Cerita 4 Tahun Perjalanan Terra, dari Berdiri hingga Kehancurannya

sejarah terra luna
Share :

Portalkripto.com — TerraForm Labs menghabiskan empat tahun membangun ekosistemnya dan menghubungkannya ke blockchain lain sebelum mengalami kehancuran pada awal Mei lalu.

Ketika stablecoin algoritmik TerraUSD (UST) kehilangan pasaknya, jutaan dolar lenyap hanya dalam hitungan hari. Koin yang digunakan sebagai jaminan yang dapat ditukarkan dengan satu dolar, diperdagangkan dengan nilai hanya satu nikel, sekitar $ 0,0231. Dan LUNA, token tata kelolanya, yang bulan lalu memiliki kapitalisasi pasar lebih dari $30 miliar, telah tergerus puluhan milyar dollar, menjadi $680 juta.

Cerita awal mula TerraForm Labs dimulai pada tahun 2018.

Do Kwon dan Daniel Shin mendirikan Terraform Labs pada bulan Januari. Tiga bulan kemudian pada bulan April, mereka mendaftarkannya sebagai perusahaan saham terbatas swasta di Singapura.

Pada bulan Agustus, Terraform berhasil meraup investasi senilai $32 juta atau setara dengan Rp 46 milyar, dari venture capital seperti: Translink Capital, Polychain Capital, FBG Capital, Hashed, 1kx, Kenetic Capital, dan Arrington XRP. Empat bursa kripto terbesar yaitu Binance, OKEx, Huobi Capital, dan Dunamu juga berinvestasi di blockchain Layer-0 Terra.

Sejak awal, Terra berambisi menjadi raksasa pembayaran untuk menyaingi Alipay dan PayPal. Shin, pendiri raksasa e-commerce Korea TMON, nantinya berhasil membawa lebih dari 20 perusahaan untuk membentuk Aliansi Terra dan mengadopsi sistem pembayarannya.


Jelajahi Artikel Lain:

Ke Mana Larinya Cadangan $ 3,5 Milyar BTC Terra saat UST Crash?

Vitalik Buterin Sentil Terra: Utamakan Holder Kecil


Pada awal 2019, Terra mengumpulkan $62 juta melalui penawaran koin awal (ICO) untuk token tata kelola LUNA, dengan harga $0,80 per LUNA. Terraform Labs mengatakan LUNA akan menjadi bagian dari sistem token ganda, yang terdiri dari Terra sebagai stablecoin dan Luna yang menjadi token agunan.

Dalam slide presentasi yang ditampilkan saat ICO, Terraform Labs juga menjanjikan bahwa Terra Stability Reserve menjamin solvabilitas, melindunginya dari risiko spekulatif dan peraturan yang dihadapi koin lain.

Setelah Satu Tahun

Tepat satu tahun setelah Terraform Labs terdaftar di Singapura, Terraform Labs meluncurkan Mainnet Columbus pada 24 April 2019.

Blockchain yang berjalan dalam jaringan Terra ini memiliki beberapa tool yang sangat berguna seperti penjelajah blok, dasbor staking, dan registrar untuk investor prapenjualan untuk membuat dompet dan mengelola token LUNA mereka.

Selain itu, ada juga fungsi simulasi untuk melihat bagaimana mekanisme stabilitas Terra bereaksi terhadap perubahan variabel makroekonomi.

Salah satu daya tarik besar ekosistem Terra adalah protokol pinjaman Anchor yang diluncurkan pada Juli 2020. Anchor disebut-sebut sebagai standar emas untuk pendapatan pasif di blockchain.

Sebelum kehancuran Terra, Anchor menjanjikan kepada pemberi pinjaman persentase hasil tahunan hampir 20%, dan total nilai terkunci (TVL) membengkak menjadi $17 miliar atau sekitar 70% dari semua nilai di ekosistem Terra. Saat Terra crash, TVL di Anchor merosot menjadi $ 88 juta (22 Mei 2022).

Pada saat Anchor diluncurkan, investor yang meminjam kripto dari protokol Maker merasa mendapatkan kejutan.

