Konsumsi Energi Bitcoin Turun karena Penambang Sedang Amsyong

Share :

Portalkripto.com — Menurut laporan Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index, penambangan Bitcoin menunjukkan penurunan penggunaan energi sebesar 25% per Juni 2022 ini.

Dalam indeks tersebut disebutkan konsumsi energi Bitcoin saat ini sebesar 10,65 gigawatt, turun siginifikan dibandingkan 6 Juni yang mencapai 14,34 gigawatt. Penurunan ini berarti konsumsi tahunannya berada di 93,33 terawatt-jam. Pada saat puncaknya, penambangan BTC membutuhkan daya 16,09 GW.

Penurunan konsumsi dari rekor tertingginya 150 terawatt-jam di bulan Mei kemungkinan disebabkan oleh penurunan hash rate pertambangan.

Hash rate Bitcoin adalah daya komputasi yang diperlukan untuk membuat blok di jaringan Bitcoin.

Dalam dua pekan terakhir, hash rate BTC turun menjadi 199,225 exahash per detik (EH/s) akibat kesulitan penambangan yang mencapai rekor tertinggi 231.428 EH/s pada 13 Juni.

Dengan harga Bitcoin yang terus turun mencapai $20.000 bulan ini, sebagian penambang memutuskan untuk offline karena penambangan dinilai kurang menguntungkan. Ini menjelaskan mengapa penggunaan energi untuk menambang dan hash rate terus turun secara bertahap.

Sementara itu, tingkat kesulitan penambangan Bitcoin sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa di 231,428 EH/s pada 13 Juni 2022. Hal ini diikuti oleh penurunan lebih dari -13,9% selama dua minggu. Rincian terbaru dari distribusi tingkat hash menunjukkan F2Pool dan AntPool sebagai penambang terbesar yang diketahui dengan masing-masing menambang 81 dan 80 blok selama empat hari terakhir.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Blockchain di Persimpangan Jalan

Penemuan Emas 31 Juta Ton di Uganda Bakal Pengaruhi Nilai Bitcoin?


Penambang Bitcoin Ramai-ramai Jual Asetnya  

Penurunan harga Bitcoin pun membuat para penambang kesulitan finansial karena mereka harus berjuang mempertahankan operasinya. Sebuah laporan yang diterbitkan lembaga penelitian Arcane menjelaskan bahwa penambang Bitcoin yang diperdagangkan secara publik menjual semua koin yang mereka tambang di bulan Mei.

Ini bertentangan dengan kebiasaan atau strategi kebanyakan penambang, yaitu menahan Bitcoin untuk kondisi pasar yang lebih baik. Tetapi dengan profitabilitas yang menukik tajam dan banyak penambang membutuhkan arus kas positif, mereka akhirnya menjual asetnya.

Menurut laporan tersebut, banyak penambang menjual Bitcoinnya untuk menutupi biaya operasional dan melunasi utang. Salah satunya adalah Bitfarms yang menjual 3000 Bitcoin seharga $63 juta untuk meningkatkan likuiditas perusahaan.

Dibandingkan dengan penambang kelas kakap seperti Bitfarms, penambang yang lebih kecil menghadapi tantangan yang lebih berat untuk mempertahankan profitabilitas

Analis Marathon Digital, Charlie Schumacher, mengatakan penambang kecil menghadapi ancaman dua kali lipat dari harga bitcoin yang lebih rendah dan kenaikan biaya energi. Akibatnya, beberapa perusahaan membatalkan pesanan untuk mesin penambangan baru.