Bank Indonesia Akan Terbitkan Mata Uang Digital, Apa Tujuannya?

Share :

Portalkripto.com — Wacana Bank Indonesia (BI) menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital sudah dirumuskan sejak beberapa tahun terakhir.

Pada Mei 2021, Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan bahwa bank sentral Indonesia akan meluncurkan mata uang rupiah digital sebagai alat pembayaran yang sah.

Perry menjelaskan bahwa rupiah adalah satu-satunya mata uang yang diterima secara hukum untuk pembayaran di Indonesia dan BI akan mengatur rupiah digital dengan cara yang sama seperti mengatur transaksi tunai dan berbasis kartu.

Dia menjelaskan lebih lanjut, BI terus mengkaji potensi manfaat rupiah digital termasuk dampaknya terhadap kebijakan moneter dan sistem pembayaran, serta mengevaluasi kesiapan infrastruktur keuangan.

Masuknya Indonesia ke perlombaan CBDC global merupakan tanggapan terhadap lonjakan besar dalam perbankan digital, dengan frekuensi transaksi digital melonjak lebih dari 60% setiap tahun.

Perkembangan terkini soal rencana BI menerbitkan CBCD disampaikan Deputi Gubernur BI, Doni P. Joewono dalam seminar “Digital Currency” di Nusa Dua, Bali, Selasa (12/7).

Dia mengatakan digitalisasi dan pandemi Covid-19 membuat aset kripto tumbuh cepat seiring pertumbuhan ekonomi yang turun tajam, diikuti kebijakan moneter dan fiskal longgar yang terjadi secara merata di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.

“Aset kripto memiliki potensi untuk mengembangkan inklusi dan efisiensi sistem keuangan, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan sumber risiko baru yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, moneter, dan sistem keuangan,” jelasnya seperti dikutip dari siaran pers BI.

Untuk mengatasi risiko terhadap stabilitas dari aset kripto tersebut, dibutuhkan kerangka regulasi untuk mengatasinya. Selain itu, keberadaan aset kripto juga menjadi bahan pertimbangan bank sentral dalam menjajaki desain dan penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital yang diterbitkan oleh bank sentral.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Pembentukan Mata Uang Digital (CBDC) Terus Menggeliat, Apa Dampak ke Kripto?

Marc Andreessen: Web3 Seperti Internet di Awal Kemunculannya di 1990-an

Sah! Eks Penasihat Ripple Jadi Wakil Ketua The Fed


Mayoritas bank sentral dunia telah mulai melakukan tahapan riset dan percobaan sesuai dengan karakteristik negaranya masing-masing.

Menurut data atlanticcouncil, hingga saat ini sebanyak 105 negara, yang mewakili lebih dari 95 persen PDB global, sedang menjajaki CBDC.

 

Central Bank Digital Currency Tracker

Dari jumlah tersebut, 10 negara sudah resmi meluncurkan CBDC, 15 negara masih dalam tahap pilot project, 24 pengembangan, 43 tahap riset (termasuk Indonesia, 10 CBDC tidak aktif, dan dua negara yang membatalkan penggunaan CBDC.

Joewono menguraikan BI terus mendalami CBDC dan akhir tahun ini berada pada tahap untuk mengeluarkan white paper pengembangan Digital Rupiah.

Tujuan CBDC

Eksplorasi penerbitan CBDC dilakukan berdasarkan enam tujuan yaitu

  1. menyediakan alat pembayaran digital yang risk-free menggunakan central bank money
  2. memitigasi risiko non-sovereign digital currency
  3. memperluas efisiensi dan ketahapan sistem pembayaran, termasuk cross border
  4. memperluas dan mempercepat inklusi keuangan
  5. menyediakan instrumen kebijakan moneter baru
  6. memfasilitasi distribusi fiscal subsidy.

Penerbitan CBDC juga membutuhkan tiga pre-requisite yang perlu dipastikan untuk dimiliki suatu negara

  1. Desain CBDC yang tidak mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan
  2. Desain CBDC yang 3i (Integrated, interconnected, and Interoperable) dengan infrastruktur FMI-Sistem Pembayaran
  3. Pentingnya teknologi yang digunakan pada tahap eksperimen untuk memahami bagaimana CBDC dapat diimplementasikan (DLT-Blockchain dan non-DLT).

Menurut atlanticcouncil ada banyak alasan mengapa sebuah negara menerbitkan mata uang digital. Alasan paling fundamental adalah tergantung pada situasi ekonomi negara yang bersangkutan.

Sedangkan alasan umum antara lain untuk mempromosikan inklusi keuangan dengan menyediakan akses uang yang mudah dan aman bagi populasi yang tidak memiliki rekening bank dan tidak memiliki rekening bank; memperkenalkan persaingan dan ketahanan di pasar pembayaran domestik; meningkatkan efisiensi pembayaran dan menurunkan biaya transaksi; menciptakan uang yang dapat diprogram dan meningkatkan transparansi dalam aliran uang; dan menyediakan aliran kebijakan moneter dan fiskal yang lancar dan mudah.

Ada sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan secara cermat oleh suatu negara sebelum menerbitkan CBDC. Misalnya antisipasi terhadap kemungkinan warga menarik terlalu banyak uang dari bank sekaligus dengan membeli CBDC yang dapat memicu pemborosan.

Hal ini terutama menjadi masalah bagi negara-negara dengan sistem keuangan yang tidak stabil.

CBDC juga membawa risiko operasional karena rentan terhadap serangan dunia maya sehingga perlu dibuat untuk tahan terhadapnya. Pada akhirnya, CBDC memerlukan kerangka peraturan yang kompleks termasuk privasi, perlindungan konsumen, dan standar anti pencucian uang yang perlu dibuat lebih kuat sebelum mengadopsi teknologi ini.