Token Maker (MKR), yang dibuat oleh MakerDAO, digunakan untuk mendukung stablecoin DAI sebagai bagian dari sistem kreditnya. Protokol tersebut meminjamkan DAI kepada pengguna yang mengunci kripto mereka, seperti Ethereum, sebagai jaminan.

Dalam momen yang dikenal sebagai Black Thursday, harga Ethereum turun di bawah $100 menyebabkan pinjaman DAI menjadi undercollateralized. Pada saat itu, protokol secara otomatis menempatkan jaminan ETH untuk dilelang.

Tetapi karena kemacetan jaringan dan harga gas yang tinggi, beberapa penawar dapat membeli aset yang dilikuidasi dengan harga yang sangat rendah yaitu $0. Itu berarti orang-orang yang telah memasang Ethereum untuk pinjaman mereka yang sekarang tanpa jaminan telah kehilangan segalanya.

“Sistem penjaga bergantung pada arbiter untuk membiayai likuidasi berdasarkan kebijaksanaan yang dapat mengakibatkan krisis likuiditas pada saat volatilitas pasar tinggi, menyebabkan kerugian besar bagi peminjam,” jelas kepala penelitian Terra, Nicholas Platias, dalam postingan di blog Medium-nya.

“Kontrak likuidasi, sebaliknya, sepenuhnya dijaminkan dan memberlakukan periode penarikan yang panjang untuk memberikan stabilitas dalam menghadapi guncangan sementara,” sambung Platias.

Setelah crash, Anchor hanya memiliki UST dan AVAX senilai $100 juta. AVAX adalah token asli Avalanche.

Peluncuran Stablecoin UST

Dengan memanfaatkan bagian kedua dari sistem dual-tokennya, Terra mengumumkan peluncuran stablecoinnya pada September 2020.

Tetapi kurang dari setahun kemudian, Terra menghadapi tantangan ekonomi makro yang kuat.

China sedang gencar-gencarnya menindak penambang Bitcoin. Tak cuma itu, UST untuk pertama kalinya kehilangan pasak dolarnya pada 22 Mei 2021. Menurut CoinMarketCap, hal ini berdampak pada stablecoin algoritmik Terra yang ikut kehilangan pasak dolarnya untuk pertama kalinya dan diperdagangkan seharga $0,95 selama dua hari.

Di tahun yang sama, hal yang menyebabkan Terra semakin ambruk mencapai puncaknya.

Pada Oktober 2021, Terra bergabung dengan Wormhole dan Cosmos IBC, yaitu jembatan chain yang memungkinkan pengguna memindahkan dana mereka ke blockchain lain.

Sehari setelah pengumuman Wormhole diposting di blog Terra, nilai total proyek terkunci (TVL) naik tipis di atas $ 5 miliar untuk pertama kalinya. Pada saat Terra bergabung dengan IBC, terdapat UST senilai $2 miliar yang beredar dan ekosistemnya memiliki aset senilai lebih dari $9 miliar.

Dengan memperhatikan semua hal yang tampaknya berjalan baik, Kwon mulai mengumpulkan Bitcoin di dompet cadangan. Dia mengatakan ingin memiliki Bitcoin senilai $10 miliar untuk mem-back up UST.

“Karena pasokan uang UST tumbuh, sebagiannya akan digunakan untuk membangun cadangan BTC yang dijembatani ke rantai Terra. Kami memiliki dana sekitar 3 miliar dolar yang siap untuk menyemai cadangan ini, tetapi infrastruktur teknisnya masih belum siap,”cuit Kwon pada Maret 2022.

Tepat sebelum Terra UST kehilangan patok dolarnya pada 9 Mei, cadangan Luna Foundation Guard Bitcoin telah tumbuh menjadi 42,5 BTC, pada saat itu bernilai $1,4 miliar. Tetapi ketika harga Bitcoin mulai menurun, UST kehilangan pasaknya dan pada akhirnya menyeret LUNA, tim TerraForm Labs, dan ribuan investor ke dalam kehancuran.

DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.