Rekam Jejak JPMorgan di Industri Blockchain dan Ambivalensi CEO-nya soal Kripto

Share :

Portalkripto.com — CEO JPMorgan, Jamie Dimon, sering membuat pernyataan yang bertolak belakang soal industri kripto.

Pada suatu kesempatan Dimon menyebutkan JPMorgan sebagai institusi keuangan yang berada di garis terdepan dalam industri blockchain. Namun di kesempatan yang sama, dia juga mengatakan bahwa Bitcoin adalah sesuatu yang tidak berharga.

Saat berbicara di rapat dengar kongres Amerika Serikat pada 21 September 2022, Dimon mengatakan bahwa dia adalah orang yang tidak percaya dengan token kripto seperti Bitcoin. Bahkan dia menyebut token tersebut adalah skema ponzi terdesentralisasi.

“Gagasan bahwa itu (kripto) baik untuk siapa pun adalah sesuatu yang tidak dapat dipercaya,” kata Dimon. Hal itu ia tunjukkan dengan merujuk penggunaan aset kripto untuk serangan ransomware, perdagangan seks, hingga pencucian uang.

Dimon juga berbicara tentang stablecoin, yang merupakan kripto yang dipatok dengan nilai mata uang fiat atau aset material. Dalam beberapa kasus, dia mengatakan, nilai stablecoin dapat dikontrol oleh algoritma.

Contoh paling terkenal dari stablecoin algoritmik adalah ambruknya TerraUSD (UST) pada Mei 2022. Kejadian tersebut menghapus $83 miliar dari keuangan terdesentralisasi dan membuat ekosistem Terra menjadi “nol”.

Dimon berpendapat seandainya stablecoin diatur dengan benar, maka tidak akan menimbulkan masalah. Dengan aturan yang jelas, dia juga melihat sebuah nilai (manfaat) dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi), blockchain, dan token yang memiliki utilitas.

Dimon memiliki rekam jejak ambivalensi yang panjang dalam memberikan informasi tentang kripto.

Pada tahun 2014, dia mengatakan kepada CNBC bahwa Bitcoin adalah “penyimpanan nilai yang mengerikan” dan bahwa kripto “dapat direplikasi berulang-ulang.”

Selama bertahun-tahun kemudian, Dimon menyebut aset kripto terkemuka sebagai fraud dan sesuatu yang terlihat bernilai padahal tidak ada nilainya sama sekali.

Namun di tahun 2019, JPMorgan justru meluncurkan stablecoin yang dipatok dalam dolar AS yang disebut JPM Coin. JPMorgan juga mengizinkan kliennya untuk membeli Bitcoin, Ethereum, Bitcoin Cash, dan Ethereum Classic atau produk terkait tertentu dari Grayscale dan Osprey.

Dalam pertemuan tahunan Institute of International Finance tahun lalu, Dimon mengulang pesan bahwa dia secara pribadi berpikir Bitcoin tidak berharga. Namun dalam sepucuk surat kepada pemegang saham pada awal April 2022, dia menulis “Keuangan dan blockchain yang terdesentralisasi adalah nyata, teknologi baru yang dapat digunakan baik secara publik maupun pribadi, diizinkan atau tidak.”

Dalam suratnya itu juga, Dimon mengatakan JPMorgan berada paling depan untuk teknologi baru ini.

Rekam Jejak JPMorgan di Industri Blockchain

Mengutip blockdata, sepak terjang JPMorgan dalam industri kripto dan blockchain dimulai tahun 2015 dengan membentuk konsorsium R3 dengan delapan bank lainnya seperti BBVA dan Barclays. Konsorsium ini hanya bertahan selama dua tahun.

Setelah itu, pada Februari 2016, JPMorgan memprakarsai uji coba teknologi blockchain untuk mengukur kemampuannya menangani meningkatnya persaingan dari pemberi pinjaman online dan sistem pembayaran yang menggunakan blockchain dan kripto.

Di bulan Oktober di tahun yang sama, JPMorgan meluncurkan Quorum, sebuah platform blockchain yang dikembangkan dan digunakan secara internal.

