🔥 HOT TOPIC :

Rubel Rusia Melonjak 40% terhadap Dolar AS Sejak Januari

Share :

Portalkripto.com — Nilai Rubel Rusia terus meningkat terhadap dolar Amerika Serikat, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini.

Tiga bulan setelah nilai rubel turun menjadi kurang dari satu sen AS ditambah sanksi ekonomi dari sekutu AS akibat serangan ke Ukraina, Rubel mengalami perubahan haluan yang drastis. Rubel melonjak 40% terhadap dolar sejak Januari.

“Ini situasi yang tidak biasa,” kata Jeffrey Frankel, seorang profesor Pertumbuhan Modal di Harvard Kennedy School.

Biasanya, sebuah negara yang menghadapi sanksi internasional dan konflik militer besar akan membuat investornya kabur dan arus modal keluar, menyebabkan mata uangnya turun.

Tetapi tindakan agresif Rusia untuk menahan uang agar tidak meninggalkan negaranya, dikombinasikan dengan kenaikan dramatis harga bahan bakar fosil, berhasil menciptakan permintaan rubel dan mendorong nilainya terus naik.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan bahwa perdagangan dengan China, India, Brasil, dan Afrika Selatan melonjak 38% dalam tiga bulan pertama tahun ini, meskipun negaranya sedang menjalani sanksi yang menurut dia sarat muatan politik.

Volume perdagangan dengan empat negara itu mencapai $45 miliar.

“Pasokan minyak Rusia ke China dan India tumbuh secara nyata,” kata Putin, Rabu (22/6)

Mengapa rubel pulih

Alasan utama mengapa rubel bisa pulih adalah melonjaknya harga komoditas. Setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, harga minyak dan gas alam yang sudah tinggi, semakin naik lebih jauh.

“Harga komoditas saat ini sangat tinggi, dan meskipun ada penurunan volume ekspor Rusia karena embargo dan sanksi, kenaikan harga komoditas lebih dari sekadar mengkompensasi penurunan ini,” kata ekonom pasar negara berkembang terkemuka di Oxford, Tatiana Orlova.

Rusia menarik hampir $20 miliar per bulan dari ekspor energi. Sejak akhir Maret, banyak pembeli asing telah memenuhi permintaan untuk membayar energi dalam rubel yang mendorong nilai mata uang.


Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya:

Penambang Bitcoin Berangsur Menjual Cadangan BTC Hadapi Crypto Winter

Elliptic: Dogecoin Dilirik Pelaku Kejahatan sebagai Alat Pembayaran

Penggunaan Yuan Digital (CBDC) di China Melonjak 1.800% di Tahun 2021


Pada saat yang sama, sanksi Barat dan gelombang bisnis yang meninggalkan negara itu telah menyebabkan penurunan impor. Dalam empat bulan pertama tahun ini, surplus akun Rusia — perbedaan antara ekspor dan impor — naik ke rekor $96 miliar.

“Kami memiliki kebetulan bahwa, ketika impor runtuh, ekspor melonjak,” kata Orlova.

Arus Keluar Ditutup

Bank sentral Rusia juga menopang rubel dengan kontrol modal yang ketat yang membuatnya lebih sulit untuk dikonversi ke mata uang lain. Itu termasuk larangan pemegang saham dan obligasi Rusia asing mengambil pembayaran dividen ke luar negeri.

“Itu dulunya merupakan sumber arus keluar yang cukup signifikan untuk mata uang dari Rusia – sekarang saluran itu ditutup,” kata Orlova.

Sementara itu, eksportir Rusia diharuskan untuk mengubah setengah dari kelebihan pendapatan mereka menjadi rubel, menciptakan permintaan untuk mata uang. Selain itu, Orlova mencatat, sangat sulit bagi perusahaan asing untuk menjual investasi mereka di Rusia dan ini menjadi hambatan bagi pihak asing untuk melarikan modalnya.

“Kami melihat bahwa perusahaan Barat yang akan meninggalkan Rusia harus menyerahkan saham mereka kepada mitra lokal mereka, sehingga mereka tidak memindahkan uang tunai dalam jumlah besar dari Rusia,” katanya.

Semua faktor ini menciptakan permintaan untuk rubel dan meningkatkan nilainya.

Rusia masih Merasakan Tekanan Berat

Meski dinilai kuat, tidak berarti Rusia kebal terhadap kesulitan ekonomi. Rebound rubel dan kekuatan ekspor minyak Rusia untuk sementara waktu telah melindungi ekonominya dari sanksi, namun para ahli mengatakan efeknya hanya bersifat jangka pendek saja.

Seorang analis di Raymond James, Pavel Molchanov, mencatat bahwa minyak Rusia dijual seharga $35 per barel lebih rendah dari Brent, yang menjadi patokan internasional. Harga ini berarti pembeli meminta diskon untuk melakukan bisnis dengan Rusia

Molchanov mengatakan tidak ada orang yang mau membeli minyak Rusia dengan harga $120 per barel dan faktanya adalah banyak calon pembeli yang tidak mau membeli minyak Rusia dengan harga berapa pun hari ini.

“Ekonomi Rusia kehilangan sekitar $200 juta dolar per hari – atau $70 miliar setiap tahun – sebagai akibat langsung dari perang,” katanya.

Terlebih lagi, negara-negara Eropa telah berjanji untuk memotong impor gas Rusia hingga dua pertiga tahun ini. Pengurangan pasokan ini berpotensi melumpuhkan Rusia karena ketergantungannya pada ekspor energi.

Salah satu tanda ekonomi Rusia tetap di bawah tekanan berat adalah inflasi Rusia berada dua kali lipat dibawah di AS.

Kekhawatiran lain bagi Rusia adalah bahwa penghentian impor dapat menyebabkan kekurangan industri, sementara penurunan investasi asing diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi negara itu selama bertahun-tahun. Institut Keuangan Internasional memperkirakan ekonomi Rusia menyusut 15% tahun ini.