Penemuan Emas 31 Juta Ton di Uganda Bakal Pengaruhi Nilai Bitcoin?

Share :

Portalkripto.com — Pemerintah Uganda mengklaim menemukan 31 juta ton bijih emas di wilayah timur laut negara itu. Juru bicara Kementerian Energi dan Pengembangan Mineral Uganda, Solomon Muyita, mengatakan sekitar 320.158 ton emas murni dapat diekstraksi dari bijih tersebut.

World Gold Council mengomentari penemuan emas di Uganda dan jumlahnya yang fantastis. “Dengan tidak adanya pengumuman formal mengenai cadangan/sumber daya bijih tersebut, kami tidak mengharapkan penemuan itu akan berkontribusi secara material untuk pasokan emas di masa mendatang,” ujar juru bicaranya kepada Cointelegraph.

Lalu apakah bakal ada hubungan antara penemuan emas di Uganda dengan nilai Bitcoin global?

Emas dianggap sebagai aset yang tahan terhadap inflasi karena persediaannya yang terbatas. Sifat ini juga dimiliki oleh Bitcoin, yang selalu diibaratkan sebagai ‘emas digital’. Beberapa analis bahkan menyeutkan Bitcoin bisa lebih unggul dari emas karena pasokannya yang terbatas di angka 21 juta.

Jika Uganda benar memiliki 320.158 metrik ton emas murni, pasokan emas di dunia akan meningkat secara substansial. Hal tersebut dapat menurunkan harga emas dan tak lagi menjadikan emas sebagai aset yang menjanjikan.

Kerugian yang dialami emas bisa menjadi keuntungan bagi mata uang kripto.

Kabar ini menarik perhatian banyak pihak. CEO MicroStrategies Michael Saylor, mengunggah video di Twitter tentang penemuan cadangan emas besar di Uganda yang mungkin senilai $12,8 triliun. “#Emas berlimpah. #Bitcoin langka,” cuit Saylor.

Menurutnya, jika benar Uganda memilki cadangan bahan emas sebesar itu, Syalor mengatakan, kondisi ini akan mengukuhkan Botcoin sebagai aset yang langka.

“Setiap komoditas di dunia terlihat baik-baik saja di lingkungan hiperinflasi, tetapi yang menjadi rahasia adalah Anda dapat menghasilkan lebih banyak minyak, Anda dapat menghasilkan lebih banyak perak, Anda dapat menghasilkan lebih banyak emas. Bitcoin adalah satu-satunya hal yang terlihat seperti komoditas yang langka dan tertutup,” katanya kepada CNBC.

Meski mungkin Pemerintah Uganda melakukan kesalahan penghitungan, sumber emas baru hampir selalu bisa ditemukan mengingat saat ini teknologi penambangan semakin maju. Dengan demikian, jika dibandingkan, bisakah Bitcoin dianggap lebih baik dari emas?

Kepala analis di Blockchain.com, Garrick Hileman, pun merespon temuan ini dengan nada optimisme bahwa BTC bakal menjadi aset yang unggul dari segi kelangkaan.

“Temuan (emas) di Uganda menggarisbawahi mengapa sekitar 200 juta pemegang Bitcoin percaya bahwa emas digital, Bitcoin, lebih unggul daripada emas dalam hal kelangkaan dan keandalannya sebagai penyimpan nilai dalam beberapa dekade mendatang,” kata


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

Adopsi Digital Currency (CBDC) Afrika Meningkat, Mengancam Stablecoin?

Penggunaan Yuan Digital (CBDC) di China Melonjak 1.800% di Tahun 2021

Rubel Rusia Melonjak 40% terhadap Dolar AS Sejak Januari


Menurutnya, seperti halnya kasus-kasus penemuan emas lain sepanjang sejarah, penemuan emas di Uganda ini juga dapat memiliki implikasi negatif yang cukup signifikan terhadap harga emas untuk tahun-tahun mendatang.