Dua tahun berselang, 2018, JP Morgan meluncurkan Dromaius yaitu prototipe yang dirancang untuk menguji penggunaan teknologi blockchain Ethereum.

Selama waktu tersebut, bank terbesar di Amerika Serikat tersebut juga bereksperimen dengan bagaimana blockchain dapat membantu meminimalkan biaya dan memastikan transaksi yang lebih mudah dalam pasar modal.

Seperti disebutkan sebelumnya, pada 2019, JP Morgan meluncurkan koin JPM yaitu token digital yang mewakili mata uang fiat menggunakan teknologi blockchain untuk mentransfer pembayaran antara klien institusional.

JPM berjalan di blockchain Quorum dan saat ini tersedia untuk investor institusi besar dan klien dengan persetujuan dari JP Morgan. Koin JPM mendukung jenis pembayaran lanjutan seperti PVP, DVP, pembayaran mesin ke mesin, dan pembayaran lintas batas tradisional.

Mei 2020, JP Morgan memperluas layanannya di luar stablecoin dengan menyediakan layanan manajemen kas dan menangani transaksi berbasis dolar untuk pelanggan Coinbase dan Gemini di AS.

Pada Agustus 2020, JP Morgan menjual blockchain Quorum ke ConsenSys.

Setelah menjual Quorum, pada Oktober 2020, JP Morgan meluncurkan blockchain keduanya yang dinamakan Onyx sekaligus memperluas pasar mata uang digital dalam industri jasa keuangan.

Kurang setahun berselang pada Maret 2021, JP Morgan meluncurkan Cryptocurrency Exposure Basket yaitu instrumen utang yang memberikan paparan kripto melalui 11 saham proxy bitcoin. 11 perusahaan yang memiliki exposure kripto tersebut antara lain MicroStrategy, Block (Square), Riot Blockchain, dan Nvidia.

Lima bulan kemudian, di Juli 2021, JP Morgan menjadi bank AS pertama yang menyediakan akses ke enam penyedia dana kripto untuk klien dengan manajemen kekayaan utama dengan menambahkan Bitcoin dan kripto lainnya ke portofolio mereka.

Buka Lowongan untuk ahli Blockchain

Memasuki 2022, ketika tanda-tanda kripto memasuki pasar bearish, JPMorgan tidak memperlambat langkahnya.

Pada Januari, Bank Sentral Bahrain menyelesaikan tes koin JPM bekerja sama dengan Onyx untuk meluncurkan layanan pembayaran real-time untuk aluminium Bahrain (Alba) di AS.

Sebulan kemudian, JP Morgan menjadi bank pertama yang mendirikan layanannya di Metaverse dengan meluncurkan Lounge Onyx di Decentraland. Tujuannya untuk mengambil keuntungan dari peluang pertumbuhan potensial di Metaverse.

Pada Mei 2022, JP Morgan diuji menggunakan blockchain untuk permukiman agunan. Transaksi pertama terjadi pada 20 Mei, ketika dua entitas dalam JP Morgan mentransfer representasi tokenisasi saham dana pasar uang Black Rock Inc.

Pada Juni 2022, kepala aset digital Onyx mengatakan JP Morgan memiliki rencana untuk membawa triliunan dolar aset tokenisasi ke dalam DeFi. Ini akan mendukung pengguna DeFi memanfaatkan potensi penghasilan aset non-kripto yang menghadirkan peluang besar bagi perusahaan dan seluruh industri blockchain.

Perkembangan terakhir pada bulan ini, JP Morgan menegaskan kembali posisinya untuk menjadi pemimpin dalam industri blockchain dengan membuka lowongan kerja sektor terkait.

Dalam postingan di LinkedIn-nya, mereka membuka lowongan untuk posisi Wakil Presiden (VP) untuk menangani teknologi, media, dan telekomunikasi. Kandidat ini akan menjadi bagian dari industri subvertikal Web3, Crypto, Fintech, & Metaverse.