Adopsi Digital Currency (CBDC) Afrika Meningkat, Mengancam Stablecoin?

Share :

Portalkripto.com — Beberapa bank sentral di benua Afrika sub-Sahara sedang menjajaki atau sudah memasuki fase percontohan dalam mengadopsi penggunaan mata uang digital (CBDC). CBDC adalah uang tunai (fiat) versi digital yang dikeluarkan dan diatur oleh bank sentral.

Menurut data Chart of the Week yang dikutip dari blog IMF, Afrika Selatan dan Ghana saat ini sedang menjalankan uji coba, sementara negara Afrika lainnya sedang dalam tahap penelitian.

The South African Reserve Bank sedang bereksperimen dengan CBDC grosir, yang hanya dapat digunakan oleh lembaga keuangan untuk transfer antar bank, sebagai bagian dari fase kedua Proyek Khokha. Negara ini juga berpartisipasi dalam uji coba lintas batas dengan bank sentral Australia, Malaysia dan Singapura.

Sedangkan, Bank of Ghana sedang menguji CBDC untuk tujuan umum atau ritel. Mata uang digitalnya yang dinamamkan e-Cedi dapat digunakan oleh siapa saja melaui aplikasi dompet digital atau kartu pintar tanpa kontak yang dapat digunakan secara offline.

Setiap negara memiliki motif yang berbeda untuk menerbitkan CBDC tetapi untuk kawasan Afrika sub-Sahara ini ada beberapa yang perlu digarisbawahi karena penting.

Pertama, mendorong inklusi keuangan. CBDC dapat memberikan layanan keuangan kepada orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki rekening bank, terutama jika dirancang untuk penggunaan offline. Di daerah terpencil tanpa akses internet, transaksi digital dapat dilakukan dengan sedikit atau tanpa biaya menggunakan ponsel berfitur sederhana.

Kedua, CBDC dapat digunakan untuk mendistribusikan pembayaran kesejahteraan yang ditargetkan, terutama selama krisis seperti pandemi atau bencana alam. Mereka juga dapat memfasilitasi transfer dan pembayaran lintas batas.

Ketiga, Benua Afrika Sub-Sahara termasuk wilayah dengan biaya tinggi untuk mengirim dan menerima uang, dengan biaya rata-rata sekitar 8% dari jumlah yang transfer. Dengan adanya CBDC, biaya tersebut akan lebih murah karena memperpendek rantai pembayaran dan menciptakan lebih banyak persaingan di antara penyedia layanan.


Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya:

Penggunaan Yuan Digital (CBDC) di China Melonjak 1.800% di Tahun 2021

Rubel Rusia Melonjak 40% terhadap Dolar AS Sejak Januari


Selain itu dapat membuat pengiriman remitansi lebih mudah dan lebih cepat. Izin pembayaran lintas batas yang lebih cepat akan membantu meningkatkan perdagangan di kawasan terkait dan dengan seluruh dunia.

Meski mendatangkan banyak manfaat, ada risiko dan tantangan yang perlu dipertimbangkan sebelum menerbitkan CBDC. Pemerintah perlu meningkatkan akses ke infrastruktur digital seperti konektivitas telepon atau internet. Bagi sebagian kawasan Afrika yang belum tersentuh internet, tentunya membutuhkan lebih banyak investasi.

Secara lebih luas, bank sentral perlu mengembangkan keahlian dan kapasitas teknis untuk mengelola risiko terhadap privasi data, termasuk potensi serangan siber, dan integritas keuangan yang mengharuskan negara untuk memperkuat sistem identifikasi nasionalnya.

Risiko lainnya adalah bahwa warga negara terlalu banyak menarik uang dari bank untuk membeli CBDC. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan bank untuk meminjamkan uang, terutama bagi negara-negara dengan sistem keuangan yang tidak stabil.

Bank sentral juga perlu mempertimbangkan bagaimana CBDC memengaruhi industri swasta untuk layanan pembayaran digital yang berperan penting dalam mempromosikan inklusi keuangan melalui mobile money.

Berikut adalah daftar negara di Benua Afrika sub-Sahara dengan status CBDC-nya

Resmi diluncurkan
– Ghana

Tahap pilot project
– Ghana
– Afrika Selatan

Tahap riset
– Zambia
– Namibia
– Eswatini
– Zimbabwe
– Madagaskar
– Mauritius
– Rwanda
– Kenya
– Uganda

Perbedaan CBDC dengan Aset Crypto

Seperti diketahui, CBDC sangat berbeda dengan cryptocurrency. Di mana mata uang digital ini dibuat secara sentralistik dan dikeluarkan oleh bank sentral. Nilainya pun mengikuti nilai mata uang di negara yang membuat CBDC.

Sedangkan, cryptocurrency umumnya dikeluarkan oleh pihak di luar otoritas kenegaraan atau lembaga seperti bank sentral. Sebagian besar aset crypto dibentuk dan berjalan pada sistem desentralisasi menggunakan teknologi blockchain. Pada prinsipnya aset kripto memilki semangat untuk mendistribusikan kekayaan pada komunitas.

Ancaman Stablecoin

Semakin meningkatnya negara-negara yang tengah mempersiapkan CBDC, telah menjadi salah satu ancaman bagi industri crypto. Meski, tidak langsung mengancam cryptocurrency seperti Bitcoin, CBDC bisa saja menjadi penghalang bagi perkembagan stablecoin.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur eksekutif di aset digital hedge fund ARK36, Mikkel Morch. Ia mengatakan bahwa kasus penggunaan dan proposisi nilai dari aset digital terdesentralisasi kerap tidak ramah pada transaksi sederhana.

“Namun, harus diakui, CBDC dapat mengurangi peran dan permintaan untuk stablecoin yang diterbitkan secara pribadi asalkan ada pasar untuk stablecoin yang sudah ada di negara tersebut – yang lebih banyak terjadi di AS daripada di Singapura,” ujar Morch dikutip dari Cointelegraph.

Meski demikian, ia mengatakan, berdasarkan statment Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang awal tahun ini mengisyaratkan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan menghentikan stablecoin yang diatur dengan baik dan dikeluarkan secara pribadi. Menurut Powell stablecoin bisa  hidup berdampingan dengan potensi dolar digital Fed.

“Peluncuran CBDC bahkan dapat memfasilitasi proliferasi cryptocurrency dan teknologi blockchain yang tidak berdaulat,” ujarnya.