Pencucian uang dalam Bentuk Fiat Masih Dominan Dibandingkan Cryptocurrency

Share :

Portalkripto.com — Sebuah laporan investigasi Reuters yang diterbitkan pada Selasa 7 Juni 2022 menyatakan bahwa exchange kripto terbesar di dunia Binance telah melakukan pencucian uang senilai $2,35 miliar. Menurut laporan tersebut, aksi laundering dilakukan dari 2017 hingga 2021 untuk pengembangan senjata nuklir Korea Utara.

Menanggapi pemberitaan tersebut, CEO Binance Changpeng Zhao (CZ), menyatakan laporan investigasi Reuters itu tidak berimbang.

Mengutip data Chainalysis, CZ menjelaskan faktanya sudah jelas bahwa hanya 0,15% dari semua transaksi kripto pada tahun 2021 yang dikaitkan dengan beberapa jenis aktivitas terlarang. Sedangkan menurut PBB, aktivitas terlarang di sektor fiat atau uang tunai jumlahnya diperkirakan sebesar 2-5%, senilai $800 miliar hingga $2T.

Perbandingan Money Laundering di Kripto dan Fiat

Industri kripto sering dikaitkan dengan tindakan ilegal seperti pencucian uang. Hal ini telah menjadi perhatian khusus dan agenda utama bagi pembuat kebijakan untuk mengatasinya. Namun jika dibandingkan dengan fiat, pencucian uang di industri kripto jumlahnya jauh lebih kecil.

Dalam laporan tiga tahunan yang dirilis oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat (USDT), dinyatakan bahwa fiat dan jaringan tradisional masih menjadi pilihan utama bagi fraudster untuk melakukan aksinya.

“Penggunaan aset virtual untuk pencucian uang masih jauh di bawah mata uang fiat dan metode yang lebih tradisional,” demikian pernyataan USDT.

Hasil yang sama disampaikan oleh SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) dalam laporan tahun 2020. Meskipun DeFi identik dengan transfer uang yang tidak diatur oleh bank, namun fiat yang didukung pemerintah pada umumnya masih menjadi pilihan utama untuk pencucian uang.

“Kasus pencucian melalui kripto jumlahnya tetap relatif kecil dibandingkan dengan volume uang tunai yang dicuci melalui metode tradisional,” tulis SWIFT.


Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya:

Binance Bantah Tudingan Reuters soal Pencucian Uang

Kerugian Akibat Penipuan Berkedok Proyek Kripto Mencapai $ 1 Miliar

Bitcoin Kembali ke Harga $ 31 Ribu, Hati-hati False Breakout


Fakta lainnya disampaikan oleh Badan Kerjasama Penegakan Hukum Uni Eropa, Europol.

Dalam kesimpulan dari laporan berjudul “Cryptocurrency: Tracing the Evolution of Criminal Finances” dinyatakan bahwa kripto masih menarik bagi penjahat untuk melakukan aksinya, terutama karena sifatnya yang pseudo-anonim, kemudahan, serta kecepatan pengiriman dana. Namun penggunaan mata uang kripto untuk tindakan ilegal hanya sebagian kecil dari keseluruhan ekosistem kripto dan jumlahnya tetap relatif lebih kecil dibandingkan dengan keuangan tradisional.

Menurut laporan Chainalysis, pada tahun 2019, jumlah aktivitas terlarang atau kriminal yang terjadi dari total volume transaksi kripto mencapai 2,1% atau senilai sekitar $ 21,4 miliar. Pada tahun 2020, jumlahnya turun menjadi 0,34% dengan nilai kerugian mencapai $10,0 miliar.

Sedangkan menurut data Unodoc, lembaga PBB yang mengurusi masalah narkoba dan kejahatan, perkiraan jumlah pencucian uang fiat secara global dalam satu tahun adalah 2-5 % dari PDB global atau senilai $800 miliar hingga $2 triliun.

Perbedaan terbesar antara pencucian uang berbasis fiat dan kripto adalah karena transparansi yang melekat pada blockchain. Penyidik atau bahkan orang awam dapat melacak bagaimana penjahat memindahkan kripto antara wallet dan layanan dalam upaya mengkonversi kripto menjadi uang tunai.