IMF Sebut Crypto Crash Tak Ganggu Sistem Keuangan Global

Share :

Portalkripto.com — International Monetary Fund (IMF) mengatakan, aksi jual kripto sejak Mei 2022 lalu hanya berdampak kecil terhadap sistem keuangan global. Diketahui industri kripto sejak itu dihantam likuidasi, kebangkrutan, dan kerugian yang menimpa sejumlah perusahaan seperti Celsius, Three Arrow Capital, dan Voyager Digital.

“Aset kripto telah mengalami aksi jual yang dramatis yang menyebabkan kerugian besar dalam investasi dan kegagalan yang dialami stablecoin algoritmik serta dana lindung kripto, tetapi dampak terhadap sistem keuangan (global) tidak terlalu besar,” tulis IMF dalam sebuah laporan berjudul Gloomy and More Uncertain, yang dirilis Juli 2022.

Pernyataan itu mengindikasikan bahwa justru guncangan sistem keuangan global yang bisa memberikan efek cukup besar bagi pasar kripto. Ditambah lagi efek The Fed yang semakin agressif dengan menaikan suku bunga 75 basis poin. Hal ini sedikitnya akan berdampak pada pasar kripto.

Analis kripto Elizabeth Gail memprediksi, nilai Bitcoin bisa kembali pulih setelah ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik bisa terselesaikan. Namun menurutnya tidak ada yang tahu kapan waktunya.

Meski demikian, kontra dengan pernyataan IMF, dalam sebuah laporan yang dirilis pada Juni lalu, European Systemic Risk Board mengatakan popularitas kripto yang terus tumbuh dapat menjadi potensi ancaman bagi pasar keuangan global.


Kamu Bisa Baca Artikel Lain:

The Fed Kembali Mengerek Suku Bunga, Bagaimana Prospek Bitcoin Cs?

Pemegang BTC yang Optimis Ambil Alih Posisi Investor Putus Asa


IMF sendiri juga telah menyerukan regulasi di sektor ini dan bahkan memperingatkan El Salvador untuk berhenti menggunakan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Ekonomi makro sedikit banyak memang telah ikut mempengaruhi pasar kripto. Volatilitas kripto dinilai masih akan terjadi terlebih The Federal Reserve diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga untuk menghentikan inflasi.

Dalam laporannya, IMF pun memprediksi adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Amerika Serikat (AS) disebut sudah masuk dalam jurang resesi sesaat setelah angka produk domestik bruto (PDB) di kuartal dua 2022 resmi diumumkan pada 28 Juli mendatang. Resesi bisa terjadi jika pertumbuhan PDB negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Laporan keuangan yang cukup mengecewakan dari perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Google, Apple, dan Meta, juga bisa memaksa investor untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.