Mata Uang Kripto Laku di Tiga Negara ini, Indonesia Masuk?

Portalkripto.com– Bukan Amerika, bukan juga negara-negara di Benua Eropa, mata uang kripto (cryptocurrency) ternyata paling banyak diminati oleh orang-orang dari negara di Afrika dan Asia.

Data dari Statista berjudul “How Common is Crypto?”, yang dipublikasikan ada 17 Maret 2021, menunjukan bahwa Nigeria dan Vietnam merupakan negara yang masyarakatnya memiliki pasar mata uang kripto yang paling besar.

Dari 74 negara dalam survei Konsumen Global Statista, orang Nigeria paling banyak yang mengatakan bahwa mereka menggunakan atau memiliki mata uang kripto.

Survei tersebut menunjukan bahwa dari 1000-4000 populasi masyarakat Nigeria sebanyak 32% mengatakan mereka memiliki mata uang kripto.

LIHAT JUGA: Bank Indonesia Rumuskan Rupiah Digital di Tengah Maraknya Bitcoin

Negara kedua yang masyarakatnya memiliki minat yang tinggi kepada mata uang kripto adalah Vietnam dan Philipina. Dalam survei tersebut Indonesia tidak tercatat. Ada kemungkinan survey tersebut tidak dilakukan pada orang Indonesia atau penduduk Indonesia masih belum banyak yang meminati aset digital ini.

Infographic: How Common is Crypto? | Statista You will find more infographics at Statista

Mengapa Mata Uang Kripto Laku di Afrika?

Penduduk di sebagian besar Benua Afrika, khususnya Nigeria, sangat tergantung pada pengiriman uang dan prevalensi pembayaran peer to peer. Tingkat kepemilikan nomor rekening bank konvensional di sebagian besar negara di Afrika pun sangat rendah.

Namun, di sisi lain tingkat kepemilikan smartphone penduduk Afrika melonjak sangat tinggi. Sehingga, dengan adanya mata uang kripto, sebagian penduduk di Nigeria dan negara di Afrika lainnya sangat terbantu.

LIHAT JUGA: Volume Pasar Saham Korea Selatan Hampir Tersaingi Oleh Lonjakan Transaksi Bitcoin

Selain itu, negara-negara di Afrika sangat rentan dengan ancaman hiperinflasi. Berdasrakan data dari World Bank, rata-rata tingkat inflasi di negara-negara Afrika cukup tinggi. Terutama di negara Sudan, Mesir, Ghana, Malawi, Mozambique, Nigeria, Zambia dan Zimbabwe

Sedangkan, berdasarkan data dari United Nation (UN) dalam artikel yang berjudul Africa could be the next frontier for cryptocurrency, dipublikasikan di un.org, menyatakan selama tahun 2020, transfer cryptocurrency dalam sehari di Afrika senilai US$ 10.000.

Warga negara perorangan dan usaha kecil yang berlokasi di Nigeria, Afrika Selatan, dan Kenya menyumbang sebagian besar aktivitas perdagangan ini.

Populasi pemegang Mata Uang Kripto di Indonesia

Sebagai salah satu negara dengan jumlah populasi terbanyak di dunia, peminat  uang kripto di negara ini masih terbilang rendah. Namun, setiap tahunnya total nilai perdagangan kripto di Indonesia semakin bertambah. 

Pada platform exchanges terbesar di Indonesia, Indodax, jumlah pemilik aset kripto di negara ini berjumlah kurang lebih 2,7 juta. Sedangkan, dalam sehari, rata-rata uang rupiah yang berputar di exchanges tersebut rata-rata Rp 1,1 triliun.

Berdasarkan data dari GlobalWebIndex, di tahun 2020, sebanyak 11% dari total populasi Indonesia memiliki aset kripto. 

 

ARTIKEL TERKAIT:

Harga Bitcoin Awalnya Rp 14 ribu, Sekarang hampir Rp 1 Milyar, Kok Bisa?

 Tren Bitcoin Terus Meroket, Jauh Meninggalkan Emas

Survey JPMorgan: Pembelian Bitcoin oleh Investor “Eceran” Meningkat Drastis

 

UNTUK ANALISA DAN TEKNIKAL KRIPTO KLIK INI

 

Disclaimer:

Perdagangan atau investasi digital asset atau mata uang kripto (Bitcoin, Ethereum, dll) merupakan aktivitas beresiko tinggi. Sebelum memutuskan untuk mulai berinvestasi ketahui dulu resikonya. Perdagangan Digital Asset sebaiknya dilakukan pada platform exchange yang terdaftar di Bappebti.

Kami tidak memaksa Anda untuk membeli atau menjual aset digital ini, sebagai investasi, atau aksi mencari keuntungan. Pahami dulu lebih dalam sebelum memutuskan berinvestasi mata uang kripto.