Meski demikian, tidak semua orang setuju dengan pendapat itu. Eshwar Venugopal, asisten profesor di departemen keuangan University of Central Florida. mengatakan, Bitcoin belum teruji sebagai aset yang anti inflasi mamupun kelas aset yang aman seperti ems.

“Orang-orang melabeli Bitcoin sebagai ‘emas digital’ karena dianggap sebagai aset lindung nilai, terutama terhadap pasar saham. Tetapi hal itu tidak terbukti dalam tiga tahun terakhir ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, terus bertambahnya partisipasi dari investor tradisional membuat Bitcoin sekarang sejalan dengan aset berisiko seperti ekuitas. Menurut Venugopal, aset lindung nilai seharusnya tidak berkorelasi dengan pasar saham.

“Ketika investor institusional memasuki pasar seperti itu, batas stop-loss perdagangan dan aset dalam portofolio mereka dengan perluasan pasar berkorelasi positif satu sama lain. Fakta bahwa Bitcoin dibeli dan dijual dengan cara yang sama seperti aset berisiko lainnya, telah merusak label ’emas digital’ yang dilekatkan padanya,” tambah pendiri dan CEO CheckSig Ferdinando Ametrano, yang juga pendiri Digital Gold Institute.

Venugopal menyebut, nilai Bitcoin didapat dari kepercayaan pengguna pada sistem. Sebelum menjadi aset lindung nilai, kata dia, Bitcoin membutuhkan basis pengguna yang sebanding dengan mata uang fiat besar.

“Saya meihat Bitcoin menjadi aset yang berisiko tetapi bukan sebagai penyimpan nilai, melainkan karena volatilitasnya, tidak efisien untuk dicetak, dan tidak sejalan dengan kedaulatan,” tuturnya.

Sementara wakil presiden pengembangan perusahaan dan Internasional Luno, Vijay Ayyar, mengatakan Bitcoin tidak diatur oleh entitas atau pihak ketiga sehingga tunduk pada perubahan harga yang murni dari pasar.

“Setiap aset moneter baru biasanya mengalami proses monetisasi sebelum dianggap sebagai penyimpan nilai. Proses ini bahkan bisa memakan waktu 5 sampai 10 tahun. Emas sudah ada selama ribuan tahun. Oleh karena itu, mungkin masih butuh waktu bagi Bitcoin untuk memiliki sifat seperti emas,” ungkap Ayyar.

Ia menambahkan, jaringan Bitcoin telah beroperasi selama lebih dari 10 tahun dan penetrasi pasarnya masih kurang dari 1% secara global. Menurutnya, volatilitas harga Bitcoin juga membuat aset kripto tersebut sulit mendapat julukan ’emas digital’.

Menelisik Jumlah Temuan Emas di Uganda

Ada yang janggal terkait klaim jumlah penemuan emas di Uganda karena dinilai sangat besar. Angkanya bahkan melebihi jumlah emas yang sudah ditambang dari seluruh dunia saat ini sebanyak 200.000 metrik ton emas murni.

Beberapa orang menduga Pemerintah Uganda telah salah menggunakan metric ton untuk ukuran ons dalam perhitungannya.

Selama ribuan tahun, emas dikenal sebagai aset penyimpan nilai karena tahan lama, langka, dan sulit ditambang. Ada banyak bijih emas yang diperlukan untuk menghasilkan satu gram emas murni.

Menurut World Gold Council, biasanya, pertambangan emas bawah tanah yang berkualitas tinggi akan menghasilkan 8 sampai 10 gram emas murni per metrik ton bijih emas. Sementara pertambangan emas yang berkualitas biasa akan menghasilkan 4 hingga 6 gram emas murni per metrik ton bijih emas.

Jika rata-rata emas yang dapat dihasilkan per metrik ton bijih adalah 7 gram, berarti Uganda hanya bisa menghasilkan sekitar 217 metrik ton emas murni. Angka ini sangat jauh dari angka 320.158 metrik ton emas murni yang diklaim negara itu.

217 metrik ton emas murni hanya sekitar sepersepuluh dari satu persen emas yang sudah ditambang di seluruh dunia.