat untuk bersaing dengan platform dapp seperti Ethereum dan pihak ketiga yang blockchain-nya dapat memproses maksimum 65.000 transaksi per detik (tps) dengan biaya rata-rata $0,00025. Sebagai perbandingan, Ethereum dapat menangani sekitar 30 tps (sebelum penyelesaian upgrade 2.0 ) dengan biaya transaksi rata-rata $4,50 .

Dalam hal aplikasi terdesentralisasi yang berjalan di jaringannya, Solana telah mencatat pertumbuhan yang signifikan sejak diluncurkan. Saat ini Solana sedikitnya memiliki 332 aplikasi terdesentralisasi yang aktif. Sedangkan Ethereum memiliki 2841 aplikasi.

Kenapa Solana Unik?

Pertumbuhan Solana yang positif ini tak lepas dari sejumlah hal unik yang membedakannya.

Satu hal yang membedakan Solana dari pesaing platform dapp lainnya adalah pendekatan uniknya dalam proses validasi transaksi. Sang kreator, Yakovenko, memasukkan sistem untuk timestamping sehingga semua validator memiliki pandangan yang seragam tentang urutan aktivitas baru yang dijalankan di blockchain.

Dengan kata lain, sistem ini pada dasarnya adalah jenis mekanisme konsensus karena pelaku transaksi dalam jaringan diharuskan menganalisis validitas sebuah transaksi dan harus menyepakati transkasi tersebut. Inilah mengapa seluruh mekanisme dalam Solana disebut konsensus proof-of-history (PoH).

Yakovenko menciptakan PoH dengan meniru konsep dari desain database terpusat seperti Google dan Intel. Ia kemudian merombak sistemnya dan melakukan penyesuaian agar cocok dengan arsitektur terdesentralisasi.

Selain menggunakan PoH, Solana juga menerapkan protokol konsensus proof-of-stake (PoS).


Jelajahi Artikel Lain:

Uni Eropa Ancam Banned Bitcoin jika Tidak Beralih ke PoS 

Majelis Negara Bagian New York Loloskan RUU Moratorium Penambangan Kripto PoW

Celer Network, “Angkutan Umum” Blockchain Berbiaya Rendah


Solana tidak diatur oleh satu entitas, tetapi penggunanya harus memainkan perannya untuk mengamankan dan memelihara jaringan. Hal ini terutama diperlukan saat memvalidasi transaksi. Secara alami, sebuah blockchain mengharuskan penggunanya secara kolektif memastikan bahwa semua transaksi yang dilakukan di jaringan valid. Sehingga pengguna harus mengambil peran sebagai validator.

Untuk menentukan apakah seorang pengguna mampu menjadi seorang validator, protokol blockchain menerapkan sejumlah persyaratan tertentu. Misalnya, blockchain Bitcoin mensyaratkan penggunanya berinvestasi dalam peralatan penambangan atau mining dan secara konsisten melakukan perhitungan hashing.

Sementara blockchain seperti Cardano, Polkadot dan Solana, – untuk menjadi validator penggunanya wajib melakukan staking atau mengunci aset kriptonya.

Protokol yang mengatur mekanisme konsensus ini kemudian secara acak memilih seorang staker dan memberikan orang tersebut hak untuk mengusulkan dan menambahkan satu set transaksi baru yang dikonfirmasi ke blockchain. Seluruh algoritma di sistem blockchain harus mencapai kata sepakat sebelum mengonfirmasi transaksi aset kripto yang akan dicatat ke dalam blockchain, sehingga protokol ini disebut mekanisme konsensus PoS.

Transaksi Ngebut

Dengan menggabungkan protokol konsensus PoH dan PoS, Solana memilki kecepatan transaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya tanpa menerapkan produk layer 2 seperti side chains.

Hal ini berarti ekosistem Solana hanya bergantung pada side chains, tidak seperti ekosistem blockchain lainnya yang memilih untuk berbagi beban transaksi melalui beberapa blockchain yang dapat dioperasikan yang disebut “sharding”.

Polkadot dan Zilliqa adalah contoh lain dari platform dapp yang juga memanfaatkan sharding untuk meningkatkan kemampuan pemrosesan transaksi mereka.

