Harga ETC Naik Dua Digit, Hash Rate Cetak Rekor Tertinggi

Share :

Portalkripto.comToken Ethereum Classic, ETC, mencatat kenaikan dua digit dalam 24 jam terakhir pada perdagangan Selasa pagi di Asia. Sementara hashrate-nya mencapai rekor tertinggi pada hari Senin (5/9) karena para penambang mencari alternatif untuk mengantisipasi The Merge.

Menurut data CoinMarketCap, harga ETC melonjak 24,4% dalam 24 jam terakhir menjadi $40,38. ETC merupakan blockchain asli dari jaringan Ethereum (ETH) yang di-forking pada tahun 2016.

Kenaikan harga ini terjadi ketika hashrate jaringan mencapai 48,89 terahash per detik (TH/s) pada hari Senin yang merupakan level tertinggi. Data dari 2miners.com menunjukkan hashrate turun menjadi 45,99 TH/s pada Selasa pagi.

Tingkat hashrate ETC yang mengacu pada total daya komputasi yang digunakan untuk transaksi penambangan dan pemrosesan, berada di 29,85 TH/s pada 7 Agustus.

Ethereum saat ini menuju transisi yang sangat dinanti-nantikan ke mekanisme proof-of-stake (PoS). Sementara penambang yang sudah berinvestasi dalam model konsensus proof-of-work (PoW) sepertinya akan tetap menambang Ethereum Classic yang sejalan dengan model POW.

BTC.com, salah satu kumpulan penambangan terbesar, mengumumkan minggu lalu bahwa mereka akan menawarkan penambangan ETC tanpa biaya selama tiga bulan mulai 1 September.


Anda Juga Bisa Baca Artikel Lain

Kabar Terra Luna Classic (LUNC) dan Do Kwon Setelah 4 Bulan Fork

Wallet Misterius Kuasai 50% Suplai Token SLP di Axie Infinity

Arus Masuk BTC dan ETH ke Exchanges Meningkat, Bandar Siap Jual?


Tidak Semua Setuju dengan The Merge

Tidak semua penambang setuju dengan transisi Ethereum dari mekanisme PoW ke PoS. Hal ini seperti dilakukan oleh seorang penambang kawakan di China, Chandler Guo.

Dia menolak transisi Ethereum dan bersikukuh untuk mempertahankan Ethereum tetap menggunakan PoW dengan melakukan forking.

Salah satu alasan Guo melakukan forking adalah potensi kerugian akibat transisi dari PoW ke PoS.

Dalam mekanisme PoW, penambang dapat menghasilkan cuan melalui penyelesaian transaksi yang rumit menggunakan operasi komputansi dan energi listrik yang besar.

Dengan mekanisme yang beralih ke PoS, maka potensi cuan bagi para penambang seperti Guo akan lenyap. Sementara Guo sudah menginvestasikan perangkat keras khusus penambangan yang harganya sangat mahal dan berpotensi tidak akan berguna.

Untuk itu Guo ingin tetap mempertahankan jaringan PoW lama sehingga penambang dapat terus menghasilkan cuan dengan peralatan yang ada.

Namun setelah proses transisi selesai maka kripto yang dihasilkan oleh Guo tidak akan menjadi ETH. Guo yang melakukan forking jaringan Ethereum akan menciptakan aset kripto baru yang dia sebut ETHPOW.

Rencana Guo ini menghadapi tantangan berat karena untuk membuat dan memelihara jaringan Ethereum baru membutuhkan banyak sekali dukungan, baik secara ekonomi maupun teknis.

Aset baru dari hasil forking ini akan menjadi jaringan dan kripto yang sepenuhnya berbeda dari Ethereum, tanpa nilai, infrastruktur, atau utilitas yang diasumsikan. ETHPOW perlu dukungan yang luas supaya bisa memberikan insentif kepada para miners-nya.

Apa Manfaat Transisi dari PoW ke PoS?

Transisi Ethereum ke PoS menjanjikan konsumsi energi yang lebih rendah dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Menurut Ethereum Foundation, mekanisme PoS akan mengurangi konsumsi energi hingga 99,95%.

Ethereum Foundation mengklaim transisi dari PoW ke PoS akan memangkas emisi karbon Ethereum menjadi 0,07 kilogram per transaksi dari 147,86 kilogram saat ini yang membuat jejak karbonnya 17.000 kali lebih efisien daripada Bitcoin.

Pembaruan ini akan meningkatkan jumlah transaksi yang dapat ditangani Ethereum dari 15 hingga 20 transaksi per detik saat ini, menurunkan biaya gas, dan meningkatkan keamanan jaringan.

Perpindahan ke PoS tidak akan cukup bagi Ethereum untuk menjadikan jaringannya sebagai blockchain yang paling berkelanjutan.

Ronin, sidechain terkait Ethereum, mengklaim hanya menghasilkan 0,000001 kilogram karbondioksida per transaksi. Sementara Solana yang menggunakan hibrida dari mekanisme konsensus PoS dan proof-of-history (PoH) menghasilkan sekitar 0,0002 kilogram.

Bitcoin, kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, memiliki jejak karbon paling buruk di angka 1.223,38 kilogram karbondioksida per transaksi.

Meskipun transisi tidak menjadikan Ethereum sebagai teknologi blockchain yang paling berkelanjutan, namun para ahli sepakat dan mendukung pembaruan ini sebagai langkah yang benar.