🔥 HOT TOPIC :

Pemilik Wallet yang Picu Runtuhnya Terra UST Mulai Terkuak

Share :

Portalkripto.com — Runtuhnya stablecoin TerraUSD (UST) salah satunya diduga dipicu oleh transaksi blockchain dari wallet misterius. Perusahaan analisis blockchain asal Korea Selatan, Uppsala Security, menemukan fakta di balik keruntuhan jaringan tersebut dengan menganalisis sejumlah alamat wallet yang bertransaksi sebelum kejatuhan Terra.

Berdasarkan laporan tersebut Uppsala menemukan alamat “0x8d47f08ebc5554504742f547eb721a43d4947d0a” (yang disebut sebagai “Wallet A”) yang dicurigai  melakukan transaksi hingga membuat UST mengalami depegging dari $1.

Data blokchain menunjukkan, Wallet A menukar lebih dari 85 juta UST dengan stablecoin USDC pada 7 Mei 2022 lalu. USDC yang ada di Wallet A tersebut langsung dikirim ke bursa perdagangan Coinbase dan Binance.

“Serangkaian data on-chain mengungkap bukti yang menunjukkan fakta bahwa “Dompet A,” akun utama yang telah disorot sebagai penyebab utama ledakan Terra-Luna , sebenarnya mungkin dimiliki atau dikendalikan oleh Terraform Labs (TFL) atau Luna Foundation Guard (LFG) sendiri, atau pihak terkait,” tulis laporan yang dipublikasi pada 14 Juni 2022.

Aksi ini dilakukan beberapa menit setelah Terraform Labs menghapus lebih dari 150 juta UST dari platform pinjaman Curve. Sejak itu, harga UST langsung jatuh di bawah $1.

Wallet A(T) menyetor 108.251.326 UST ke dalam Memo: 104721486 pada 2022–05–07 dari 04:57 UTC hingga 21:40 UTC, hanya beberapa menit sebelum TFL menghapus $150 juta likuiditas UST dari platform Curve,” tulis laporan tersebut.

Dalam penyelidikan lebih lanjut, Upsala menemukan, dari riwayat transaksinya, Wallet A terlebih dahulu menerima 85 juta UST dari sebuah wallet Terra dengan alamat “terra1yl8l5dzz4jhnzzh6jxq6pdezd2z4qgmrdt82k”.

UST di blockchain Terra itu diubah menjadi UST di blockchain Ethereum melalui Wormhole, layanan exchange untuk menukar token dari satu blockchain ke blockchain lainnya.


Kamu Bisa Baca Artikel Lainnya:

Para Penjaga Bitcoin dan Misi Satoshi Nakamoto

Bitcoin Sempat Rebound di Atas $ 20 ribu, Tapi Laju Beruang Masih Kuat


Riwayat transaksi itu juga menunjukkan, Wallet A secara teratur mengirim UST dalam jumlah besar ke exchange kripto Binance. Uppsala menemukan, wallet tersebut bertransaksi dengan beberapa wallet Terra lainnya seperti “terra1gr0xesnseevzt3h4nxr64sh5gk4dwrwgszx3nw” (disebut sebagai terra1gr).

Ternyata terra1gr adalah salah satu wallet resmi Luna Foundation Guard (LFG), yang didirikan oleh Do Kwon dan petinggi Terraform Labs untuk menampung cadangan guna menjamin stablecoin algoritmik UST.

terra17p” di sisi lain, telah bertransaksi sebesar 100m LUNA secara total dengan “terra1gr”, yang menurut Tweet Terra diidentifikasi sebagai dompet LFG,  sehingga menciptakan tautan penghubung antara “terra13s” (LUNC DAO), “terra17p” dan “terra1gr” (dompet LFG),” tulisnya.

Menurut Uppsala, selain terra1gr, dompet Terra lainnya, yakni “terra13s4gwzxxx6dyjcf5m7” (disebut sebagai terra13s) baru-baru ini juga bertukar dana dengan wallet di Binance yang dapat ditautkan ke Wallet A.

Wallet terra13s sekarang menjadi salah satu wallet resmi LUNC DAO, validator dari Terra 2.0 blockchain Terra.

“Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan dana yang ditransfer ke dompet Binance dan Coinbase ini, apakah masih ada atau telah ditransfer ke tempat lain,” tulis Uppsala dalam laporan tersebut.

Investigasi mengenai semua wallet ini, koneksinya, dan transaksi berulangnya kepada satu sama lain membuat Uppsala menyimpulkan bahwa wallet tersebut memiliki pemilik yang sama atau dikelola oleh satu entitas, yang mengacu pada Terraform Labs.

“Tidak hanya Wallet A, wallet yang terhubung dengannya juga dikelola oleh Terraform Labs dan perusahaan terkait,” tambahnya.

Jika temuan ini benar, berarti penyebab UST ambruk adalah transaksi yang dilakukan oleh pemiliknya sendiri, yakni Terraform Labs. “Artinya Terraform Labs atau LFG melakukan transaksi keuangan yang menyebabkan Terra kolaps dengan sendirinya,” kata tim tersebut dalam laporannya.

Meski demikian, Uppsala tidak berani menuliskan motif atau alasan di balik transaksi-transaksi mencurigakan tersebut. Sementara petinggi Terraform Labs saat ini belum memberikan komentar.

“Kami menyusun laporan kami berdasarkan data on-chain dan online yang tersedia untuk umum, dengan tujuan memberikan bukti dan petunjuk untuk lebih dekat dengan kebenaran yang layak diketahui oleh anggota komunitas yang terkena dampak,” kata CEO Uppsala Patrick Kim kepada CoinDesk dalam sebuah pesan WhatsApp.

Laporan ini telah diserahkan kepada otoritas Korea Selatan. Saat ini Kantor Kejaksaan Distrik Selatan Seoul sedang melacak adanya dugaan aliran dana di wallet yang bermasalah dalam kasus runtuhnya UST.