Infrastruktur blockchain tunggal Solana menawarkan waktu blok yang sangat cepat, dengan blok baru yang dibuat setiap 400 milidetik. Sebagai perbandingan, berikut adalah daftar waktu pemblokiran untuk platform aplikasi terdesentralisasi terkemuka lainnya:

  • Ethereum : 13 detik
  • Cardano : 20 detik
  • Binance Smart Chain : 3 detik
  • Avalanche : 1,7 detik
  • Poligon : 2,2 detik
  • Polkadot : 7 detik
  • Zilliqa : 45 detik

Seperti Ethereum, Solana mendukung smart contract yaitu program komputer yang secara mandiri menjalankan fungsi tertentu ketika kondisi yang telah ditentukan terpenuhi. Oleh karena itu, pengembang dapat meluncurkan dan mengoperasikan aplikasi blockchain mereka di Solana.

Saat ini Solana menjadi pasar keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang terkemuka dan secara aktif berkontribusi pada sektor NFT yang sedang booming. Salah satu koleksi NFT besar pertama yang diluncurkan dari blockchain Solana yaitu Degenerate Ape Academy terjual habis hanya dalam hitungan delapan menit dengan total volume perdagangan mencapai $69 juta.

Token SOL

Seperti disebutkan sebelumnya, SOL adalah aset digital asli dari blockchain Solana dan saat ini berada di peringkat 10 besar cryptocurrency berdasarkan kapitalisasi pasar.

SOL bekerja seperti token utilitas untuk menyelesaikan biaya transaksi, mirip dengan gas Ethereum dan juga merupakan mata uang dasar Solana untuk melakukan staking. SOL bukan satu-satunya aset digital yang dapat diakses di ekosistem Solana. Seperti Ethereum, Solana adalah blockchain multi-aset di mana aplikasi blockchain individu yang beroperasi di jaringan dapat mengeluarkan token.

Fitur Solana

Algoritma Byzantine Fault Tolerance (BFT)
Protokol Tower BFT memperkuat mekanisme konsensus PoH, sehingga validator dapat mengakses satu sumber waktu secara global. Dengan BFT, jaringan dapat memanfaatkan jam yang disinkronkan dan secara efisien menghilangkan kebutuhan untuk menghitung dan menyimpan timestamps transaksi sebelumnya di blockchain.

Hal ini berbeda dengan blockchain lainnya, dimana validator diperbolehkan untuk memilih transaksi yang belum dikonfirmasi secara acak – terlepas dari urutan eksekusinya – dan memuatnya secara berurutan di blockchain. Dengan pendekatan ini, mereka harus menghitung timestamps sebagai bagian dari persyaratan untuk menambahkan transaksi baru ke blockchain.

Namun bagi Solana, dengan adanya PoH dan BFT ini, maka kebutuhan validator untuk memproses timestamps dapat dilewatkan sehingga menciptakan lebih banyak ruang untuk fokus pada aspek lainnya dari proses validasi transaksi.

Gulf Stream
Solana menggunakan sistem yang disebut Gulf Stream untuk menghilangkan transaksi yang belum dikonfirmasi. Di sinilah validator memilih transaksi dan kemudian menambahkannya ke blockchain. Dalam Solana transaksi diteruskan ke validator bahkan ketika status blok transaksi yang baru ditambahkan belum diselesaikan. Dengan begitu Solana memastikan tidak memiliki daftar tunggu transaksi yang belum dikonfirmasi.

– Sealevel
Solana memperkuat kapasitas komputasi blockchain-nya dengan menggunakan kontrak pintar berjalan secara paralel. Teknologi ini, dijuluki Sealevel. Fitur ini memperluas skalabilitas Solana sehingga beberapa kontrak pintar dapat berjalan secara bersamaan tanpa mempengaruhi kecepatan blockchain.

– Wormhole
Fitur wormhole Solana merupakan penghubung antara Solana, Ethereum, Binance Smart Chain dan blockchain Terra. Dengan fitur ini, pengguna dapat mentransfer token baik fungible dan non-fungbile yang berada dalam ekosistem yang disebutkan diatas. Pengguna juga dapat mengizinkan non-native dapps untuk berbagi hal-hal seperti data oracle dan likuiditas.

 

DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.